SEMARANG, MettaNEWS – Di tengah kemeriahan MTQ Nasional XXXI Tahun 2026, produk khas Papua Tengah hingga kain tenun Lombok bertemu dengan masyarakat dalam Pameran Serambi Nusantara.
Digelar 12-19 September 2026, pameran tersebut bukan sekadar menjadi tempat memajang dan menjual produk. Pameran Serambi Nusantara menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan identitas, kreativitas, sekaligus potensi ekonomi daerah kepada masyarakat dari berbagai wilayah.
Salah satu peserta yang merasakan langsung geliat pameran tersebut adalah Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Beragam produk khas masyarakat Amungme dan Kamoro dibawa ke Semarang. Mulai dari kopi, mahkota khas Papua, noken, ukiran, hingga aneka kerajinan anyaman.
Sekretaris I Dekranasda Mimika, Lintje Siwabessy Paiman, mengatakan keikutsertaan dalam Pameran Serambi Nusantara menjadi kesempatan penting untuk memperluas pengenalan produk UMKM Papua Tengah kepada masyarakat di luar Papua.
“Kami sangat antusias karena mendapat kesempatan untuk mempromosikan produk-produk Kabupaten Mimika secara khusus, Provinsi Papua Tengah secara umum, serta Papua secara keseluruhan,” kata Lintje di lokasi pameran, Senin (14/9/2026).
Keunikan produk Papua menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Sejumlah noken yang dipamerkan, misalnya, dibuat dari serat pohon melinjo yang oleh masyarakat setempat disebut nemo, serta serat batang anggrek.
Tak hanya kerajinan, kekayaan pangan Papua juga ikut dibawa ke Semarang. Mi sagu, stik mangrove, keripik tambelo, sarang semut hingga buah merah dipamerkan sebagai bagian dari potensi ekonomi masyarakat Papua Tengah.
Antusiasme pengunjung bahkan membuat rombongan Dekranasda Mimika kewalahan melayani masyarakat yang datang ke stan mereka.
“Kami berusaha memanfaatkan kesempatan ini untuk mempromosikan produk, menjelaskan keunikannya, dan menarik sebanyak mungkin masyarakat agar mengunjungi stan Papua Tengah,” ujarnya.
Bagi Lintje, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pameran dalam rangkaian MTQ Nasional tidak hanya menjadi tempat bertemunya peserta dari berbagai daerah. Lebih dari itu, kegiatan tersebut membuka kesempatan bagi produk lokal untuk dikenal masyarakat yang lebih luas.
Ia juga mengapresiasi dukungan panitia selama pelaksanaan pameran. Menurutnya, kebersihan lokasi serta kemudahan koordinasi membuat peserta dari luar daerah merasa nyaman.
“Tempat pamerannya bersih dan setiap hari ada petugas yang membersihkan. Sejak pertama tiba dan melihat stan, kami langsung dilayani oleh perwakilan dinas perdagangan dan Kementerian Agama,” katanya.
Cerita serupa datang dari pelaku UMKM asal Nusa Tenggara Barat, Wiwit. Ia membawa beragam produk tenun khas Lombok, mulai kain, sarung, baju hingga celana.
Produk-produk tersebut ditawarkan dengan harga sekitar Rp200 ribu hingga Rp500 ribu. Menurut Wiwit, respons masyarakat Semarang terhadap produk yang dibawanya cukup menggembirakan.
“Alhamdulillah, antusiasme masyarakat di Semarang sangat tinggi. Banyak yang datang berkunjung dan berbelanja. Kami juga mendapat stan gratis serta fasilitas makan siang dan makan malam,” katanya.
Tak hanya Papua dan Lombok. Berbagai produk unggulan dari Jawa Tengah juga ikut meramaikan Pameran Serambi Nusantara. Makanan dan minuman khas daerah, kain batik hingga sarung turut dipamerkan.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, keterlibatan UMKM dari berbagai provinsi menunjukkan bahwa MTQ Nasional memiliki dampak yang lebih luas dari sekadar penyelenggaraan kompetisi keagamaan.
Menurutnya, perhelatan nasional tersebut sekaligus menjadi ruang perjumpaan budaya sekaligus penggerak aktivitas ekonomi masyarakat.
“Melalui MTQ, UMKM dari seluruh provinsi ikut menampilkan kearifan lokal masing-masing, baik makanan, kerajinan, fesyen, maupun produk lainnya,” ujar Luthfi.
Pameran Serambi Nusantara digelar di kawasan parkir Simpang Lima atau eks E-Plaza Semarang. Sebanyak 150 stan ikut ambil bagian, terdiri atas stan provinsi, kabupaten/kota, kuliner, kementerian, mitra, serta peserta mandiri.
Dari noken Papua hingga batik Jawa, dari tenun Lombok hingga aneka kuliner Nusantara, seluruhnya bertemu dalam satu ruang.
Pameran tersebut memperlihatkan satu wajah Indonesia: beragam budaya, kreativitas dan produk lokal yang bertemu dalam satu pasar, sekaligus membuka peluang bagi UMKM dari berbagai daerah untuk tumbuh bersama.








