Martabak Spesial Putra Malabar, Camilan Legendaris Sekaten Solo Sejak 1980

oleh
Sekaten
Budi (55) mulai membuat martabak spesial Putra Malabar di Pasar Malam Sekaten Alun-alun Utara Keraton Surakata | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Martabak spesial Putra Malabar jadi salah satu makanan legendaris Pasar Malam Sekaten Keraton Surakarta. Berlokasi di Alun-alun Utara (lor), martabak yang satu ini tak pernah absen di gelaran Sekaten Solo sejak 1980-an.

Martabak spesial Putra Malabar menghadirkan 3 varian isi yakni jamur, daging ayam cincang dan telur asin. Harganya pun berbeda-beda tergantung ukuran dan isian mulai dari Rp 7.000 hingga Rp 45.000.

Budi (55) mengatakan martabak miliknya memiliki perbedaan di bumbunya yang khas nan harum mampu menarik rasa penasaran pengunjung. Maka tak heran jika martabak miliknya selalu dirindukan oleh masyarakat Solo. 

“Ini resep rahasia dari nenek tetap saya pertahankan. Saya ini sudah canggah. Asli saya Pajang Laweyan sebelah barat batik keris. Biasanya juga jualan di sana kalau nggak Sekaten,” kata Budi kepada MettaNEWS, Senin (10/10/2022).

Martabak
Martabak spesial Putra Malabar di Pasar Malam Sekaten Alun-alun Utara Keraton Surakarta | MettaNEWS / Adinda Wardani

Tekstur yang renyah di luar dan lembut di dalam membuat siapa saja akan menyukai martabak gurih Putra Malabar. Martabak ini mulai dijajakan mulai pukul 08.00 pagi hingga 23.00 malam. Dalam sehari Budi menghabiskan 20 kilogram adonan untuk martabaknya.

“Martabak ini terkenalnya seperti itu enak, dari dulu pas masih harga Rp 500 sampai, sekarang Rp 7.000 yang harga mininya. Nah kalau yang besar ya lebih kelipatannya. Dulu satu porsi masih Rp 5.000, sekarang sampai Rp 15.000,” terang Budi.

Tidak hanya martabak, Budi juga menjajakan jajanan lain seperti donat, onde-onde ketawa, pisang molen dan tahu petis mulai dari Rp 1.000 per biji.

“Kalau penggemar sih sesuai selera. Kalo di daerah luar kota itu ya nyarinya onde-onde ketawa itu namanya gelek. Kalo yang Solo carinya tahu petis sama martabak,” kata Budi.

Perbedaan Sekaten dari Tahun ke Tahun

Dibandingkan di masa silam, menurut Budi euforia Sekaten tahun ini masih dirasa kurang, pun sudah absen selama dua tahun lantaran pandemi. Mahalnya harga stan yang diterapkan event organizer jadi sebab banyaknya pedagang martabak yang memilih absen berjualan di Sekaten.

“Di sini biasanya ada 5 penjual martabak, disebelah selatan itu ada 3, utara itu ada 15 sekarang ndak ada semua. Nggak cuma pedagang martabak kayak arum manis, kerak telur itu kan banyak yang absen juga. Mungkin karena tempatnya terlalu mahal,” jelasnya.

Pendapatan Budi juga tak menentu, ia mengaku sepinya pengunjung membuat penjualannya menurun.

“Pendapatannya ya jauh, mungkin faktor perkembangan ekonomi belum sepenuhnya pulih. Kalau dulu kan apa-apa masih murah, sekarang kan lebih mahal, mungkin itu,” katanya.

Menurutnya harga sewa stan tahun ini juga terlalu mahal. Dulunya ia hanya dikenakan tarif Rp 150.000 hingga Rp 200.000. Untuk saat ini harga bisa tembus Rp 2,5 juta hingga Rp 7 juta.

“Yang dulu-dulu penerangan sendiri, Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu itu cuma harga lapak aja tenda bawa sendiri. Kalau sekarang dari pihak panitia menyediakan tenda, fasilitas yang VIP juga ada jadi harganya lebih mahal. Kalau bisa milih saya pilih seperti dulu sebelum pandemi saja cuma sewa lapak,” kata Budi.