Ditulis oleh Xonia Addriani Angelyn Asteresanauli Manurung, Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
Saat ini makin banyak pengetahuan tentang kesehatan, dan kesadaran orang-orang mengenai kesehatannya pun meningkat. Banyak ilmu tercetus dan berkembang, hingga digunakan sebagai metode untuk membantu mendiagnosa suatu penyakit serta pengobatan. Salah satu ilmu yang cukup banyak digunakan adalah iridologi. Iridologi dipercaya dapat membantu banyak orang untuk mengobati penyakit yang dideritanya. Lantas apakah sebenarnya iridologi itu?
Definisi dan Tokoh Iridologi
Iridologi merupakan ilmu dalam dunia pengobatan yang mempelajari tentang informasi mengenai kondisi tubuh atau penyakit seseorang dengan teknik membaca pola, warna, dan karakteristik iris pada mata orang tersebut. Tokoh yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu ini adalah Ignatz von Peczely. Ia menulis hipotesis mengenai terkoneksinya iris mata dengan seluruh tubuh.
Bagaimana Ilmu Ini Digunakan?
Cara mendeteksi kondisi fisik dengan ilmu iridologi adalah dengan warna dan detail iris sebagai indikatornya. Dengan cara ini iridologi diklaim mampu mengenali kerentanan fisik seseorang, dan iris manusia juga mampu menjadi acuan mengenai riwayat kesehatan seseorang serta kondisi kesehatan orang itu di masa yang akan datang. Alat yang digunakan untuk mendeteksi bernama iriscope. Rupanya orang-orang yang pernah menggunakan ilmu ini untuk mengetahui kondisi kesehatan tidak hanya menggunakannya untuk kesehatan fisik saja seperti diabetes melitus, namun juga ada yang pernah menggunakannya untuk mengidentifikasi stres dalam menghadapi ujian nasional.
Mengapa Iridologi Dikatakan Pseudosains?
Di satu sisi ada orang yang semakin yakin bahwa ilmu ini dapat dipercaya, namun ada juga di sisi lain yang meragukan kebenaran ilmu ini, apakah ini ilmu yang pasti atau hanyalah ilmu semu atau pseudosains. Maka dilakukan sejumlah penelitian tentang iridologi ini. Ada 4 penelitian yang cukup menarik mengenai iridologi. Sebuah penelitian di Jerman tahun 1957 yang mengambil lebih dari 4.000 foto iris dari lebih dari 1.000 orang menyimpulkan bahwa iridologi tidak berguna sebagai alat diagnostik. Pada tahun 1979, ahli iridologi Amerika terkemuka Bernard Jensen dan dua ahli iridologi lainnya memeriksa foto-foto mata dari 143 pasien untuk menentukan siapa di antara mereka yang mengalami gagal ginjal, tetapi gagal membangun dasar untuk praktiknya. Sebuah studi tahun 2005 menguji manfaat iridologi dalam mendiagnosis kanker umum. Kesimpulan dari penelitian ini adalah, “Iridologi tidak memiliki nilai dalam mendiagnosis kanker yang dipelajari dalam penelitian ini.” Pada tahun 2015, Departemen Kesehatan Pemerintah Australia menerbitkan ulasan tentang terapi alternatif Iridology sebagai salah satu perawatan yang dievaluasi, tetapi tidak menemukan bukti kemanjuran.
Dari sini dan beberapa jurnal lainnya lah kemudian dinyatakan bahwa iridologi tidak dapat dijadikan alat diagnostik acuan untuk pengobatan pasien. Studi iridologi yang diterbitkan dalam karya ilmiah juga penuh bias. Banyak penelitian tidak memasukkan kelompok kontrol, memiliki sampel kecil, dan sebagian besar menggunakan metodologi penelitian yang tidak memadai. Diagnosis dengan teknik iridologi dianggap sangat positif palsu, sehingga rasa aman yang ditimbulkan dari metode ini pun juga palsu.
Hal ini dapat menyebabkan terlambatnya penanganan suatu penyakit, karena diagnosa yang diberikan bisa jadi salah, dan jika terapi atau pengobatannya juga salah, akibatnya bisa sangat fatal dan nyawa kita terancam hilang karena menjadi taruhannya. Terapis iridologis diimbau untuk menghentikan penggunaan ilmu ini karena dinilai semu, tidak valid, serta menimbulkan kerugian, begitu juga dengan pasien sangat tidak disarankan berobat ke tempat dan orang yang menggunakan ilmu ini.
Daftar Pustaka
Defira Safa F. T. A., et al. (2019) SAY NO TO PSEUDOSCIENCE! | IRIDOLOGY EQUAL PSEUDOSCIENCE. Accessed November 11, 2022. http://blog.ub.ac.id/aurahmaniatul0512/2019/11/08/iridologi-pseudosains/.
Rochmad, Mochammad. (2009) IDENTIFIKASI KERUSAKAN PANKREAS MELALUI IRIDOLOGY MENGGUNAKAN METODE BAYES UNTUK PENGENALAN DIABETES MELLITUS. Seminar Nasional Informatika (SEMNASIF) 1, no. 1 (June 30, 2015). http://jurnal.upnyk.ac.id/index.php/semnasif/article/view/800.
Razak, A. (2016). APLIKASI METODE IRIDOLOGI UNTUK IDENTIFIKASI STRES PADA SISWA SD, SMP DAN SMA MENGHADAPI UJIAN NASIONAL (UN) DI SUMATERA BARAT. Ta’dib, 17(1), 86-90. https://doi.org/10.31958/jt.v17i1.263.
“7 Hoax Dan Ilmu Pengetahuan Palsu Yang Dipercaya Umat Manusia | Merdeka.Com.” Accessed November 11, 2022. https://www.merdeka.com/teknologi/7-hoax-dan-ilmu-pengetahuan-palsu-yang-dipercaya-umat-manusia.html.
Alodokter. “Apakah Pemeriksaan Iridologi Efektif ?,” February 4, 2021. https://www.alodokter.com/komunitas/topic/apakah-iridologi-efektif.








