SOLO, MettaNEWS – Air mata Mbah Sendang (67) bercucuran tatkala serombongan komunitas pecinta kucing datang ke tempat tinggalnya di los gerabah Pasar Jongke Solo. Komunitas ini berasal dari berbagai daerah seperti Tegal, Solo dan Surabaya.
Mereka datang bukan dengan tangan kosong, ada enam kandang kucing, dua karung besar pakan, tujuh litter box dan belasan alas tidur kucing. Mbah Sendang tak menyangka mendapat perhatian sebesar itu.
Sehari-hari Mbah Sendang hidup dengan 10 kucing yang ia rawat sejak bayi. Ia rajin memungut kucing liar yang ada di Pasar Jongke untuk ia rawat.
Meski hanya tinggal di kandang yang sederhana, Mbah Sendang mampu merawat belasan kucing itu dengan baik. Terbukti belasan kucing itu sangat gemuk, sehat dan bersih. Mereka juga sangat penurut.
“Saya senang sekali, Tuhan telah memberi anugerah dari orang-orang yang suka dan peduli sama kucing seperti saya, saya sangat kasihan dengan kucing makanya saya rawat mereka,” kata perempuan sepuh yang bernama lengkap Gawok Sendang Sri Sumini Nareswati.
Sebelumnya Mbah Sendang merawat 28 ekor kucing. Mbah Sendang menyisakan sebagian penghasilan menjual gerabah dan lidi bungkus lontong (biting) yang tak menentu itu untuk membeli pakan dan beras.
“Dulu paling banyak 28 ekor, tapi ini sudah berkurang yang lainnya kena racun, kadang diambil orang. Saya herannya pas tak kasih makan enggak pernah berantem dan cakar-cakaran, kalau makan barengan, yang belum nunggu, nanti gantian, jadi enggak pernah berantem rebutan makanan. Saya sukanya di situ, kucing kok bisa akur gitu,“ tutur Mbah Sendang.
Dengan penyetan bandeng dan nasi 10 kucing Mbah Sendang hidup. Terkadang ia selingi dengan pakan kucing kering.
“Satu kilogram harga Rp 20 ribu habis 5 hari. Dulu saya punya rumah tapi sudah dijual buat berobat adik saya yang jatuh kakinya patah, makanya tinggal di los,” terangya.
Baginya mendapat perlengkapan kucing yang memadai untuk 10 kucingnya adalah sebuah hadiah yang tak terkira nilainya. Mbah Sendang begitu bersyukur banyak orang baik yang peduli dengan kucing.
“Ya kucing ini, datang, kalau enggak ada yang merawat saya pelihara kucingnya. Tetapi yang mau kucingnya, wong kadang-kadang juga enggak mau saya kasih makan lari. Kalau enggak mau yaudah, kalau mau saya pelihara,” terangnya.
Kecintaannya pada kucing menurun dari sang ibu, Sri Suryatmi (Mino) yang dahulunya juga rescuer kucing. Mbah Sendang hidup berdampingan dengan kucing selama 20 tahun merasa terus terpanggil untuk merawat kucing tanpa tuan yang terlantar.
“Sedihnya pas ibu saya enggak ada, ibu saya dulu juga pecinta kucing. Kalau ngasih makan telat saja saya dimarahi. Saya akhirnya melanjutkan peliharaan, sama kerjaan ibu,” kata Mbah Sendang.
Ia sering merasa kasihan pada nasib kucing jalanan. Terlebih saat sakit dan tidak ada yang menolong, hatinya begitu pilu menyaksikan kucing-kucing jalanan harus dijemput maut.
“Duka punya kucing itu, kalau kucingnya enggak mau makan sakit-sakitan, saya bingung, pas lagi enggak ada dana kucingnya sakit saya sedih,” ucap Mbah Sendang.
10 kucing Mbah Sendang punya nama sendiri-sendiri, yakni Bodo, Putih, Tiki, Pesek, Bengkrik, Boi, Lesi, Prida, Wili dan Kuni. Kucing milik Mbah Sendang berusia belasan tahun.
“Pas tahu diracun ya sakit hati saya, ikut nangis, sampai kadang-kadang seharian penuh, kalau hatinya longgar yaudah gimana lagi, kita bantu sudah terlambat obatnya,”.
“Tahu-tahu sudah tergeletak, kalau sudah kejang mulutnya bungkam, susah kalau mau dikasih penangkalnya enggak bisa masuk, ya sudah saya labo di belakang,” tutupnya.
Setidaknya ada 3 komunitas yang hadir pagi itu yakni Rumah Singgah Kucing Rescue Fariz Tegal, Relis Eka dari RelPetCare Surabaya dan Rumah Difabel Meong Solo.
Salah satu yang berperan ialah Titi Herawati atau biasa dipanggil mamaknya Fariz. Ia sengaja datang dari Tegal untuk menemui Mbah Sendang.
“Saya sengaja nemuin Mbah Sendang buat ngobrol sama belajar dengan Mbah Sendang, saya juga kangen dengan mpus-mpusnya,” kata Titi.
Belasan kasur kucing ia bawa agar kucing Mbah Sendang dapat alas tidur yang lebih baik.
“Kalau menurut saya bagus sekali ada orang seperti Mbah Sendang ini, karena kucing-kucing pasar ada scabies ada kutu, tetapi ini enggak ada. Jadi perawatannya meski kesederhanaan dari Mbah Sendang tetapi kucingnya mantab-mantab,” tutupnya.








