Ingin Memajukan Aru, Dave Tinggalkan Karir Mapan di Turki Bikin Sekolah Mimpi

oleh
oleh
sekolah mimpi aru
Sekolah mimpi di Kepulauan Aru yang didirikan Dave | dok Benih Baik

ARU, MettaNEWS – Devirisal Djabumir atau lebih sering dipanggil Dave (30), pria asal Kepulauan Aru, Maluku. Di usia muda dia sukses menekuni karir di sebuah perusahaan listrik di Turki. Namun, nurani mengajaknya pulang ke Aru untuk mendirikan Sekolah Mimpi.

“Saya melihat kondisi kampung halaman sangat memprihatinkan. Banyak anak putus sekolah, Saya ingin anak-anak di kampung halaman bisa mendapatkan kualitas pendidikan yang layak bagi mereka. Karena itu saya pulang, meski keluarga tidak setuju. Takut karir saya mati,” ungkap Dave seperti dikabarkan Benih Baik.

Dave juga melihat masalah lain, sampah plastik yang mencemari laut dan lingkungan Kepulauan Aru. Hal ini disebabkan oleh kurang adanya kesadaran, ditambah minimnya infrastruktur dan sistem pengelolaan sampah.

 

sekolah mimpi aru
Melalui contoh dan tindakan, Dave mengajar anak-anak Sekolah Mimpi untuk mencintai dan merawat lautan. | dok Benih Baik

“Ini tidak baik, mayoritas masyarakat bergantung hidup pada laut. Kalau tercemar, sudah pasti merugikan semua,” tuturnya.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Dave mendirikan Sekolah Mimpi pada April 2018. Sekolah ini menggunakan sistem yang terintegrasi dengan alam dan bernuansa outdoor. Anak-anak dididik dengan baik oleh Dave dan para relawan lainnya.

Saat awal berdiri, Dave merupakan satu-satunya pengajar di sekolah tersebut, dengan jumlah siswa 6 anak. Bukan hanya mengentaskan ketimpangan pendidikan saja, sekolah ini juga dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengurangi volume sampah plastik di daerah sekitar.

Pria 30 tahun tersebut mengajak anak-anak yang ingin menimba ilmu dengan syarat membayar biaya sekolah dengan sampah. Tujuannya adalah untuk mengurangi volume sampah yang bermuara ke laut serta membangun kesadaran lingkungan.

“Sampah-sampah yang dikumpulkan tersebut sebagian dibuat kerajinan, dan sisanya dibuang ke tempat pembuangan setempat. Jadi anak-anak yang melihat temannya menggunakan plastik saja langsung mereka peringatkan untuk tidak membuangnya sembarangan. Dengan kesadaran ini, jumlah pencemaran sampah di laut pun ikut berkurang,” ucapnya.

Dave menjelaskan Sekolah Mimpi menggunakan sistem pendidikan inklusif, dengan pelajaran seperti Bahasa Inggris, kewirausahaan, public speaking, kelas inspirasi, dan tentunya ragam pelajaran terkait lingkungan. Proses pembelajaran dilakukan dari pukul 16.00 hingga 18.00.

Pembelajaran tentunya diselingi oleh games dengan menggunakan alam sebagai mediasinya. Berbagai kegiatan juga dilakukan seperti mengenal biota laut, bagaimana sampah dapat berdampak pada laut, hingga mengumpulkan sampah bersama.

Sekolah mimpi tidak hanya fokus kepada belajar mengajar saja namun juga mengadvokasi kebijakan yang pro terhadap lingkungan, melakukan program-program lingkungan seperti capacity-building, festival, dan pelatihan. Anak-anak yang dididik di sini menunjukkan semangat dan kemauannya untuk terus menempuh pendidikan.

 

sekolah mimpi Aru
Belajar di alam, mengajarkan banyak manfaat dan keterampilan pada anak-anak Sekolah Mimpi | dok Benih Baik

“Yang pasti kami menerapkan bahwa belajar itu fun, jadi anak-anak senang untuk belajar dan bersekolah,” sebutnya.

Saat ini murid di Sekolah Mimpi sudah berjumlah mencapai 96 siswa dengan taraf PAUD hingga SMP. Jumlah relawan yang mengajar di sana mencapai 15 orang, dari kalangan Mahasiswa maupun Pekerja.

Selain itu, sejak 2019 ada relawan Gereja di Amerika Serikat yang memberikan beasiswa kepada murid Sekolah Mimpi. Beasiswa ini menanggung biaya penuh untuk bersekolah di taraf SMA dan Perguruan Tinggi. Beasiswa ini berawal dari pihak Amerika Serikat tersebut datang untuk mengajar di kelas inspirasi pada tahun 2018, dan berhasil menjaga baik relasi mereka hingga terwujudnya program beasiswa tersebut. Saat ini, sebanyak 7 anak sudah diberi beasiswa untuk taraf SMA dan 1 mahasiswa di Salatiga.

Melalui Sekolah Mimpi, Dave mendapat banyak penghargaan, sebut saja dia terpilih sebagai Duta Pemuda Peduli Lingkungan oleh Kemenpora, Peraih Satu Indonesia Award di bidang pendidikan tingkat provinsi, menjadi delegasi Indonesia pada South East Asian Countries and Japan’s Conference.

Dave berharap prestasinya ini dapat memperbaiki cara berpikir bahwa pemuda-pemudi Maluku juga dapat diperhitungkan di panggung nasional maupun global.