SUKOHARJO, MettaNEWS – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)cabang Sukoharjo kembali mengelar aksi unjuk rasa tolak kenaikan tarif BBM Selasa (6/9/22) Sore di depan gedung DPRD Sukoharjo.
Dalam aksi ini HMI meminta DPRD Sukoharjo untuk menandatangani nota kesepakatan (MOU) terkait tuntutan yang mereka buat.
Ketua HMI Sukoharjo, Fierdha Abdullah Ali mengungkapkan 3 tuntutan yang pihaknya serukan.
“Yang pertama kami menurut DPRD Sukoharjo untuk menyatakan persetujuan menolak kenaikan BBM, kedua menurunkan tarif listrik dan yang terakhir memberantas mafia migas,” ungkapnya di sela-sela aksi (6/9).
Dikatakan, Aksi ini adalah buntut dari aksi sebelum kenaikan harga BBM pada tanggal 30 Agustus kemarin.
“Ini aksi kita untuk mengawal amanat rakyat tentang kenaikan BBM tersebut,” ungkapnya.
Sebelumnya, pada siang hari pihak DPRD, Kepolisian, TNI, Pertamina, Pos Indonesia, dan elemen mahasiswa telah melakukan audensi di UIN Raden Mas Said.
Namun, Fierdha mengaku tidak ada kejelasan dalam audensi tersebut. Ia beranggapan pihak seluruh stakeholder selain mahasiswa memberikan paparan yang normatif.
“Bahkan kami kaget, pihak pertamina juga baru mengetahui kenaikan BBM berbarengan dengan masyarakat. Kami dari elemen mahasiswa tadi melakukan walk out dalam audensi tersebut,” jelasnya.
Dari pantauan MettaNEWS di lokasi, mahasiswa menyerukan aksinya tepat didepan pintu masuk gedung DPRD sukoharjo. Bahkan, mereka sempat mencoba menerobos masuk dan adu dorong dengan kepolisian.
Selanjutnya Ketua DPRD Sukoharjo, Wawan Pribadi mendatangi masa dan melakukan audensi. Kemudian wawan bersama Fierdh menandatangani MOU terkait tuntutan mahasiswa.
“Tentang yang ditulis di MOU dan yang disampaikan mahasiswa semua kami akan sampaikan kami perjuangkan ke DPR RI,” tutup Wawan.







