Pasar Tani Banjarsari, Kembangkan Pembangunan Ekonomi Adaptif

oleh
Pasar Tani di Kantor Kecamatan Banjarsari, Jumat (01/4/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Pemulihan ekonomi di Kota Solo terus dilakukan, salah satunya di Kecamatan Banjarsari yang ketiga kalinya mengadakan Pasar Tani guna meningkatkan perekonomian melalui pemberdayaan masyarakat, Jumat (01/04). Merupakan agenda rutin yang dilaksanakan selama dua kali dalam dua pekan, pasar tani digelar untuk memasarkan produk yang dihasilkan dari kelompok tani di sejumlah kelurahan yang ada di Kecamatan Banjarsari.

Camat Banjarsari, Beni Supartono Putro mengatakan kelompok tani di Kecamatan Banjarsari mempunyai progress yang baik dan sudah mendapatkan anggaran dari Pemerintah Kota Solo untuk memaksimalkan produksi pertanian. Melalui pemberdayaan  masyarakat kelompok tani yang ada, kegiatan ini akan terus berlanjut.

“Kami berharap kegiatan pemberdayaan masyarakat salah satunya melalui kelompok tani yang memasarkan hasil produksinya di Pasar Tani ini tidak berhenti disini saja. Kami ingin keberadaan kelompok tani tidak hanya ada saat lomba atau pun momen tertentu. Sehingga kami berharap ini dapat memiliki peran dalam peningkatan perekonomian. Sehingga keberlanjutan terhadap produk yang dihasilkan akan tetap ada,” tutur Beni Supartono, Jumat (01/04/2022).

Menjadi langkah awal untuk persiapan program 2023 di Pondok Boro,Embung Tirtonadi yang merupakan aset Kecamatan Banjarsari. Solo Utara kedepannya direncanakan menjadi sentra oleh-oleh untuk menyambut kunjungan para wisatawan yang datang.

“Untuk persiapan program 2023 mendatang, diharapkan kelompok wanita tani itu bakal terbiasa untuk menghasilkan produk. Sehingga nantinya dalam program pembangunan itu mereka yang akan mengisi sentra oleh-oleh,” Ungkapnya.

Beni menyebut Wali Kota Solo, Gibran antusias dengan program pembangunan sentra oleh-oleh di 2023. Disebutkan Beni, skala pembangunan pengembangan ekonomi adaptif dan berkelanjutan.

Permasalahan petani kota adalah lahan garapan, minimnya lahan yang dimiliki membuat jumlah petani juga tidak banyak. Menanggapi hal itu, Beni menuturkan selama ini permasalahan tersebut masih bisa diatasi dengan alternatif lain seperti pemanfaatan halaman maupun jalan.

“Tidak semua KWT tidak punya lahan. Terdapat KWT yang memiliki lahan sendiri untuk mereka manfaatkan sebagai media bercocok tanam. Pertanian tidak harus mempunyai lahan yang luas. Sehingga dengan hadirnya semoga dapat menjadi contoh konkret bagi masyarakat lain,” tambahnya.

Stand pasar tani diisi berbagai macam budidaya tanaman serta oalahan hasil budidaya tanaman oleh kelompok wanita tani. Selain itu terdapat pula stand Pedaringan bahan makanan pokok yang tidak dihasilkan oleh kelompok tani.

“Kami membuka pasar, menyiapkan tempat, mendatangkan orang kemudian akan kami rutinkan disetiap minggu kedua dan keempat untuk masyarakat bisa memasarkan produk kelompok taninya ke masyarakat lain. Kami memberikan dorongan agar kelompok tani yang ada bisa menghasilkan produk dari hasil budidaya tanaman,” ungkapnya.

Produk pertanian seperti bibit, sayuran dan olahan pupuk menjadi titik pengoptimalan pertanian di perkotaan. Bagaiamana dengan hanya memanfaatkan lahan yang ada, masyakarat bisa tetap bertani dan menghasilkan produk pertanian.