Jembatan Mojo Ditutup, Ribuan Pemotor Serbu Jembatan Sesek Kampung Beton

oleh
Jembatan sesek
Penutupan Jembayan Mojo sebabkan pengendara roda dua beralih ke jembatan sesek di Kampung Beton, Kelurahan Sewu Solo saat pulang kerja, Senin (26/9/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Jembatan sesek bambu di Kampunh Beton, Kelurahan Sewu Solo dipadati ribuan sepeda motor yang melintas. Kepadatan kendaraan ini terjadi sejak Jembatan Mojo Semanggi Pasar Kliwon ditutup per hari ini, Senin (26/9/2022).

Penutupan jembatan dilakukan pada pukul 10.00 WIB sebabkan warga dari kedua arah Mojolaban Sukoharjo maupun Solo kecele. Banyak warga yang putar balik lantaran tak tak mengetahui penutupan jembatan.

Dari pantauan MettaNEWS, ratusan motor dari dua sisi mengantre di tepian jembatan sisi atas. Terjadi peningkatan volume kendaraan pada jam kerja selesai yakni sekira pukul 16.00 WIB. Warga pun harus melakukan buka tutup jembatan.

Jika sebelumnya hanya ada satu sisi jembatan, saat ini jembatan sesek sepanjang 70 meter itu memiliki dua sisi. Satu sisi digunakan untuk roda dua melintas sedangkan satu sisinya untuk pejalan kaki.

Warga sekitar ikut membantu pengendara yang kesulitan untuk menanjak. Pun dengan pengendara yang melewati jalan menukik tajam. Jalan menuju jembatan sesek menjadi ramai seketika.

Tak jarang terdapat pengendara yang harus didorong untuk sampai atas. Untuk menghindari muatan berlebih warga membuat peringatan untuk tidak membawa boncengan saat melewati jembatan sesek.

Alasannya pada sisi atas menuju jembatan terdapat ratusan kendaraan yang mengantre turun sehingga tempat pengendara yang dari bawah semakin sempit.

Sebagai informasi jembatan sesek dibuat warga Desa Gadingan Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo di atas Sungai Bengawan Solo. Jembatan itu menghubungkan Desa Gadingan, Sukoharjo dengan Kampung Beton, Kelurahan Sewu, Kota Solo.

Kerangka jembatan ini dibuat dari sekitar 100 bambu, 34 drum atau tong. Selanjutnya warga secara bergotong royong merakitnya selama kurang lebih tiga minggu. Melalui dana pribadi warga Rp 20 juta ini jembatan sasak kini dapat dibangun lebih kuat.

Selama musim kemarau warga dari dua wilayah ini memanfaatkan jembatan sasak untuk menyeberang. Lantaran perahu yang biasa digunakan tak dapat lagi beroperasi dengan kondisi air yang menyusut dan kering.

Banyak warga seperti pekerja, pedagang pasar maupun anak sekolah yang kemudian memanfaatkan jembatan ini sebagai jalur alternatif yang lebih cepat. Terlebih saat ini jembatan Mojo dan jembatan Jurug B tengah dibangun dan ditutup.

Salah satu warga Nusukan, Seno (50) biasa menggunakan jembatan tersebut sejak tahun 1999. Dua hari sekali ia melewati jemabatan sasak untuk mengambil karak ke Gadingan, Sukoharjo. Jika dibandingkan melewati jembatan Jurug ia merasa jarak yang ia tempuh lebih jauh.

Nantinya saat musim hujan tiba air Sungai Bengawan Solo akan meninggi. Sehingga jemabatan sasak ini akan rusak terbawa arus. Saat itu warga akan kembali menggunakan perahu sebagai transportasi penyebrangan.

“Sekarang cuacanya nggak bisa ditentukan karena hujannya kan nggak mesti juga kemaraunya mbolak mbalik, insyaAllah aman”, katanya.

Jembatan sesek merupakan jembatan yang tak permanen, dikatakan Seno kebaradaan jembatan sasak sudah mulai ada sejak tahun 1960-an.