MADIUN, MettaNEWS – Indonesia patut berbangga. Pasalnya bola yang digunakan dalam pertandingan Piala Dunia Qatar 2022 merupakan hasil anak bangsa.
PT Global Way Indonesia (GWI) di Kabupaten Madiun Jawa Timur secara resmi memproduksi bola yang diberi nama Al Rihla tersebut.
Dikutip dari laman kemlu.go.id, Adidas memercayakan Indonesia’s Global Way untuk memproduksi bola Al Rihla. Bola buatan anak bangsa ini telah diimpor ke berbagai negara seperti Uni Emirat Arab, Jerman, Inggris, Amerika Serikat, dan Brasil.
Al Rihla memiliki desain panel yang terinspirasi dari Dhow Boat tradisional dan memiliki pola solid berwarna biru, merah dan kuning, yang mewakili lanskap di Doha, Qatar.
Selain itu, Al Rihla adalah bola Piala Dunia pertama yang dibuat secara eksklusif dengan tinta dan lem berbahan dasar air.
Sejak awal, PT GWI merupakan perusahaan yang hanya memproduksi barang ekspor perlengkapan olahraga, termasuk bola. Namun sayangnya mereka tidak memproduksi untuk kebutuhan di dalam negeri.
Melansir dari FIFA.com, bola Al Rihla miliki teknologi baru bernama Semi-Automated Offside Technology (SAOT). Bola ini dapat terkoneksi dengan wasit sehingga akan sangat membantu saat laga berlangsung.
SAOT akan digunakan untuk pertama kalinya dengan VAR di Piala Dunia 2022 ini. Adapun Al Rihla, dengan sensor gerak Inertial Measurement Unit (IMU) yang ada di alamnya, akan memainkan peran penting untuk menentukan offside terjadi atau tidak.
Untuk menentukan offside, bola ini akan mengirimkan data ke ruang operasional video untuk menentukan di mana titik bola secara presisi. Bola dan sensornya itu, dibantu dengan ditambah dua belas kamera pemantau di stadion.
Memadukan data pelacakan anggota badan pemain dan bola melalui kecerdasan buatan, teknologi baru ini secara otomatis memberi tahu jika pemain menerima bola di posisi ilegal.
Tim wasit kemudian secara manual memeriksa untuk menguatkan keakuratannya sebelum melaporkannya ke wasit utama dan mengambil keputusan.
“Kami memulai teknologinya setelah Piala Dunia di Rusia, mengujinya di stadion, di turnamen FIFA. Kami senang dengan hasilnya,” cetus FIFA Director Football Technology & Innovation Johannes Holzmuller.
FIFA mengklaim proses ini bisa terjadi dalam hitungan detik, yang membuat keputusan offside bisa muncul dengan lebih cepat dan akurat. Data yang direkam dari kamera termasuk posisi bola juga dipakai untuk menciptakan animasi yang kemudian bisa ditayangkan dalam siaran ulang di stadion ataupun tayangan di televisi.







