SOLO, MettaNEWS – Agus Triyono (51), warga asal Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo menjadi generasi ketiga dari usaha kuliner sekaligus jagal anjing yang cukup sukses.
Terhitung ia telah menggeluti bisnis ini selama 25 tahun. Di temui di kediamannya, Agus menceritakan seluk beluk usahanya itu. Mulai dari dari mana ia mendaptakn pasokan anjing hingga berapa kilogram daging anjing yang ia jual setiap harinya.
Mettanews.id memulai dengan menyambangi kediaman Agus. Menurut penuturan Agus, ia menggunakan area belakang rumah dua lantai miliknya untuk menjagal anjing-anjing yang ia dapat dari pengepul Semarang.
Di lokasi jagal itu terdapat kendang, kerangka besi yang digunakan untuk menggantung anjing lengkap dengan pengaitnya. Ada pula alat pemotong daging, panci besar, telanan kayu hingga batu di sana.
Agus pun memiliki cara tersendiri untuk menyembelih anjing. Terlebih dulu anjing ia gantung selama 30 menit agar lemas.
“Metode menyembelihnya itu kalau saya ya saya gantung dulu terus saya potong. Motongnya ya kayak hewan pada umumnya, tapi kan kalau anjing kan buas, kalau langsung dipotong kan nggak bisa. jadi, digantung dulu itu. setelah lemas baru dipotong,” terang Agus.
Cara ini ia rasa lebih efektif ketimbang harus mengeluarkan banyak tenaga untuk memukuli anjing-anjing tersebut.
“Seperti orang gantung gitu ya lehernya dijerat. Anjing yang datang itu kan sudah dikarungi, ya memang ada yang dipukul-pukul sampai mati ada yang gitu. Tapi kalau saya pilih gantung gitu, mungkin bisa setengah jam baru lemas,” jelasnya.
“Di Batak itu ya darahnya malah dicampur masakannya, kan itu mungkin selera mereka beda beda. Kalau di Solo ya digantung terus dipotong, darahnya ya tetep keluar dan dibuang. Saya pernah motongin buat orang Batak darahnya dia minta setelah matang, darahnya disiram ke masakannya itu,” imbuhnya.
Selain menjadi jagal, Agus juga mempunyai warung olahan daging anjing. Dia biasa menjagal satu ekor anjing untuk kebutuhan warungnya. Meski begitu, dia juga menerima jasa jagal anjing untuk warung lain.
“Saya tidak menyuplai semua warung. Ada yang titip memotongkan, kalau kebutuhan saya cuma satu ekor,” ucapnya.
Dikatakannya seekor anjing bisa menghasilkan 10 kilogram daging, yang kemudian ia olah menjadi rica-rica. Satu porsinya, dia jual seharga Rp 25 ribu. Tak jarang Agus mampu menjual 100 porsi olahan daging anjing setiap harinya.
Sedangkan untuk daging mentah ia jual Rp 38.000/kilogram. Kini harga per kilogramnya melonjak drastis hingga Rp 50.000.
“Kalau misal ada pemasok ya lebih dari Rp 50 ribu per kilo. Gitu, kalau ada tapi pada nggak berani semua. Warung warung sekarang sudah pada tutup,” ujarnya.
Setelah puluhan tahun bisnisnya berjalan dengan lancar, Agus kini mulai resah. Keresahannya terjadi bahkan sejak 5 tahun terakhir. Ini bermula ketika komunitas pecinta hewan mulai mengusik-usik usahanya. Bahkan sudah satu bulan lamanya ia tak lagi menjagal anjing. Warungnya pun tutup.
“Lima tahun terakhir kita digoyang terus dengan pecinta anjing. Kita jualan sudah resah, terutama pengepul. Kita sudah ajukan (audiensi) tapi belum ada tanggapan. Pasokannya nggak ada, nggak ada yang ngambil di sana karena terus ditangkep itu. Jadi pada takut juga karena ada penangkapan penjara segala, kan sudah 3 kali ini,” ujarnya.
Dia berharap ada solusi yang diberikan atas kejadian ini. Pihaknya pun berharap ada audiensi dengan Pemkot Solo dan komunitas pecinta hewan terkait olahan daging anjing ini.








