Cerita Wahyudi, Shock Rumah Dua Lantainya Ditertibkan PT KAI, Dapat Ganti Rugi Rp 17 Juta Masih Dibagi dengan Pos Ronda

oleh
rumah
Puing-puing bangunan rumah Wahyudi di RT 6 Kelurahan Gilingan Kecamatan Banjarsari Solo (kanan) terdampak pembangunan viaduk PT KAI, Selasa (9/5/2023) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Wahyudi, warga RT 6 Kelurahan Gilingan Kecamatan Banjarsari Solo menceritakan keluh kesahnya usai rumah 2 lantai miliknya terdampak penertiban lahan PT KAI.

Rumah Wahyudi menjadi satu-satunya yang terdampak dalam pengerjaan proyek Viaduk Gilingan. Dengan mata berkaca-kaca Wahyudi mulai bercerita awal mula rumah selebar 61 meter persegi itu masuk daftar penertiban.

“Cuma gambar yang pertama kali dimunculkan. Namun berselang berapa bulan kok keluar lagi gambar bahwasanya ukuran rumah saya kena separuh saat itu. Lalu saya ketemu dengan pihak yang memberikan tanda itu saya tanyakan ketika itu nggak ngomong terus terang,” ujar Wahyudi saat berbincang dengan MettaNEWS, Selasa (9/5/2023).

Satu bulan sebelum pembongkaran, Wahyudi mengaku mendapat pemberitahuan penertiban rumahnya lantaran terdampak pengerukan viaduk. Informasi yang ia terima, rumahnya tersebut nantinya untuk lorong pejalan kaki menuju Masjid Raya Sheikh Zayed.

“Saat itu saya dipanggil ke PT KAI Solo Balapan  secara pribadi satu bulan yang lalu saya ditanyai sudah berapa lama di sana? saya sudah lama 26 tahun. Lalu setelah itu ada penertiban lahan karena rumah kami memang ada di pojok antara viaduk dan rel atau Jalan Ahmad Yani. Menurut informasi dari PT KAI memang akan ada pelebaran juga ada pengerukan di dalam viaduk. Setelah itu keluar jawaban kalau bawahnya itu akan ada lorong untuk pejalan kaki ke Masjid Zayed,” jelas dia.

Jadi Lorong Pejalan Kaki Masjid Zayed

Sebelum rumahnya rata dengan tanah, Wahyudi sempat meminta pelonggaran waktu untuk bertemu dengan Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka. Ia kemudian mendapat ganti rugi dan rusun Mangkubumen.

“Setelah saya minta waktu kurang lebih satu minggu  minta solusi ke mas wali dan selang seminggu sebelum hari h dua hari sebelum itu kebetulan saya bisa ketemu dengan beliaunya tanpa sengaja saya sampaikan,” terangnya.

“Selang beberapa saat PT KAI meminta izin untuk pengukuran bangunannya 61 meter persegi saat itu nggak tahu untuk siapa. Saya tanda tangan kesepekatan gambarnya sesuai yang mereka ukur dan setelah beberapa saat kemudian saya dipanggil di sana dan keluar yang namanya nominal,” sambung dia.

Wahyudi mengaku terkejut dengan uang yang ia terima. Pasalnya besaran uang tersebut dirasa tidak sesuai dengan kerugian yang ia alami. Pun ia hanay mendapat uang bongkar saja tidak termasuk nilai bangunan.

“Saya shock nominalnya ada 2 item, satu rumah pak Wahyudi, satu pos ronda Rp 17 juta, ternyata pos rondanya Rp 850 ribu sisanya rumah saya. Saya kaget saat itu saya pikir 17 itu 0 nya jatuh satu ternyata benar benar Rp 17 juta dan dari PT KAI itu sudah SOP PT KAI per meter Rp 250 ribu,” terang Wahyudi.

Wahyudi Terpaksa Numpang di Rumah Orangtua

Kini Wahyudi terpaksa menempati rumah peninggalan orangtuanya yang seharusnya ditempati oleh sang adik. Wahyudi pun merasa tidak ikhlas denga apa yang ia dapatkan.

“Saya pikir itu untuk ongkos bangunan ternyata di sana tertera hanya ongkos bongkar. Saya juga kepengin keluh kesah atau ketemu dengan mas Wali mbok menowo bisa mengetuk hatinya beliau yang menurut saya rumah saya yang semegah itu karena ada 2 lantai untuk kamar anak saya yang baru bangun sekitar kurang lebih 6 tahun habis sekitar Rp 10 juta,” kata Wahyudi.

Wahyudi masih ingin memperjuangkan ganti rugi yang sepadan dengan rumahnya. Ia bersikukuh untuk bertemu dengan Gibran.

“Kalau boleh ngomong tumbale baru saya ini kan katanya juga mau dibuat tiang pancang dulu. Saya nggak henti-hentinya berjuang saya pernah sampaikan ke DPRD juga sama pak lurah. Tapi malah diminta diterima saja. Seolah-olah mereka tidak berpihak ke saya tapi pemerintah. Uang segitu buat ngontrak setahun ya habis kan cepat,” tukasnya.

Terpisah, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka mengatakan bahwa ia telah memberikan fasilitas berupa rusun.

“Sudah kami fasilitasi rusun wis. Itu yang paling final? Sampun. Itu nanti juga buat Islamic Center,” ujar Gibran, Selasa (9/5/2023).