SOLO, MettaNEWS – Keraton Kasunanan Surakarta membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin bergabung sebagai relawan Save Keraton.
Gerakan Save Keraton ini merupakan gerakan kepedulian dengan anggota masyarakat umum untuk bersama-sama membantu membersihkan area Keraton Surakarta.
Ketua Lembaga Dewan Adat GKR Koes Moertiyah atau yang akrab disapa dengan panggilan Gusti Moeng ini menjelaskan gerakan resik-resik sebagai persiapan Keraton yang mulai membuka kembali Museum Keraton bisa dikunjungi oleh wisatawan.
“Ini kan persiapan besok itu, keraton sudah mulai membuka untuk turis yang lewat museum. Yang pastinya nanti juga melewati halaman di dalam Keraton Surakarta,” tutur Gusti Moeng di Museum Keraton Surakarta, Jumat (6/1/2023).
Gerakan Save Keraton dengan menggandeng relawan ini sebetulnya terbentuk dari tahun 2021.
“Yang paling utama bagi kami ini tidak hanya sekedar tontonan tapi inikan membawa sejarah panjang ke belakang yang perlu untuk pembelajaran masyarakat sekarang dan diketahui sejarah keraton itu selama 200 tahun menjadi pusat pemerintahan di Jawa,” paparnya.
Adik dari PB XIII ini menyampaikan terima kasih atas kepedulian masyarakat untuk ikut merasa memiliki Keraton Surakarta.
“Ini sangat luar biasa dan saya sangat berterima kasih sama mas-mas dn mbak-mbak yang sudah membantu untuk membersihkan lingkungan keraton yang perlu dibersihkan.
“Dari sini terlihat kalau masyarakat masih peduli dengan keraton. Saya melihat bahwa sebetulnya masyarakat itu sangat peduli dengan keadaan keraton,” kata.Gusti Moeng.

Sementara itu, abdi dalem bedaya yang juga sebagai salah satu penanggung jawab relawan Keraton Surakarta, Warna Uneputty menjelaskan relawan save keraton kembali aktif mulai 26 Desember 2022 lalu.
“Relawan ini memang kehendak dari Gusti Wandansari (Gusti Moeng) untuk melibatkan masyarakat umum untuk turut andil gitu. Dari Gusti Wandan sendiri menyampaikan keresahannya bahwa cagar budaya itu memang bukan tanggung jawab personal tapi tanggung jawab semua.masyarakat,” ungkap Warna di sela-sela aktivitas bersih-bersih relawan.
Warna mengungkapkan total ada 50 an lebih relawan Save Keraton yang mendaftar dan sebagian sudah menjalankan perannya.
“Relawan membersihkan area dalam seperti area museum, bangsal Semarakata, pelataran, kori Sri Manganti dan keputren. Untuk area yang privat seperti keputren kita dampingi,” jelasnya.
Dengan gerakan yang didukung relawan ini Warna menyebut sangat membantu pihak Keraton Surakarta.
“Keraton sebesar ini juga butuh bantuan banyak pihak. Apalagi melihat antusiasme teman-teman relawan yang sangat peduli pada keraton terutama anak-anak muda. Mereka ikut andil menjaga, merawat dan melestarikan kekayaan budaya milik bangsa Indonesia,” tandasnya.
Salah seorang relawan, Gabriela dari SMA 1 Tawangsari Sukoharjo terlihat bersemangat membersihkan koridor selasar museum Keraton Surakarta.
Gabriela menjelaskan ia langsung mendaftarkan diri sebagai relawan Save Keraton lewat postingan Instagram.
“Kalau weekend kan sekolah libur jadi pengen ikut kegiatan. Ingin ikut bantu dan bersih-bersih. Rasanya senang kami sebagai orang awam bisa jadi bagian ikut merawat dan melestarikan keraton,” ungkapnya.









