NAGOYA, MettaNEWS – Di balik layar, sekitar 30 mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Nagoya turut memastikan kebutuhan kontingen terpenuhi, mulai dari pencarian markas, akomodasi hotel, hingga layanan penerjemah.
Di tengah kesibukan mendampingi kontingen, para mahasiswa tetap menjalankan aktivitas akademik dan menyelesaikan riset di kampus. Mereka membagi waktu secara bergantian agar dukungan kepada atlet dan tim ofisial Indonesia tetap berjalan tanpa mengabaikan kewajiban kuliah.
Ketua PPI Nagoya, Flady Faliyenco Franggaratz Abubakar Pae, mengatakan keterlibatan mahasiswa dimulai jauh sebelum kontingen tiba di Jepang. Mereka mendampingi tim Chef de Mission (CdM) untuk mencari lokasi headquarter atau markas yang akan menjadi pusat koordinasi seluruh kontingen Indonesia di Nagoya.
“Pertama, kami harus menemani CdM untuk mencari lokasi headquarter yang pas. Karena ini strategis sekali, akan menjadi base camp untuk seluruh tim. Jadi kami perlu memastikan aksesnya bisa cepat dan juga efisien,” kata Flady, Jumat (16/10/2026).
Pilihan akhirnya jatuh pada Gedung Meitetsu lantai 9 yang kini menjadi pusat koordinasi kontingen Indonesia selama mengikuti Asian Para Games 2026.
Pastikan Akomodasi Ramah Atlet Disabilitas
Tugas PPI Nagoya tidak berhenti pada pencarian markas. Para mahasiswa juga membantu mencarikan warga lokal yang dapat mendukung operasional tim CdM, menyediakan layanan penerjemah, serta mengurus kebutuhan akomodasi hotel.
“Kami juga mencari warga-warga lokal yang nantinya akan membantu tim CdM selama berada di Nagoya. Kami juga membantu dari segi interpreter dan juga untuk akomodasi hotel bagi teman-teman di CdM. Kami juga perlu memastikan semua aksesnya terhubung dengan cepat,” ujar Flady.
Mahasiswa doktoral di Nanzan University Nagoya itu bukan orang baru dalam mendukung kegiatan institusi Indonesia di Jepang. Selama tujuh tahun tinggal di Nagoya, ia mengaku telah terlibat dalam sekitar 20 kegiatan dari berbagai institusi, baik di Nagoya, Osaka, maupun Tokyo.
Sebelum membantu kontingen Asian Para Games 2026, Flady juga pernah bertugas di Rumah Indonesia saat Asian Games 2026 di Nagoya.
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting, terutama dalam memastikan kebutuhan atlet disabilitas dapat terpenuhi. Menurut Flady, meskipun Jepang dikenal memiliki fasilitas yang relatif ramah bagi penyandang disabilitas, sejumlah detail tetap perlu diperiksa secara langsung.
“Jepang memang terkenal sebagai negara yang sudah sangat accessible untuk penyandang disabilitas. Namun ada beberapa hal kecil yang perlu kita perhatikan, misalnya di trotoarnya, lalu di restorannya, apakah ada area khusus untuk kursi roda, apakah sudah ada elevator-nya,” jelasnya.
Kamar hotel menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus. PPI memastikan ukuran pintu dan ruang gerak di dalam kamar cukup untuk dilalui kursi roda.
“Jepang juga terkenal sempit, jadi kamar hotel pun biasanya sempit. Nah, ini kami perlu pastikan dengan ukuran kursi roda. Kami sesuaikan, kami ukur pintunya supaya pasti bisa masuk dengan kursi roda,” katanya.
Para mahasiswa juga memperhitungkan akses kendaraan, perpindahan antarlantai, hingga waktu tempuh dari satu lokasi ke lokasi lain. Pemeriksaan tersebut dilakukan agar mobilitas atlet dan ofisial dapat berlangsung efisien.
Riset Malam Hari, Bantu Kontingen Bergantian
Di balik kesibukan tersebut, para mahasiswa tetap harus menyelesaikan tanggung jawab akademik. Flady, misalnya, memanfaatkan waktu malam untuk mengerjakan riset setelah tugas pendampingan kontingen selesai.
“Biasanya riset kita malam. Setelah semua tugas selesai, malam kita riset, lalu paginya kita submit ke Sensei. Sambil menunggu feedback, kita kerjakan tugas negara,” terangnya.
Sekitar 30 anggota PPI Nagoya dibagi dalam sistem kerja bergiliran atau shift. Pembagian tugas disesuaikan dengan jadwal riset dan kegiatan akademik masing-masing mahasiswa.
Anggota yang memiliki jadwal riset pagi hingga sore dapat bertugas pada malam hari. Sebaliknya, mereka yang menjalankan riset pada malam hari mendapat giliran membantu pada pagi hari.
PPI juga berkoordinasi dengan tim CdM untuk memastikan pembagian tugas, kompensasi, dan waktu istirahat para relawan tetap memperhatikan ketentuan kerja di Jepang.
Tantangan lainnya adalah perbedaan budaya kerja antara Indonesia dan Jepang. Flady mengatakan, sejumlah kebutuhan harus dipesan jauh-jauh hari karena tidak semua layanan bisa diperoleh secara langsung.
“Kalau di Indonesia, misalnya, kita bisa pesan ruangan dalam waktu yang singkat, tapi di Jepang harus dari lama. Di sini juga banyak hal yang harus direservasi terlebih dahulu, tidak bisa on the spot,” ungkapnya.
Ketika menemui kendala, para mahasiswa berupaya mencari solusi melalui negosiasi dan menyiapkan pilihan alternatif.
“Kadang ada masalah yang sebenarnya seharusnya tidak bisa, tapi bagaimanapun harus bisa untuk tim Indonesia. Jadi kami coba negosiasi, kami cari alternatif, dan kami diskusikan,” tegas Flady.
Bagi mereka, membantu kontingen bukan sekadar tugas tambahan. Antusiasme mahasiswa untuk terlibat bahkan datang dari keinginan mereka sendiri untuk mendukung atlet Indonesia yang sedang berjuang di Jepang.
“Kami senang sekali bisa membantu atlet-atlet Indonesia yang sedang berjuang di Jepang. Teman-teman ini semuanya pada nanyain gimana caranya kami bisa bantu, kami perlu ke venue atau tidak, kapan kami bisa menonton. Banyak sekali pertanyaan seperti itu yang masuk,” tuturnya.
Tim CdM Apresiasi Dukungan Mahasiswa dan WNI
Kontribusi PPI Nagoya mendapat apresiasi dari tim CdM Kontingen Indonesia. Anggota CdM yang mengelola headquarter, Aditia Aelman Ali, mengatakan dukungan mahasiswa dan warga negara Indonesia (WNI) di Jepang membantu meringankan pekerjaan tim.
“Alhamdulillah tantangannya kecil, karena di sini banyak orang Indonesia yang membantu kita. Banyak WNI di sini yang istilahnya ikhlas membantu, jadi kita lebih gampang,” ujar Aditia.
Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada PPI Nagoya yang telah membantu sejak persiapan awal hingga kontingen berada di Jepang.
“Terima kasih kepada PPI Nagoya yang banyak membantu kita dari awal. Kita datang ke sini sudah dibantu dengan baik,” tambahnya.
Dari markas di Gedung Meitetsu lantai 9, tim CdM mengoordinasikan empat bidang utama, yakni layanan medis yang didukung sembilan tenaga medis, analisis data pertandingan, media, serta dukungan logistik atlet.
Persiapan bahkan telah dilakukan melalui kunjungan tim pendahulu sekitar sebulan sebelum pertandingan. Kebutuhan seperti makanan, obat-obatan, dan berbagai dukungan lain disiapkan lebih awal dengan melibatkan komunitas Indonesia di Nagoya, termasuk sejumlah rumah makan Indonesia untuk penyediaan konsumsi.
Aditia mengatakan sejauh ini belum ada kebutuhan atlet yang sulit dipenuhi. Salah satu tantangan yang muncul justru berkaitan dengan cuaca Nagoya yang mulai dingin, sehingga tim perlu mencari penghangat tangan untuk atlet cabang menembak dan panahan.
“Biasanya karena musim [dingin], pemanas tangan untuk menembak dan archery. Paling itu saja yang agak ribet kita cari-cari, hand warmer, biar tangannya nggak kaku,” ungkapnya.
WNI yang ingin ikut mendukung kontingen Indonesia dapat mendatangi headquarter di Gedung Meitetsu lantai 9 untuk memperoleh informasi mengenai jadwal pertandingan penting. Tim CdM juga menyebut dukungan kepada atlet menjadi salah satu bentuk keterlibatan masyarakat Indonesia di Jepang.
Kolaborasi antara mahasiswa, WNI, dan tim CdM tersebut menunjukkan bahwa perjuangan Indonesia di Asian Para Games tidak hanya ditentukan oleh penampilan atlet di arena. Ada kerja sama banyak pihak di belakang layar yang memastikan para atlet dapat bertanding dengan dukungan akomodasi, komunikasi, dan logistik yang memadai.








