Fisip UNS Rilis Hasil Survei Cawali Solo Gusti Bhre Kalah Populer tapi Kandidat Terbaik Wali Kota

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Nama KGPAA Mangkunegara X atau yang akrab disapa Gusti Bhre menempati kandidat terbaik jadi Wali Kota Solo. Data ini muncul dari hasil Survei Popularitas dan Elektabilitas Cawali Surakarta yang dilalukan oleh FISIP UNS, Jumat (23/8/2024).

Hasil survei tersebut menyebut meskipun kandidat terbaik Wali Kota Solo namun Gusti Bhre kalah populer dengan Kaesang Pangarep.

Survei dilakukan pada periode 13 – 22 Agustus 2024. Dengan peneliti Dr. Diah Kusumawati, M.Si, Dr. Faizatul Ansoriyah, M.Si, Sri Hastjarjo, Ph. D dan Nora Nailul Amal M.L.Med.Hos.

Survei tersebut menggunakan metode sampling dengan jumlah 577 responden yang ber KTP Solo. Yang tersebar di 5 kecamatan di Kota Solo. Metode penelitian yang digunakan dengan menyebarkan kuesioner terstruktur dengan lama wawancara rata-rata 20-30 menit untuk setiap responden. Dengan margin of error survei 4,08, sedangkan tingkat kepercayaan 95 persen.

Hal tersebut disampaikan Kepala Program Studi (Kaprodi) Ilmu Komunikasi, Sri Hastjarjo kepada wartawan di Ruang Sidang 1 Gedung I FISIP UNS, Jumat (23/8/2024).

Hastjarjo mengatakan meskipun ada tokoh yang disukai oleh banyak orang atau populer namun ada responden yang belum tentu memilih tokoh tersebut untuk menjadi wali kota Solo.

“Untuk tingkat popularitas nama Kaesang Pangarep masih paling tinggi, meraih 26,4 persen, Teguh Prakoso 16,8 persen dan Gusti Bhre 11,6 persen,” jelasnya.

Namun untuk kandidat terbaik dan kandidat yang dipilih oleh responden mengerucut pada satu nama yakni KGPAA Mangkunegara X.

Dilihat dari survei kandidat terbaik Mangkunegara X memperoleh 34 persen, disusul Teguh Prakosa 18,4 persen, Kaesang Pangarep 13 persen.

“Sedangkan dalam kategori untuk kandidat yang dipilih responden layak jadi wali kota kembali nama Gusti Bhre dengan total 31 persen. Dibawahnya ada responden yang memilih tidak tahu ada 28,1 persen. Dan Teguh Prakosa 16.6 persen. Disusul Kaesang Pangarep 8.7 persen,” tuturnya.

Hastjarjo menuturkan menggunakan beberapa kategori survei. Seperti spontan awareness, tingkat popularitas, kategori kandidat terbaik, kandidat yang dipilih responden.

“Jadi kesimpulannya ada tokoh yang popularitasnya tinggi tapi belum tentu dipilih oleh masyarakat untuk jadi Wali Kota Solo,” pungkas Hastjarjo.