KARANGANYAR, MettaNEWS – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menggelar pameran Kampung Purba “Jejak Peradaban Prasejarah di Nusantara” secara gratis di gedung De Tjolomadoe, Karanganyar pada 12-24 September 2022.
Pameran “Kampung Purba” ini merupakan refleksi rekonstruksi kehidupan masa prasejarah dalam bentuk kampung yang terbagi dalam beberapa klaster. Kampung sebagai tujuan ketika pulang dalam mencari tahu dari mana asal usul dan mengenal diri sendiri merupakan makna dalam pemilihan kata “Kampung” dari pameran purba.
Pamong Budaya Ahli Muda Permuseuman BPSS Sangiran, Duwi Ningsih mengatakan pameran ini merupakan bentuk kolaborasi untuk menampilkan masterpiece koleksi kami agar masyarakat bisa menggali pengetahuan peninggalan pra sejarah atau purba lebih mudah dan menyenangkan.
“Yang ditampilkan kalau dari Sangiran homo florensiensis kemudian ada mumi dari Makassar, kemudian musium biologi banyak koleksi luar biasa juga dari BPMD Yogyakarta, ada praktek pembuatan gerabah juga,” kata Duwi kepada MettaNEWS, Selasa (20/9/2022).
“Adek-adek bisa ikut mewarnai meraskaan bagaimana membuat gerabah dan mereka antusias untuk hal tersebut,” imbuhnya.
Melalui pameran ini, pihaknya ingin menarik minat anak muda untuk mempelajari jejak-jejak peradaban manusia purba. Salah satu item yang menarik yakni mumi Mamasa yang ditemukan di Kapubapetn Polmas ketika terjadi banjir bandang tahun 1995.
Agar awet di dalam kotak, mumi ini diawetkan dengan fotmal dehida, sikikagel dan akar wangi untuk mencegah jamur dan bakteri.
“Sebenarnya kita ingin mendekatkan kepada masyarakat bahwa kita Indonesia memiliki kekayaan luar biasa, baik dari arkeologis maupun hal lainnya dari tradisi,” terangnya.
Pameran Kampung Purba jauh dari kata membosankan. Meruntut pada Museum Sangiran, pameran dibuat sedinamis mungkin dengan perpaduan pra sejarah dengan teknologi.
“Kalau ini jelas yang membedakan dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia koleksinya, kalau per museum kan misalnya kalau di Sangiran temuan yang ada di sekitar Sangiran, museum nasional juga harus ke sana. Makanya kita kumpulkan jadi satu agar masyarakat bisa mendapatkan di satu tempat untuk menikmati hal tersebut,” bebernya.
Sejak dibuka pada 12 September lalu, antusias pengunjung mencapai ribuan orang setiap harinya. Terlebih pihaknya juga bekerjasama dengan Dinas Pendidikan untuk menggerakkan sekolah untuk datang ke pameran.
“Selain itu pengunjung umum juga sama antusiasnya. Karena bukanya kan juga lama dari jam 9 pagi sampai jam 8 malam. Semua bebas, silakan, dan kami ada banyak publikasi yang dibagikan untuk pengunjung, free juga,” jelasnya.
Tersedia buku pra sejarah maupun Museum Sangiran yang dibagikan secara gratis. Sehingga pengunjung yang datang dapat membawa buah tangan berupa bentuk fisik sebuah karya tulis.
”Jadi sekalian kita bawa semua koleksi kita dari buku anak-anak, komik, jurnal ilmiah, katalog museum per klaster, dan masih banyak lagi seperti BPSMP Sangiran,” katanya.
Sementara itu, pengunjung asal SMP Angkasa Lanud Adi Soemarmo Karanganyar, Titian Kirana Putri (14) merasa tertarik untuk berkunjung ke Pameran Kampung Purba.
“Yang menarik karena ini museum purba kita bisa mempelajari sejarah tentang peradaban manusia juga masa pra sejarah,” terang siswa yang duduk di kelas 9 SMP itu.
Sejak kecil Titian terbiasa berkunjung ke museum salah satunya yang berada di Gilingan Solo. Beranjak remaja ia juga kerap mengunjungi museum Lanud Adi Soemarmo, Karanganyar.
“Kalau ke Sangiran langsung sih belum jadi baru ke museum purba ini sama Gilingan. Kalau kesannya menurut saya sangat menarik karena bisa langsung belajar biasanya kan hanya teori di mata pelajaran geografi sama sejarah jadi ini unik,” terangnya.
Baginya tak semua museum menyediakan fasilitas rinci seperti halnya di Pameran Kampung Purba di De Tjolomadoe. “Di tiap item juga ada tulisannya jadi sangat jelas tentang asal usul maupun tahunnya,” pungkasnya.








