SOLO, MettaNEWS – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi membuat harga BBM eceran di Kota Solo juga naik. Terkini harga Pertalite berkisar di angka Rp 11.000 hingga Rp12.000 per botol. Sedangkan harga Pertamax tembus Rp 17.000 per liter.
Bambang (52), penjual Pertamax botolan di pinggir Jalan Kapten Piere Tendean, Nusukan Solo menjual Pertamax Rp 16.000 per botol saat harga resmi di angka Rp 12.500/liter. Kini saat harganya naik menjadi Rp 14.500/liter, Bambang menjual Rp 17.000 sebotol.
“Selama naik ini sepi pembeli berkurang, biasanya laku 20 botol sekarang 10 sampai 12 botol saja, kalau mau jual Pertalite susah karena kan nggak bisa kulakan pakai jeriken,” kata Bambang kepada MettaNEWS, Rabu (7/9/2022).
Untuk diketahui, botol yang lazim digunakan penjual bahan bakar eceran, tidak persis berukuran isi 1 liter, hanya sekitar 900 cc. Jika penjual membeli 10 liter BBM dari SPBU, bisa diisikan kira-kira untuk 11 botol.
Biasanya, Bambang kulakan di SPBU Stasiun Balapan sebanyak 16 liter dengan total pengeluaran Rp 200.000. Stok ini mampu laku dalam kurun waktu 2 hari. Susahnya kulakan Pertalite membuatnya memilih menjual Pertamax meski harga cenderung tinggi. Meski begitu, ia yakin laku lantaran jualannya di pinggir jalan yang ramai.
Pertamini Cuma Untung Seribu
Berbeda halnya dengan Victorianus Panca (58), pemilik Pertamini di pinggir Jalan Nayu 11 Nusukan Solo yang menjual Pertalite. Dengan dispenser yang mirip di SPBU, ia menjual per liternya Rp 11.000. Selisih Rp 1.000 jika dibandingkan penjual eceran warung maupun bengkel di sekitarnya.
“Hampir 90 persen kebanyakan yang beli Rp 10.000 dari sebelum naik juga sudah segitu karena ini kan bisa menyesuaikan permintaan pembeli, karena mesinnya bisa ngatur, tidak seperti botolan yang harus per liter,” terang Panca.
Meski begitu, ia tetap menyediakan Pertalite botolan dengan harga yang sama yakni Rp 11.000. Semula ia menjual per liternya Rp 8.800 dari harga semula Rp 7.650.
“Ya memang mau ambil berapa, paling seribu, sejak dulu juga ngambilnya seribu untungnya. Ini ambil (kulakan) sendiri pakai mobil diisi tangkinya 30 liter nanti baru dipindah, pokoknya habis beli habis beli,” jelasnya.
Baginya dengan menjual BBM lewat Pertamini membuat pembeli tak begitu merasakan dampak yang signifikan lantaran dapat membeli sesuai permintaan. Terlebih angka yang dapat disetting sesuai permintaan membuat pembeli dapat mengisi BBM di bawah literan.
“Enggak (pengaruh) biasa saja, karena belinya 10 ribu rata-rata, jadi dia ga merasakan kenaikannya, cuma volumenya berkurang kalau di sini beli di bawah Rp 11.000 bisa jadi kalau Rp 10.000 dapatnya 0,9 liter,” terangnya.
Memilih untuk mengambil untung Rp 1.000, ia berharap dapat membantu masyarakat dengan menyediakan BBM yang tak begitu tinggi jika dibandingkan harga di SPBU.








