SOLO, MettaNEWS – Solo memiliki roti tradisional yang biasa disebut burger Jawa. Kompyang, berbentuk bulat dengan taburan wijen di atasnya, roti ini memiliki tekstur yang lumayan keras. Mirip dengan burger, roti ini biasanya dimakan dengan pia-pia sejenis bakwan sebagai isian.
Bagi wong Solo, roti ini biasa dikonsumsi saat sarapan. Rasa sedikit manis dan gurih ini memang nikmat disantap di pagi hari bersama seduhan teh atau kopi.
Uniknya roti ini dibuat di waktu tengah malam yakni pukul setengah dua belas malam. Bukan tanpa sebab, sang pemiliki Hari Haryono (52) menyebut pembuatan di waktu tengah malam ini dilakukan agar kompyang masih dapat dinikmati di keesokan harinya.
Roti ini dibuat dengan adonan yang terbuat dari tepung terigu, soda kue, gist, garam, serta ragi yang diuleni dan dibentuk bulat. Setelah mengembang, bagian atasnya diolesi minyak goreng lalu dipotong secara manual dengan tangan dan ditaburi wijen. Selanjutnya, adonan dipanggang di tungku yang sebelumnya telah dipanasi, kompyang pun siap dipanggang sekitar 30 menit.

“Kurang lebih proses pembuatan kompyang itu dari awal sampai masak sampai satu jam. Satu tungku berisi kurang lebih 200 biji. Kompyang itu ada dua, yang kecil harganya Rp 1.500 kalau yang besar Rp 3.000,” ucap Hari saat ditemui MettaNEWS, Rabu (20/4/2022).
Menjadi satu-satunya penjual kompyang yang masih setia menggeluti bisnis ini, Hari merupakan penjual kompyang generasi kedua dari orangtuanya.
“Sekitar tahun 1960 sampai 1970 banyak yang buat (Kompyang) di sekitar Solo. Tapi mulai 1975, tinggal ibu saya yang membuat Kompyang. Sampai sekarang, saya meneruskan dari tahun 2010, terus saya generasi kedua dari ibu saya,” ujarnya.
Dalam sehari, ia dan empat karyawannya dapat memproduksi 1500-2000 kompyang. Tungku yang berukuran 90 centimeter untuk bagian atas ini memiliki diameter 45 centimeter. Di mana tungku ini didapatkan dari Pedan, Klaten.
“Ini tungkunya ditanem terus dicor dikasih seng biar awet panas.terus ditutup sama papan kayu. Kalau kayu untuk pembakaran biasanya jati atau pete Cina. Pokoknya kayu yang mudah terbakar kan ada kayu yang sulit terbakar jadi kayunya yang kering,” tambahnya.
Sedangkan untuk awal mula pembuatan kompyang ini Hari menyebut berasal dari Cina.
“Tentara Cina kalau bepergian misalnya pada saat ikut perang konsumsinya kompyang karena tahan lama,” ucap Hari.
Kompyang ini telah memiliki langganan. Hari menyebut para pedagang makanan mulai berdatangan sejak pukul 02.30 dini hari. sebagain dari produksi kemudian dikirim ke pasar besar di Solo yakni Pasar Ledoksari, Pasar Legi.











