SOLO, MettaNEWS – Tahap satu pembangunan rel layang (elevated rail) Simpang Tujuh Joglo, Solo telah mencapai 80 persen untuk pembuatan detour track atau peralihan kereta api. Untuk melanjutkan ke tahap dua, pembangunan ini terkendala Pasar Joglo yang tak kunjung direlokasi. Hal ini menyebabkan adanya kemungkinan pembangunan akan molor dari timeline.
Dendy Prakasa Site Manager PT Wijaya Karya (Wika) menyebut selain relokasi, utilitas kabel PLN juga masih menjadi jeda tahap dua dapat dijamah.
“Kendala tahap dua nanti itu karena Pasar Joglo kalau itu nggak segera dipindahkan pada tahap satu ini berarti untuk tahap duanya kemungkinan bisa mundur karena kita ada jeda untuk menunggu PLN. Jalur listrik itu harus ada yang kita relokasi dan relokasinya menunggu pasar itu direlokasi,” ucap Dendy saat ditemui di Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Solo, Kamis (16/6/2022).
Agar tak menghambat waktu pembangunan sesuai schedulue perencanaan., pihaknya akan terus melakukan koordinasi dengan Dinas Perdagangan (Disdag) Solo dan PLN. Sebelumnya juga sempat berhembus kabar Kelurahan Joglo juga akan terdampak pembangunan ini, namuk pihaknya menyebut hal itu merupakan informasi yang salah.
“Kita tetep koordinasi dengan semua, sudah sesuai dengan schedule kita rencanakan jadi untuk saat ini kita masih koordinasi juga dengan PLN dan tadi mungkin Dinas Perdagangan Disdag atau dinas pasar ya selebihnya untuk relokasi. Agar nanti tidak ada jeda waktu artinya belum menghambat kita, tapi kita tetep koordinasi,” jelas Dendy.
Pembangunan rel layang setinggi 8 meter dengan jembatan setinggi 40 meter ini menghabiskan dana Rp 980 miliar.
“Rel layang dari yang sekarang eksisting ini nanti untuk kereta apinya ada ketinggian sekitar 8 meter dari bawah. Cuma untuk jembatannya sendiri setinggi 40 meter dari jalan. Nilai proyek elevated kereta dibagi jadi beberapa paket. Untuk kami masuk ke paket dua sekitar Rp 280 miliar untuk kontraknya. Nanti ada beberapa tahap lagi dan mungkin gambarannya untuk secara total itu sampai Rp 980 miliar hampir satu triliun,” tutup Dendy.
Sementara itu, Riska Sasanti Tim Teknis PPK Area 1 Balai Teknik Perkeretaapian Jawa Bagian Tengah (BTP Jabagteng) menyebut tahap satu focus pada track pengalihan pergeseran eksisting. Yang mana pada rel layang nantinya sudah tidak menggunakan rel lama namun digunakan untuk pilar jemabatan.
“Kita dari rel eksisting bikin baru di sisi barat jalur temporary itu atau detour track. Itu nanti jalan yang mana kita alihkan ke yang kita buat sekarang ini. Setelah diatur eksisting kita bongkar untuk pembuatan kontruksi elevated,” terang Riska.
Ditahap satu ini akan terbentuk rel sementara (detour track temporary) struktur atas untuk perlinatasan yang saat ini masih aktif. Sebagai peralihan lalu lintas ketika Simpang Joglo ditutup total, pihaknya menyebut vaiduk Gilingan juga akan dibangun untuk diturunkan sedalam satu meter.
“Karena kereta nggak boleh berhenti harus dibuat sementara di sampingnya yang baru kita buat namanya detour track. Kalau yang viaduk belum , kemungkinan secepatnya untuk pergantian arus kalau yang di Joglo itu ditutup total bus-bus yang ber AC yang masih bisa lewat. Vaiduk Gilingan itu jalannya akan diturunkan jadi satu meter. Kemungkinan diperlebar, kalau yang baru strukturnya dibelakang karena diperlebar,” pungkasnya.








