Kumandang Deklarasi Solo Rumah Keroncong Indonesia, Hidupkan Kembali Denyut Kehidupan Bermusik

oleh
Endah Laras
Endah Laras tampil di tengah-tengah penonton Kumandang Keroncong Surakarta, di Gedung Djoeang 45 Solo, Sabtu (7/5/2022) malam | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Untuk menggairahkan kembali denyut kehidupan musik keroncong di Solo, Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI) menghelat mini konser musik keroncong, Sabtu (7/5) malam di Gedung Djoeang 45 Solo. Bertajuk Kumandang Keroncong Surakarta, konser ini juga sebagai bentuk deklarasi pencanangan Solo Rumah Keroncong Indonesia.

Perwakilan HAMKRI, Danis Sugiyanto berharap konser ini menjadi titik awal bangkitnya seni pertunjukkan keroncong di tengah-tengah masyarakat.

“Tujuan dari gelaran event ini untuk menghidupkan musik keroncong di publik, juga untuk pencanangan Solo Rumah Keroncong Indonesia juga. Diharapkan tidak hanya di Indonesia tapi di dunia juga. Selain itu juga untuk menggairahkan pemusik maupun masyarakt. Apresiasi terhadap musik keroncong ini agar bisa semakin membumi di Solo, Indonesia bahkan sampai melangit. Agar digemari lagi atau budaya bermusiknya itu lebih luas,” terang Danis saat ditemui usai acara, Sabtu (7/5/2022).

Dimulai sejak pukul 19.00 WIB, konser ini menghadirkan bintang utama Endah Laras. Bersama penyanyi keroncong yang lain, diva keroncong asli Solo ini membawakan sejumlah lagu terbaiknya seperti Pring Gapuk, Keroncong Nona Manis, Pengen Ketemu Pinuju Ketemu, Gado-gado dan Ayo Ngguyu.

Tak disangka, penikmat musik keroncong masih tetap ada. Tiket konser pun hampir terjual habis, baik yang on the spot maupun online. Dihadiri oleh tamu undangan seperti tokoh publik di Solo, nampak salah satu tokoh Kota Solo, yakni mantan Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo hadir di tengah-tengah acara.

Membicarakan mengenai perkembangan musik keroncong, khususnya di Solo, Danis menyebut musik keroncong saat ini tidak hanya digemari oleh orang tua.

“Stigma keroncong kan bikin ngantuk, musik orang tua, tidak bersemangat dan sebagainya. Tapi sekarang saya lihat banyak kumpulan orang-orang yang menggeluti musik keroncong yang terdiri dari anak-anak muda sebagai pemusiknya,” tutur Danis.

Pemusik dari kalangan muda tersebut diantaranya kumpulan muda kerononcong Surakarta (KMS), gerobak orkes Baron, orkes keroncong Pandawa Sangkrah yang digaungi anak muda. Sehingga pihaknya tidak terlalu khawatir musik keroncong akan ditinggalkan.

“Justru di situ ada gairah baru untuk mempelajarai keroncong secara konvensional maupun keroncong itu dikembangkan menurut cita rasa mereka (anak muda) dan pengetahuan serta selera bermusik mereka,” jelas Danis.

Besar harapannya kepada pemerintah, sebagai generasi seniman keroncong. Melalui gelaran musik dapat menjadi geliat pemerintah yang seyoyagnya mendukung dalam hal pendanaan.

“Dalam undang-undang kan jelas ya, kesenian dan kebudayaan itu juga harus didukung oleh pemerintah. Kalau dari senimannya ada potensi dana, ada geliat seperti itu,” terangnya.

Selain itu, pihaknya juga berharap agar venue keroncong dapat dibuka kembali. Ambience keroncong diharapkan juga dibuka kembali agar musik keroncong kembali mulia dan berjaya.

Kabar baik, tak hanya berhenti di konser ini saja. Pasalnya HAMKRI berencana untuk menggelar Keroncong Jazz di waktu yang belum dapat dipastikan.

“Rencana nanti mau ada Keroncong Jazz, Pak Henry juga akan menginisiasi. Tapi ini masih perlu didalami, dijajaki, direncanakan. Mudah-mudahan akan terlaksana dengan bagus,” tukasnya.

Sementara itu, Direktur utama PT. Andalan Propertindo, Henry Poerwantoro, pengelola Gedung Djoeang 45 Solo juga menyebut akan tujuan diadakannya gelaran ini untuk membranding Gedung Djoeang 45 yang memberikan dukungan akan gelaran musik di Solo.

“Saya mendukung visi dan misi dari HAMKRI, yaitu menjadikan Solo rumah keroncong Indonesia. Karena buat saya misi ini luar biasa. Dan itu tidak akan terwujud tanpa peran serta masyarakat dan stakeholder yang ada di Kota Solo,” ucap Henry.

Baginya, musik keroncong memiliki penggemar fanatik. Dimana para pemain musik keroncong tidaklah berasal dari sembarang orang. Memerlukan proses belajar, para seniman keroncong menyanyi dengan passion.

Sempat diguyur hujan, event ini sebelumnya direncanakan digelar di oudoor. Hingga pada akhirnya pihak penyelenggara pun memindahkan gelaran ini ke indoor. Tak merusak acara, konser musik ini tetap memukau.

“Solo hujan merata. Meskipun tidak sesuai harapan tapi tetap berjalan, masih dalam satu venue. Tadinya outdoor, plan b kami pindah ke dalam. Saya akan buat konsep lagi kedepan. Supaya bisa terrelaisasi acaranya di outdoor,” tutupnya.

Dilain sisi, Endah Laras memberikan tanggapannya mengenai perkembangan musik keroncong saat ini. Baginya bukan hanya tugas seniman, Endah Laras menyebut musik keroncong akan tetap lestari jika masyarakat dapat mengapresiasi keberadaan musik lokal.

“Kalau keroncong biar lestari itu bukan hanya tugas penyanyi atau komunitas saja. Tapi jati diri semua yang merasa kita punya budaya yang luar biasa, kita harus bareng-bareng. Minimal ya anak remaja, atau siapa pun mencobalah balance (seimbang). Ketika dia juga merasa belajar atau mendengarkan musik-musik dari luar, kita harus bisa mengapresiasi musik kita sendiri,” terang Endah.

Pihaknya menyebut sebesar apa pun usaha yang digaungkan dari komunitas atau seniman dan juga pemerintah dalam mencanangkan dan memberi ruang keroncong, namun jika pemintanya tidak mulai dibudayakan maka akan menjadi hal yang sia-sia.

“Mari kita bersama-sama bergandengan tangan. Supaya apa yang telah diwariskan leluhur, para maeostro. Apa yang sudah ditinggalkan para maestro itu bisa berkembang maju. Bisa sampai turun temurun sampai generasi yang akan datang,” tutup Endah.