SRAGEN, MettaNEWS – Tergerak untuk memberdayakan masyarakat di kampung halamannya, seorang perajin asal Kecamatan Masaran, Sragen membuat kerajinan tas anyaman berbahan jali-jali. Usaha yang dibangun sejak 1999 silam ini mampu menembus pasar luar negeri seperti Singapura Korea, Jepang, Australia dan Belanda. Dari usaha yang ia geluti, saat ini ia mampu memperkerjakan masyarakat di tempat tinggalnya sebanyak lebih dari 100 orang.
Ia adalah Nur Handayani, mempunyai niat baik yakni menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat ditempat tinggalnya, Nur mulai merintis usaha. Dengan menggunakan alat sederhana yaitu gunting dan bahan anyaman, tangan terampilnya mulai membuat kerajinan tas. Ia mulai mengenalkan kerajinan tasnya dari acara arisan RT di desanya. Nur mulai memperkenalkan dan menggelar pelatihan kerajinan tas anyamannya kepada 20 orang yang hadir. Namun dari jumlah tersebut, hanya ada 3 orang yang mahir menerapkan ilmu yang ia ajarkan.
“Waktu pelatihan yang bisa membuat kerajinan akhirnya hanya 3 orang, terus getok tular akhirnya yang bisa buat kerajinan sampai 10 kampung lebih di Masaran ini,” ujar Nur Handayani saat ditemui di Azalea industri kerajinan tas, Sabtu (19/03/2022).
Jika dulunya tas anyaman berbahan jeli-jeli hanya digunakan untuk keperluan membawa barang saat pergi berbelanja, Nur bisa mengubahnya menjadi barang bernilai guna yang tinggi melalui pengenalan hasil karya kerajinan lokal berupa tas anyaman berbahan jeli-jeli, embos dan magelangan. Untuk harga yang ia jual mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 100.000. Saat ini tempatnya mampu memproduksi tas sebanyak 300 hingga 500 unit.
Untuk memperkenalkan ke masyarakat, Nur mengikuti berbagai pameran termasuk pameran pertamanya di The Park Mall Solo Baru. Hasil kerajinan yang ia pamerkan ternyata dilirik oleh Marketing The Park Mall hingga mulai digunakan oleh sejumlah pekerja kantor. Dimulai dari situ, kerajinan tas miliknya mulai dikenal luas. Hingga pada tahun 2006, kelompok penganyam dibawah bimbingan Nur mampu mendapatkan juara 1 pada lomba Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS).
Setelah usahanya berjalan, Nur mulai mencari cara untuk menaikkan nilai jual yang dapat meningkatkan taraf hidup karyawan melalui kenaikan upah. Akhirnya ia mulai meningkatkan desain tas kerajinan miliknya dengan kombinasi motif batik, kulit hingga pemberian puring. Seiring berjalnnya waktu, ia mulai melihat peluang lain yang bisa didapatkan dari motif Magelangan. Motif ini memiliki nilai jual dua kali lipat.
Awal pemasaran ia lakukan ke beberapa pasar di daerah Masaran namun upah yang ia dapatkan minim. Sehingga Nur mulai beralih ke penjualan online melalui pemanfaatan marketplace. Dari penjualan tersebut, hasil kerajinannya dapat menembus pasar luar negeri. Sistem kerja usahanya pun fleksibel, yakni para karyawan tidak hanya bisa bekerja di tempat industri, melainkan dapat bekerja dari rumah masing-masing.








