SOLO, MettaNEWS – Festival musik Solo City Jazz (SCJ) hari pertama akan digelar Jumat (14/10/2022) mulai pukul 19.00 WIB. Bertempat di Keraton Surakarta 8 musisi Tanah Air seperti Aditya Ong Trio, Peni Candra Rini, Rio Morena feat Latin Groove, Alonzo Brata dan Barry Likumahuwa, Bagus Pramono dan Jenod bakal menghibur warga Solo malam nanti.
Ketua Solo City Jazz, Wenny Purwanti mengatakan pihaknya ingin mengusung nuansa berbeda pada pelaksanaan SJC tahun ke-11 dengan menonjolkan haritage Kota Solo yakni Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran sebagai lokasi venue SCJ.
“Konsep Solo City Jazz pengin sesuatu yang unik ingin menonjolkan haritage kota tidak hanya dari penampilan saja, contohnya seperti tahun 2019 lalu mengkolaborasikan jazz dengan Kampung Batik Laweyan dan Kauman ada fashion dari Rori Wardana, pernah di kereta Jaldara maupun pasar, pokoknya apa yang menjadi kebanggaan Kota Solo, selalu konsepnya di situ,” kata Wenny kepada MettaNEWS, Jumat (14/10/2022).
Dipilihnya Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran merupakan keputusan tepat bagi Wenny. Menurutnya dua lokasi ini mampu menggambarkan event Solo City Jazz dan juga Kota Solo yang tenang nan indah.
“Solo itu indah ada Pura Mangkunegaran dan Keraton Surakarta ini konsep awal saya membuat Solo City Jazz, konten saya sengaja buat lebih banyak kolaborasi antara musisi Kota Solo dan kota lainnya, banyak dari Indonesia Timur Papua, Andre Hanusa, Ambon, Manado, mari kita perkenalakan Solo ke Indonesia Timur salah satu keinginan saya,” terang Wenny.
Pun dengan pemilihan musisi yang mengisi SCJ, Wenny mengungkapkan keinginannya untuk membangun kolaborasi antar musisi Solo dengan musisi luar khususnya musisi Indonesia Timur. Tak lain hal ini bertujuan untuk mengenalkan Solo ke Indonesia Timur.
Kecintaanya akan Kota Solo yang juga merupakan kota kelahirannya membuat Wenny mengadakan event Solo City Jazz 13 tahun silam. Dikatakan Wenny, ia ingin menciptakan event musik yang dapat menggabungkan kolabotasi antar maestro.
“Saya cinta Kota Solo saya lahir di sini walaupun besar di Jakarta maka saya buat SCJ ini. Untuk malam nanti ada kolaborasi dengan maestro Solo sebagai konsep tontonan, konsep haritage tetap kita masukkan untuk tanggal 14 bukan full riging lighting lebih ke elegan Solo yang tenang suasana keraton pakai lampu minimalis dengan musik akustik,” terangnya.
Wenny mengkonsep SCJ yang berlokasi di Keraton Surakarta dengan begitu elegan. Dikonsep tanpa full rigging maupun lighting, Wenny ingin SJC mampu menyuguhkan ketenangan ke penonton lewat lampu minimalis dan musik akustik.
Sebagai informasi rigging stage merupakan salah satu jenis panggung yang biasa digunakan di dalam konser musik dengan ketinggian panggung sekitar 1-1,5 meter. Berbeda dengan konsep Keraton Surakarta yang tanpa full rigging, venue Pura Mangkunegaran dibuatnya lebih tinggi.
Selain ketentuan panggung yang disetting sedemikan rupa, Wenny ingin menciptakan ketenangan SCJ lewat bunga.
“Rigging hanya di pamedan (Pura Mangkunegaran) agak beda tapi secara keseluruhan dua-duanya tidak terlepas dari Kota Solo dan sama-sama menunjukkan keunikan masing-masing. Untuk menonjolkan ketenangan Kota Solo nanti akan ada bunga berbau wangi seperti bunga bokor,” jelasnya.
Festival musik Solo City Jazz yang sempat terhenti lantaran pandemi Covid-19 membuatnya harus memutar otak. Termasuk dalam mempersiapkan SCJ ke-11 selama empat bulan lamanya. Untuk itu Wenny ingin SCJ tahun ini dapat membekas.
“Di SCJ ini musisi Solo dan Jakarta kita kolaborasi, nah ini yang jadi tantangan karena mereka berasal dari daerah yang berbeda. Ini merupakan langkah awal kami, dan sulitnya mereka harus latihan saling menyesuaikan. Inilah indahnya Solo City Jazz,” katanya.
“Kalau persiapan SCJ kita mulai dari April awalnya setelah dua tahun pandemi
diizinkan, tapi fix bulan Juli jadi persiapannya Juli-Oktober, lalu setelahnya kami buat pemilihan tempat baru artis, supaya sesuai,” tukasnya.







