Joko Suranto Crazy Rich Grobogan : Tidak Perlu Nunggu Jadi Pengusaha untuk Berbuat Baik

oleh
oleh
Joko Suranto
Joko Suranto pengusaha properti yang membangun jalan kampung di tanah kelahirannya di Grobogan | Metta News / Puspita

SOLO, Metta NEWS – Viral setelah membangun jalan di kampung halamannya di Grobogan, pengusaha properti Joko Suranto berada di Solo untuk mengunjungi kawan-kawan lamanya. 

Pengusaha yang membangun jalan sepanjang 1.8 kilometer dengan dana sekitar Rp 2.8 miliar di daerah rumah masa kecilnya ini tepatnya di Desa Jetis, Karangrayung Grobogan ini juga mempunyai rumah dan usaha di Solo. 

Joko mengungkapkan, Solo mempunyai tempat tersendiri dalam hidupnya, mengingat sejak SMA hingga kuliah ia tinggal di Solo. 

“Saya 12 tahun lebih di Solo. Kawan dan sahabat saya, hal-hal yang menumbuhkan saya di masa remaja ada di Solo. Solo adalah sesuatu bagi saya,” ujar Joko, Minggu (8/5/2022). 

Karena sekolah di SMA Muhammadiyah 1 Solo, Joko Suranto kos di daerah Totogan dan saat kuliah pindah kos ke daerah Kentingan Solo. 

Usai viral dan disebut crazy rich, Joko mengaku menjadi lebih dikenal dan banyak yang mengirimi pesan lewat Instagram. Bapak 3 anak ini merasa memang banyak yang berubah usai menjadi viral. 

“Tapi yang tidak berubah adalah persepsi dan prasangka saya tetap selalu positif dan baik pada siapapun dan apapun, terutama pada ketentuan Allah. Capek kalau punya pikiran negatif terus. Memang menyakitkan kalau ada yang minta tolong dan tidak bisa bantu. Tapi pada saat tertentu rasionalitas kita kan tetap terjaga,” urainya saat ngobrol santai bersama teman-teman media di Solo. 

Joko melihat fenomena tumbuhnya mentality masyarakat yang tidak segan meminta padahal masih bisa berusaha menjadi keprihatinan tersendiri. 

“Ini menunjukkan di masyarakat kita banyak yang akses ekonomi dan akses pekerjaan belum terjawab. Ini PR bersama, tugas bersama tidak hanya untuk pemerintah,” tandas pria yang saat remaja pernah menjadi makelar gadai. 

Sebutan crazy rich sempat membuat Joko dan keluarganya tidak nyaman. Namun ia mengungkapkan tidak bisa melarang orang menganggapnya seperti apa. 

“Awal-awal kami merasa itu tidak pas karena saya punya usaha dan sebutan crazy rich ini sempat dihubungkan dengan flexing dan lainnya, yang membuat saya berpikir akan berimbas pada kolega saya,” jelasnya. 

Bahkan Joko mengatakan, selama seminggu ia dan istrinya diam di rumah. Bahkan keluarganya juga tidak upload kegiatan buka puasa bersama atau kegiatan lainnya karena takut menambah persepsi lain di masyarakat. 

“Tapi setelah itu kami menyadari, itu hak mereka. Tapi kalau membawa kebaikan ya kita terima. Saya hanya butuh pencitraan kebaikan yang sebenarnya itu bisa dilakukan oleh semua orang,” paparnya. 

Pria kelahiran Grobogan, 26 Januari 1969 ini pernah mengalami hidup susah dan menjalani banyak pekerjaan untuk membantu orang tuanya. Saat masih duduk di jenjang SMP, ia mengatakan pernah numpang hidup pada saudaranya atau istilahnya ngenger. 

“Saya pernah jadi makelar pegadaian, bantuin skripsi dan ngirim tembakau ke bakul di Pasar Legi. Tapi dari kecil satu poin penting yang saya pegang yaitu tidak pernah mau minta. Kalaupun saya diberi saya harus kembalikan dengan cara lainnya. Istilahnya tidak boleh kita menerima tanpa bekerja,” tegasnya. 

Mampir ke Solo, Joko selalu menyempatkan untuk bertemu teman-temannya untuk sharing dan diskusi. 

“Biasanya ya saling sharing, diskusi, konsultasi. Kalau pulang ke Purwodadi saya charge kebaikan dengan melihat kawan-kawan di sana untuk terus mengingatkan saya agar tetap rendah hati, mawas diri dan membumi,” ungkapnya. 

Sebelum membangun jalan di tanah kelahirannya, Joko sudah membangun puluhan masjid di beberapa lokasi. Kebaikannya yang viral menimbulkan banyak tudingan seperti dianggap akan terjun ke dunia politik untuk menjadi bupati, gubernur hingga anggota dewan. 

“Ada juga yang bilang saya mau jadi presiden. Bagi saya presiden itu alat bukan tujuan. Tujuan saya jadi orang baik dan harus memberi manfaat. Semua kita kembalikan ke prasangka baik. Semua manusia itu bisa jadi orang hebat dengan sederhana. Dengan tidak menjadi parasit sosial, bisa mandiri, menjaga keluarganya, menjaga lingkungannya itu sudah hebat. Tidak perlu nunggu kaya atau jadi pengusaha dulu baru bermanfaat bagi orang lain,” pungkasnya.