SOLO, MettaNEWS – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui skema Pengabdian Masyarakat Berbasis Pengembangan dan Pemberdayaan Desa Binaan (P2DB) mendorong penguatan pengelolaan limbah di Desa Pabelan melalui pemanfaatan komposter dan budidaya maggot.
Program bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat melalui Penguatan Peran BUMDes dalam Pengembangan Sustainable Village Berbasis Pengelolaan Limbah dan Ketahanan Pangan di Desa Pabelan” tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat desa.
Kegiatan diikuti Kepala Desa Pabelan Sri Handoko, Direktur BUMDesa Paramajaya Pabelan, kelompok ibu-ibu PKK, serta para pemuda Desa Pabelan. Keterlibatan berbagai kelompok tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa pengelolaan limbah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi dan mendukung ketahanan pangan.
Ketua Tim PkM, Ir. Alfia Magfirona, S.T., M.T., mengatakan program P2DB diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dan BUMDes dalam mengembangkan potensi desa secara berkelanjutan.
Menurutnya, masyarakat tidak hanya diberikan pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis untuk mengolah limbah organik menjadi produk yang lebih bermanfaat.
“Peran BUMDes diharapkan dapat menjadi penggerak dalam mengembangkan hasil kegiatan tersebut menjadi program yang berkesinambungan dan berpotensi memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” jelas Alfia, Selasa (22/9/2026).
Kegiatan berlangsung di Kantor Balai Desa Pabelan dalam dua tahap, yakni pada 12 dan 29 Agustus 2026. Fokus kegiatan meliputi pembuatan komposter, pengolahan limbah organik, serta pemanfaatan maggot sebagai bagian dari upaya membangun desa berkelanjutan.
Limbah Organik Diolah Jadi Kompos
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi sekaligus praktik pembuatan komposter sebagai metode sederhana mengolah sampah organik rumah tangga.
Limbah organik yang sebelumnya dibuang sebagai sampah dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat untuk memperbaiki kualitas tanah. Kompos juga dapat mendukung kegiatan pertanian maupun pemanfaatan pekarangan masyarakat.
Penerapan komposter di tingkat rumah tangga maupun kelompok diharapkan mampu mengurangi volume sampah organik yang dibuang tanpa melalui proses pengolahan.
Selain komposter, kegiatan juga menghadirkan praktisi lingkungan hidup Suryono Arief Wijaya, S.T. sebagai narasumber. Peserta mendapatkan pengetahuan mengenai pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot.
Pemanfaatan maggot menjadi salah satu alternatif dalam mengolah limbah organik karena dapat membantu proses reduksi sampah sekaligus menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan, terutama sebagai sumber pakan alternatif.
Materi tidak berhenti pada teori. Peserta diajak melakukan praktik secara langsung agar memahami tahapan pengolahan limbah dan dapat menerapkan teknologi sederhana tersebut sesuai kondisi serta sumber daya yang tersedia di Desa Pabelan.
“Pengetahuan mengenai komposter dan maggot juga membuka peluang pengembangan kegiatan produktif yang dapat dikelola bersama masyarakat maupun melalui BUMDesa Paramajaya,” kata Alfia.
Dorong Ekonomi Sirkular Desa
Pelaksanaan program mendapatkan respons positif dari peserta. Hal tersebut terlihat dari keterlibatan aktif masyarakat dalam diskusi maupun praktik selama kegiatan berlangsung.
Program P2DB tersebut didukung Direktorat Riset, Pengabdian Masyarakat, Publikasi, dan Sentra KI (DRPPS) UMS. Pengelolaan limbah diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari pola pengelolaan desa yang berkelanjutan.
Sinergi antara pemerintah desa, BUMDes, PKK, pemuda, perguruan tinggi, dan praktisi dinilai menjadi modal penting dalam membangun sustainable village yang mengintegrasikan aspek lingkungan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan ketahanan pangan.
Ke depan, kegiatan tersebut diharapkan semakin memperkuat peran BUMDesa Paramajaya Pabelan dalam mengembangkan inovasi pengelolaan limbah berbasis masyarakat.
Pemanfaatan komposter dan maggot dapat dikembangkan bukan hanya sebagai solusi persoalan sampah organik, tetapi juga sebagai bagian dari sistem ekonomi sirkular desa, dengan mengubah limbah menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna sekaligus berpotensi memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.








