Imbas Perang Rusia, China Gencar Cari Bahan Baku ke Seluruh Dunia, Industri Mebel Dalam Negeri Was-was 

oleh
oleh
raker HIMKI
Wakil Wali Kota Teguh Prakosa membuka Rakernas HIMKI di Solo, Jumat (17/3/2022) | Metta News / Puspita

SOLO, Metta NEWS – Perang antara Rusia dan Ukraina mempengaruhi kondisi global perekonomian. Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Nasional, Abdul Sobur menyampaikan industri mebel dan furnitur Indonesia juga terpengaruh dengan perang tersebut. Saat ini, pelaku usaha industri mebel dan furniture dalam negeri was-was dengan terganggunya pasokan bahan baku kayu China dari Rusia. 

“Yang paling disoroti oleh HIMKI ketika perang Rusia dan Ukraina adalah pasokan bahan baku kayu ke China terbesar adalah dari Rusia yang dikelola oleh sebuah perusahaan Jepang. Ketika China kesulitan mengakses bahan baku karena Rusia bermasalah mereka akan mencari bahan baku ke seluruh dunia,” ungkap Abdul Sofur saat ditemui di sela acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Himki di Solo, Jumat (18/3/2022). 

Menurut Abdul kondisi ini akan rawan bagi industri dalam negeri. Ia menegaskan hal ini mesti diwaspadai karena masalah keterbatasan bahan baku untuk China akan membuat industri dalam negeri anjlok. 

“Pemerintah memang sudah moratorium ekspor bahan baku. Tapi di kayu ini penampangnya bisa diperlebar. HIMKI meminta pemerintah memperkecil penampang. Pertahankan ekspor bahan baku yang eksisting jangan diperlebar karena kalau diperlebar China akan mengambil lebih besar,” tegasnya. 

Meskipun tidak mempunyai kayu berkualitas yang solid seperti Indonesia, Abdul menyebut pasar mebel dunia dikuasai oleh China dengan teknologinya. 

“Kita memiliki kekuatan di solid wood, jati, mahoni dan bahan rotan sementara China kayu apa saja dia pakai di enginering sedemikian rupa sehingga menjadi sangat efisien. Indonesia perlu untuk belajar engineering kayu seperti industri China, artinya kayu apapun kita coba pakai juga. Karena kayu apapun tumbuhnya di sini, China malah ga punya kayu sebanyak di kita,” jelasnya. 

Dengan mengikuti teknologi seperti China, Abdul menyebut industri mebel Indonesia tidak akan kalah dari China dalam mengolah bahan. Terlebih desain furnitur Indonesia diakui dunia. 

“Desain kita unik sekali bahkan dicari-cari oleh mereka. Karena itu pertumbuhan pasar kita naik. Tahun 2021 naik 30% ini belum pernah terjadi. Rata-rata kenaikan biasanya hanya 4-6% tiba-tiba di grojok kenaikan 30%. Fantastis sekali ini,” tandasnya. 

Dengan kenaikan ekspor 30% pada tahun 2021 tersebut, Abdul menjelaskan industri mebel dan furniture nasional membukukan tambahan 400 juta dolar AS dengan total nilai ekspor 3.4 miliar dolar atau setara 50 triliun. 

Kontribusi ekspor mebel dan furnitur, lanjut Abdul belum masuk 10 besar ekspor di Indonesia dan masih kalah dengan industri makanan dan minuman. Namun pihaknya menargetkan pada tahun 2024 ekspor mebel Indonesia akan masuk 10 besar. 

“Market dunia adalah 500 miliar dolar dan dikuasai oleh China.  Kalau kita ambil 5% saja sudah lumayan. Saat ini kita baru 3-4%. Tujuan ekspor terbesar adalah Amerika mendekati 50% total ekspor mebel Indonesia sisanya Uni Eropa dan negara lainnya. Eropa sangat terpengaruh karena covid dan perang Ukraina, untungnya 5 tahun terakhir ini kita masiv ekspor ke Amerika sehingga tidak terlalu terpukul,” imbuhnya.

Pada rakernas HIMKI yang diadakan selama 2 hari (17-18 Maret) tersebut, membidik event dunia G20 yang akan digelar di Solo. 

“Semula rakernas ini diadakan di Bali tapi kami pindah ke Solo karena membidik G20. Nanti teman-teman akan memamerkan produk unggulan dari Jateng dan Indonesia. Tidak besar tapi yang terbaik. Karena yang datang ke sini adalah presiden dari 20 negara, tapi mata dunia ⅔ lagi melihat. Dengan ini diharapkan terjadi kontrak besar dari negara-negara lain,” ungkapnya. 

Membuka rakernas HIMKI, Wakil Wali Kota Surakarta mengatakan, Indonesia perlu belajar teknologi industri kayu ke China untuk memperbaiki standar ekspor. 

Teguh menyebut meskipun bahan baku mebel China kalah dengan Indonesia namun China mampu menguasai pasar dunia dengan teknologi mebelnya. 

“Yang perlu diperhatikan adalah kualitas dan awetnya. China semuanya murah dan kualitasnya menyaingi Eropa. Kalau kita mau pakai tradisional ya ga papa tapi tidak pecah-pecah dan bisa bertahan 5 sampai 10 tahun,” tambahnya.