SOLO, MettaNEWS – Jembatan Jurug B yang digunakan sebagai jembatan penghubung Kota Solo dengan Kabupaten Karanganyar resmi berfungsi lagi pada Selasa (5/9/2023).
Yang menarik dari jembatan ini adalah penggunaan hiasan batik kawung. Nama batik kawung diambil dari motifnya yang menyerupai kawung, berbentuk bulat melonjong.
Kawung merupakan buah kelapa, motif ini disusun secara geometris dan sejajar menyerupai bunga teratai dengan empat buah kelopak bunga. Dalam masyarakat Jawa, bunga teratai diartikan sebagai lambang kesucian dan umur yang panjang.
Motif batik kawung ini dibuat oleh salah satu Sultan dari kerajaan Mataram. Motif batik kawung ini pertama kali dikenal pada abad ke-13 tepatnya di Pulau Jawa. Motif batik kawung ini awalnya muncul pada ukiran dinding di beberapa candi di Jawa seperti pada Candi Prambanan.
“Karena batik kawung itu batik yang di pakai oleh masyarakat umum di Surakarta kalau parang kan tidak boleh dipakai hanya raja yang boleh memakai, sementara batik kawung mempunyai filosofi kesucian, kearifan lokal.” ujar Handrianus Bambang selaku GM Construction PT Baja Titian Utama, Selasa (5/9/2023).
Jembatan Jurug B dibuat dengan menggunakan jembatan model Callender-Hamilton, yang merupakan jembatan rangka pra-fabrikasi portable modular. Hal ini digunakan sebagai jembatan sipil permanen dan untuk penggantian jembatan darurat, selain itu untuk konstruksi teknik militer .
Dalam proses pembuatanya jembatan Callender-Hamilton ini memerlukan waktu yang lebih lama daripada jembatan Bailey, jembatan model ini lebih kuat dan sederhana dibandingkan jembatan Bailey.
Jembatan jurug B ini menggunakan struktur Lead Rubber Bearing (LRB), Lead Rubber Bearing merupakan bantalan karet Inti Timbal yang saat ini banyak digunakan jembatan di Indonesia. Struktur jembatan ini memiliki kemampuan redaman yang tinggi dan dibuat dari karet alam yang melimpah di Indonesia.
“Jadi pada saat terjadi gempa, gempa tidak naik ke struktur, jadi tidak merusak jembatan kita”. Ujar Fachrizal General superintendent PT BUKAKA Teknik Utama
Dengan menggunakan struktur ini, jembatan jurug B di klaim dapat bertahan hingga 100 tahun lamanya. Selain itu Jembatan Jurug B ini dilengkapi dengan SHMS (Structural Health Monitoring Sensor) yang digunakan untuk mengetahui berapa beban yang diterima oleh jembatan itu sendiri. Jika terdapat beban yang melebihi kapasitas lewat, SHMS akan memberikan kode warning kepada kantor pusat di Jakarta, lalu akan diberlakukan pengecekan. (Magang UMN/Stanley)








