Cerita Pedagang Daging Anjing di Solo,  Turun Temurun 3 Generasi, Enggan Alih Profesi Meski Terus Terusik

oleh
Anjing
Agus Triyono (51) bersama para pedagang daging anjing Paguyuban Kuliner Solo Guk-guk berkumpul untuk meminta audiensi ke Pemkot Solo dengan komunitas pecinta hewan | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Kumpulan pedagang daging anjing yang tergabung dalam Paguyuban Kuliner Solo Guk-guk menjerit.

Ini menyusul mandeknya usaha yang mereka jalani sejak adanya penangkapan truk pengangkut ratusan anjing di Semarang pada 9 Januari lalu.

Koordinator paguyuban, Agus Triyono (51) mengatakan hadirnya komunitas pecinta hewan membuat pedagang sepertinya kalang kabut.

“Kita mau audiensi dengan Pemerintah dan pecinta anjing, biar kita duduk bersama mencari solusi. Kok lima tahun terakhir kita digoyang terus dengan pecinta anjing. Kita jualan sudah resah, terutama pengepul. Kita sudah ajukan (audiensi) tapi belum ada tanggapan,” kata Agus ditemui di Nusukan, Banjarsari, Solo.

Akibat sulitnya pasokan anjing, terpaksa Agus memulangkan karyawannya. Usahanya pun mandek. Agus dan para pedagang lainnya tak ada pemasukan.

“Pasokannya nggak ada, nggak ada yang ngambil di sana karena terus ditangkep itu. Jadi pada takut juga karena ada penangkapan penjara segala, kan sudah 3 kali ini,” kata dia.

“Yang pertama itu di Kulon Progo, itu teman saya itu juga pemasok. Di Sukoharjo itu juga pemasok, sama pedagangnya malah ditangkap, terus yang ketiga ini di Kali Kangkung ini. Terus nggak ada pemasukan,” imbuhnya.

Menurutnya, peminat daging anjing di Solo sangat tinggi. Dulunya pedagang olahan daging anjing bisa mencapai ratusan. Namun kini hanya 27 pedagang yang masih bertahan.

Melihat semakin sedikitnya jumlah pedagang. Ingatan Agus pun kembali di tahun 2004. Di mana ia dan pedagang lainnya diajak bertemu Joko Widodo (Jokowi) yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Solo.

Tak ada larangan saat itu. Para pedagang hanya diminta agar memperjelas dagangannya sebagai warung olahan daging anjing. Sebab, saat itu warung mereka menggunakan nama Sate Jamu.

Di tahun 2004 itu pak Jokowi pernah ngomong ben jagane ben do ra kleru (jaga-jaga biar tidak keliru-red). Kan gitu biar ga keliru sama warung-warung yang lain tolong namanya di perjelas. Kalau dulu namanya sate jamu terus disuruh pak Jokowi menggganti nama dengan kuliner daging guk-guk atau rica-rica guk-guk,” terang Agus.

Para pedagang pun setuju. Mereka lalu memperjelas nama warungnya. Namun tak lama setelah itu, masalah mulai bermunculan. Salah satunya ialah hadirnya pecinta hewan yang terus mengusik.

“Setelah ganti nama itu ada perbulakan. Kita dikerjar-kejar yang namanya DMFI (Dog Meat Free Indonesia-red) dan AHS (Animals Hope Shelter-red) itu  kejar-kejar kita. Diupload di media terus supaya tidak makan daging anjing,” ujarnya.

Meski permintaan audiensi tak kunjung ditanggapi. Mereka tetap meminta segera diberikan solusi dan regulasi. Sebab selama ini mereka telah mengikuti aturan yang ada. Termasuk pemeriksaan kesehatan daging anjing oleh dinas terkait.

“Hampir tiap tahun 2 kali didatangi, dimintai sample. Saya suruh cari sample otak itu sampai seratus pasang. Dan ternyatakan yang mengkonsumsi daging anjing nggak ada yang sakit. Saya sudah jalani usaha ini 25 tahun itu tidak ada komplain sama mereka, mereka baik-baik saja,” jelasnya.

Sebagai generasi ketiga, Agus enggan beralih profesi. Besar harapannya Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menggelar audiensi dengan komunitas pecinta hewan agar mereka tetap bisa melanjutkan berdagang daging olahan anjing seperti sedia kala.