SALATIGA, MettaNEWS — Perkembangan industri dan pembukaan lapangan kerja di Jawa Tengah dinilai tengah menunjukkan peluang besar bagi generasi muda. Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kompetensi, kualitas sumber daya manusia (SDM), serta mentalitas agar tenaga kerja lokal tidak kalah bersaing dengan pekerja dari luar daerah.
Pesan itu disampaikan Pemerhati Pembangunan Jawa Tengah, Dr. Zulkifli Gayo, saat menjadi pembicara dalam forum Ngobrol Inspiratif Bareng Anak Muda Salatiga yang diselenggarakan Gerakan Solusi Indonesia (GSI) di Joglo Tepi Sawah, Salatiga, Kamis (8/10/2026).
“Jangan kalah bersaing. Tingkatkan kompetensi sejak dini,” kata Zulkifli di hadapan mahasiswa dan pelajar yang mengikuti kegiatan tersebut.
Zulkifli menyoroti kesiapan mental dan kompetensi angkatan kerja muda di Jawa Tengah. Menurut dia, meskipun perkembangan industri dan pembukaan lapangan kerja di provinsi ini tengah berlangsung pesat, kesempatan tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh tenaga kerja lokal.
Ia menyebut pekerja dari luar daerah, seperti Jawa Barat dan DKI Jakarta, turut mengisi sejumlah lapangan kerja di Jawa Tengah. Kondisi itu, menurutnya, perlu menjadi bahan evaluasi bagi generasi muda agar lebih siap menghadapi kebutuhan dunia industri.
“Jawa Tengah pengembangan industrinya lagi bagus-bagusnya, pembangunan lapangan kerja lagi bagus-bagusnya. Namun, lapangan kerja kita itu kebanyakan orang Jawa Barat yang kerja di sini. Kenapa? Karena kita tidak mampu menyesuaikan kompetensi kita dengan kebutuhan lapangan kerja,” ujar Zulkifli.
Ia juga menyoroti tingkat turnover atau keluar-masuk pekerja di Jawa Tengah yang disebutnya mencapai 34 persen. Menurut Zulkifli, persoalan tersebut berkaitan dengan daya tahan mental dan ketidaksesuaian kompetensi pekerja dengan kebutuhan industri.
Mental Bertarung Jadi Pembeda
Zulkifli menjelaskan, kurikulum pendidikan dan kualifikasi pengajar di Jawa Tengah pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan daerah lain. Karena itu, ia menilai kesiapan mental untuk menghadapi tekanan dan tantangan pekerjaan menjadi salah satu aspek yang perlu diperkuat.
“Permasalahannya, apakah kurikulum di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan DKI Jakarta itu beda? Sama. Pengajarnya sama, kompetensi pengajarnya sama. Tapi ini terkait dengan mental, terkait dengan fighter,” tegasnya.
Ia mengingatkan, dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan akademis. Anak muda juga perlu membangun kedisiplinan, ketangguhan, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar ketika menghadapi tuntutan pekerjaan.
Zulkifli turut menyoroti pemanfaatan teknologi digital di kalangan generasi muda. Menurut dia, penggunaan teknologi masih perlu diarahkan lebih kuat untuk pengembangan diri, peningkatan keterampilan, serta produktivitas, bukan hanya untuk hiburan.
“Ternyata iliterasi kita di digital itu bukan untuk pengembangan diri, tapi untuk penghiburan. Akhirnya apa? Turnover-nya tinggi. Sedikit digenjot, melempem. Sedikit dimarahi, menangis,” tegasnya.
Ia berharap generasi muda mampu memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan, dan mempersiapkan diri menghadapi persaingan kerja yang semakin dinamis.
Potensi Industri Besar, Jangan Jadi Penonton
Dalam paparannya, Zulkifli menjelaskan bahwa industri pengolahan menyumbang sekitar 33 persen terhadap perekonomian Jawa Tengah, disusul sektor pertanian sebesar 27 persen.
Sejumlah kawasan industri baru juga telah disiapkan pemerintah. Kondisi tersebut membuka peluang bagi tenaga kerja lokal untuk mengambil peran lebih besar dalam perkembangan ekonomi daerah.
Namun, menurut dia, peluang itu dapat terlewat apabila anak muda tidak segera meningkatkan kualitas dan keterampilan sesuai kebutuhan industri.
Ia mencontohkan sektor otomotif yang membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi teknis spesifik. Zulkifli mempertanyakan sejauh mana tenaga kerja asal Jawa Tengah dapat terserap dalam industri yang tumbuh di wilayahnya sendiri.
“Sektor otomotif misalnya, cuma berapa dari Jawa Tengah yang bisa masuk ke dalam industri otomotif di tanah sendiri? Di industri kandang kita saja, kita menjadi penonton. Ini harus introspeksi diri kita,” tambahnya.
Karena itu, ia mendorong anak muda agar tidak hanya berorientasi pada kelulusan pendidikan formal, tetapi juga aktif mencari pengalaman, mengikuti pelatihan, serta mengantongi sertifikasi keahlian yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Kompetensi Lebih Penting daripada Mengandalkan Relasi
Menghadapi era post-truth dan ketidakpastian ekonomi global, Zulkifli mengingatkan generasi muda agar tidak menggantungkan masa depan pada relasi politik maupun fasilitas dinasti yang ia sebut sebagai “kordel”.
Menurutnya, kompetensi yang dibuktikan melalui kemampuan dan pengalaman akan menjadi modal penting untuk memperoleh kepercayaan serta kesempatan kerja.
Ia menekankan pentingnya tiga pilar yang harus berjalan beriringan, yakni penguasaan kompetensi teknis, sertifikasi keahlian, dan ijazah formal. Selain itu, jaringan pertemanan dan pengalaman berorganisasi juga perlu dimanfaatkan untuk memperluas wawasan serta membangun kemampuan interpersonal.
“Hanya orang-orang yang tidak memiliki kompetensi yang menggantungkan dirinya kepada kordel. Bagi orang yang memiliki kompetensi, pasti akan dicari. Saya salah satu pembuktinya, tidak memiliki keluarga di Jawa Tengah, tapi bisa sampai ke titik ini,” tegasnya.
Zulkifli berharap generasi muda mampu mempersiapkan diri secara mandiri sehingga dapat memanfaatkan peluang kerja yang tersedia tanpa harus bergantung pada bantuan atau kedekatan dengan pihak tertentu.
“Seminimal mungkin kehidupan yang ada di dunia itu adalah bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Caranya apa? Kalau sudah selesai kuliah, kita tidak menjadi pengangguran, agar tidak membebani negara ini,” tuturnya.
Diikuti 87 Anak Muda Salatiga
Forum Ngobrol Inspiratif Bareng Anak Muda Salatiga diikuti 87 peserta dari berbagai organisasi kepemudaan dan kalangan pendidikan, di antaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), OSIS, Pramuka, serta mahasiswa di Salatiga.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah pembicara, yakni Ketua Komisi Kejaksaan RI sekaligus Ketua Dewan Pembina Gerakan Solusi Indonesia (GSI), Prof. Pujiyono Suwadi; Kepala Kesbangpol Salatiga, Sri Sarwanti; dan Co-Founder GSI, Anas Syahirul.
Hadir pula perwakilan Tim Bank Jateng Cabang Salatiga, Windri Hastomo Adi Nugroho; Pemerhati Pembangunan Jawa Tengah, Dr. Zulkifli Gayo; Local Hero Salatiga, Ikhsan Naufal Dwilaksana; serta Pegiat Literasi Digital dari Umuka, Niken Satyawati.
Melalui forum tersebut, Gerakan Solusi Indonesia berharap mahasiswa dan pelajar di Salatiga dapat menentukan arah pendidikan serta pergaulan secara bijak. Dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan industri, mental yang tangguh, dan kemampuan mengembangkan diri, generasi muda diharapkan mampu menjadi SDM mandiri yang siap memasuki dunia kerja sekaligus berkontribusi bagi pembangunan daerah.








