Menengok Monumen Pesawat AURI di Taman Jurug, Saksi Sejarah yang Kesepian

oleh
oleh
pesawat TSTJ
Pesawat Vultee BT-13 milik TNI AU yang berada di TSTJ | Metta News / Kevin

SOLO, Metta NEWS – Masih ada yang ingat di Taman Satwa Taru Jurug ada pesawat terbang? Tempatnya di area Taman Gesang, hanya beberapa jengkal dari aliran Bengawan Solo. Meski masih dirawat dengan baik, lokasinya membuat pesawat yang pernah menjadi kekuatan awal Angkatan Udara Republik Indonesia (kini TNI AU, red) itu tampak kurang sesuai dengan lingkungannya.

Pesawat bertipe Vultee BT-13 Valiant ini pernah menjadi kekuatan awal AURI. Tak lama setelah memberikan pengakuan pada kedaulatan Republik Indonesia di tahun 1950, Belanda menghibahkan sejumlah pesawat terbang.

Jos Heyman dalam bukunya Indonesian Aviation 1945-1950, menyebut jumlah pesawat yang diserahkan Belanda saat itu berjumlah 297 pesawat. Dari jumlah itu terdapat 46 unit Vultee BT-13.60. Pesawat tersebut merupakan pesawat latih dasar buatan Amerika Serikat yang banyak digunakan pada era Perang Dunia II.

Direktur Utama Taman Satwa Taru Jurug, Bimo Wahyu Widodo menyebut, monumen pesawat itu sudah lama ada, dan merupakan aset titipan dari TNI AU.

“Sudah sangat lama di sana, kami juga terus merawatnya supaya tidak rusak,” jelasnya.

Sejumlah warga Solo masih bisa mengingat, monumen pesawat itu sebelum diletakkan di Jurug, semula ada di Taman Sriwedari. Posisinya berada tepat di jalur masuk setelah pintu gerbang, di depan rumah makan Pak Amat yang kala itu sangat populer.

Pada tahun 1983, Pemerintah Kota Solo memindahkan kebun binatang di Sriwedari ke Jurug. Monumen pesawat itu kemudian ikut dipindahkan ke sana.

“Ini kan sudah ada investor yang masuk ke TSTJ dan konsepnya akan diubah, jadi mau saya tanyakan ke TNI AU arep dipindahkan atau digimanakan. Yang namanya barang titipkan harus ditanyakan tha,” ujar Bimo. 

Pengelola TSTJ selama ini tetap merawat pesawat latih tersebut. Dengan adanya investor dan pengembang dari Taman Safari Indonesia ini, Bimo mengatakan pihaknya akan berdiskusi dengan beberapa pihak mengenai pesawat tersebut. 

“Selama ini kita rawat, kita bersihkan. Nanti akan kita diskusikan dengan Taman Safari Indonesia itu perlu dipindah tidak, atau bagaimana. Kalau dipindah ya saya lapor ke TNI AU. Atau mau dipindah keluar atau bagaimana nanti kita bahas dengan TNI AU,” papar Bimo. 

Bimo menyebut selama belum ada keputusan dari Taman Safari dan TNI AU, pengelola TSTJ tetap akan merawat pesawat latih bersejarah tersebut.