Kerbau Keraton yang Sakit Dipindahkan ke Magangan, Kirab 1 Sura Mungkin Kembali ke Sebelum 1974

oleh
kerbau kiai slamet
Kawanan Kerbau bule Keraton Surakarta dipindahkan ke bangsal Magangan, Selasa A(26/7/2022) | MettaNews/Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Lima kebo bule Keraton Surakarta dipindah dari Kandang Mahesa Pusaka sisi barat ke Magangan, Selasa (26/7/2022). Lima kebo ini terserang Penyakit Mulut dan Kaki (PMK) sehingga butuh untuk diisolasi dari kebo yang sehat.

Kawanan kebo pusaka Kirab 1 Sura ini terdiri dari 4 betina dan 1 pejantan. Dua diantaranya merupakan kebo Nyai Juminten dan Somali yang sebelumnya memiliki anakan dan mati pada Minggu kemarin.

Kanjeng Dani Sasana Wilapa Keraton Surakarta mengatakan pemindahan kebo ini untuk mencegah adanya persebaran virus. Pihaknya menilai isolasi di Kandang Mahesa Pusaka dengan hanya menggunakan sekat tak efektif mencegah persebaran.

Ihwal Kirab 1 Sura, pihaknya masih akan melakukan koordinasi dengan menimbang saran Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kota Solo.

“Untuk kirab masih ada berbagai kemungkinan. Kita sudah memiliki pertimbangan dari saran dokter hewan yang dari Dinas Pertanian dan Pertahanan Pangan dan juga tim dokter hewan keraton untuk pelaksanaan kirab apakah mahesa bisa dilibatkan atau tidak,” kata Kanjeng Dani kepada MettaNEWS di Alun-alun Kidul, Selasa (26/7/2022).

Kirab pusaka 1 Sura lekat dengan keberadaan kerbau yang dikeramatkan sebagai cucuk lampah. Sehingga dalam pelaksanaanya wajib menyertakan kebo agar syarat akan keberkahan dan makna yang sesuai tradisi.

“Mahesa ini sebagai cucuk lampah pasangan sebuah pusaka Keraton, kalau pusaka miyos, harus disertai mahesa,” katanya.

Dikatakan Kanjeng Dani, saat pandemi Covid-19 peringatan 1 Sura tetap dilaksanakan meskipun tanpa kirab.

“Mengenai pelaksanaan rangkaian upacara tetap berjalan di pasca Covid pun selama 3 tahun walaupun tidak ada kirab rangakain upacaranya tetap berjalan pusaka tetap mios walaupun tidak dikirab jadi tidak mengurangi makna,” terangnya.

Ditanya perihal jika kirab digelar tanpa kerbau pihaknya menuturkan akan melakukan evaluasi.

“Nanti kita akan evaluasi di last minute, seperti yang diketahui mahesonya sudah lumayan pulih sehari dua hari makanya dari dalam untuk maheso ini bisa dikarantina agar bisa lebih intensif untuk pengawasannya, makanannya dan pemulihan, yang jelas yang awal dikarantina biar pemulihannya cepat,” tuturnya.

Pribadinya menyebut tak ada kerbau inti dalam kirab. Semua kerbau dapat dilibatkan namun tanpa melihat umur atau pun jumlah.

“Kerbau tidak ada yang inti tapi yang biasanya diikutkan semua bisa diikutkan, biasanya dilatih sambil dibersihkan h-1 sore umur ada yang 20 atau15, nggak ada kriteria umur untuk kirab sperti dulu nggak ada masalah, jumlah tentatif kebanyakan ganjil 1,3,5,” jelasnya.

Diketahui hari ini pihak Keraton Surakarta juga menemui Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka di Balai Kota Solo untuk memberikan undangan dan juga koordinasi kirab.

“Terus juga mengenai rute di last minute dikoordinasi dengan Pemkot Surakarta apakah akan diperpanjang rutenya atau kembali ke rute sebelum tahun 74,” sebutnya.

Alternatif rute Kirab 1 Sura ini mengambil rute lama sebelum tahun 1994, yakni di sekitar Baluwarti. Sedangkan setelah tahun 1974 rute kirab dimulai dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menuju Supit Urang kemudian ke Gladag, Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, dan Jalan Slamet Riyadi, kemudian kembali ke Keraton Surakarta.

“Rute sebelum tahun 74 itu Kirab Pusaka keliling Baluwarti baru setelah peristiwa Malari Presiden Suharto meminta pada Sinuwun Pakubuwono ke XII agar dampak doa kirab itu bisa meluas maka kirab dikelilingkan di luar dari tembok keraton,” bebernya.