Belajar dari Negara Maju, Indonesia Terapkan Kawasan Berbasis Inovasi Lewat Platform Kedaireka

oleh
Kemendikbud
Taklimat Anjangsana Beasiwa PMDSU Batch V di Jakarta, Selasa (15/11/2022) | Infopublik

JAKARTA, MettaNEWS – Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknonogi (Dirjen Diktiristek), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Nizam, menyampaikan Platform Kedaireka bisa menjawab permasalahan nyata di industri, masyarakat hingga pembangunan daerah. 

Upaya riset di Perguruan Tinggi ini juga dirasa dapat mengentaskan masalah stunting, kemiskinan, sosial,  demokrasi, maupun masalah sehari hari seperti pangan, sandang, papan dan teknologi informasi.

“Kedaireka kita luncurkan dengan tujuan untuk mendorong agar riset di perguruan tinggi itu berorientasi pada menjawab permasalahan nyata, menjawab problem-problem yang dihadapi oleh industri,” papar Nizam pada acara taklimat Anjangsana Beasiwa PMDSU Batch V di Jakarta, Selasa (15/11/2022) sore.

Menurutnya Kedaireka ini dapat mengatasai masalah industri mulai dari Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang masih rendah. Maupun bahan baku yang 100 persen impor. Termasuk bagaimana masyarakat dapat keluar dari industri tukang jahit menjadi industri yang  berbasiskan pada inovasi.

“Tidak ada pilihan lain, bagi bangsa ini. Kalau ingin keluar dari middle income trap selain bergerak dari ekonomi berbasis pada produktivitas sumber daya manusianya, efesien driven economy, pada upah buruh yang murah, menuju pada ekonomi berbasis inovasi,” terangnya.

Ia menilai tidak ada satu negara maju pun yang ekonominya tidak berbasis pada inovasi, kecuali sumber daya alam yang sangat melimpah seperti Saudi Arabia atau Brunei yang kaya dengan minyak. Negara-negara itu pun sekarang sudah beralih pada ekonomi berbasis inovasi.

“Jadi negara-negara yang tadinya mengandalkan kekayaan alam pun sudah sadar ke depan tidak mungkin lagi bisa mengandalkan sumber daya alam,” ujarnya.

Baginya Indonesia juga memiliki kekayaan alam yang sangat subur. Dengan posisi negara yang tropis ini ia melihat sebagai obsesi yang bisa mewujudkan kedaulatan teknologi, kedaulatan ilmu pengetahuan dan kedaulatan ekonomi yang lebih kokoh dan solid.

“Jadi saya berharap adik-adik sekalian dengan bekal pengetahun, dengan bekal pengalaman S3 ini, jadikanlah itu sebagai bekal untuk membangun obsesi, obsesi untuk mewujudkan kedaulatan Indonesia di dalam teknologi, di dalam ekonomi, di dalam inovasi,  melalui inovasi,” terangnya.

Disebutkan, selama dua tahun ini Kedaireka, sudah diikuti oleh lebih 1700 peneliti,  berkolaborasi dengan mitra industri, dan satu dua mulai ada hasilnya. Kemarin di Bali kita luncurkan juga Bus Listrik Merah Putih. Meskipun penelitian kita tentang Molena Bus Listrik Nasional, sudah dimulai  sejak 10 tahun yang lalu.  Tapi sejauh ini baru gesit yang sudah diproduksi, dan TKDN nya juga belum tinggi.

“Kita melalui Platform Kedaireka, kolaborasi  perguruan tinggi dengan INKA Alhamdulillah dalam waktu 8 bulan dari mulai belum ada apa-apa, menggambar desain, mewujudkan desain sampai menjadi kendaraan Bus Lisrik Merah Putih, dilakukan hanya dalam waktu 8 bulan dan TKDN nya 81 persen,” katanya.

TKDN 81 persen bisa dicapai dengan kerja keras sungguh sungguh. Obsesif penggerak perguruan tinggi yang bergabung dalam konsorsium untuk menyiapkan bus listrik merah putih negara.

“Jadi dengan obsesif itu bisa terwujud. Kemarin sudah didilever itu 24 bus merah putih,  meskipun yang 20 masih TKDN  nya sekitar 60 persen, tapi yang 9 itu TKDN nya sudah 90 persen , dan sudah ada yang 81 persen. “Jadi itu, kalau kita serius, kita sungguh-sungguh obsesif tadi, kita bisa mewujudkannya,” ujarnya.

Selain inovasi bus merah putih, mahasiswa UNAIR juga berhasil mengahasilkan vaksin merah putih, inavac. Inavac merupakan vaksin yang berbeda dengan yang dikembangkan oleh Biofarma. Ia mengklaim Inavac ini betul-betul 100 persen karya merah putih.

Dengan banyaknya inovasi yang ada, ia percaya bangsa Indonesia dapat menghadapi tantangan. Daya saing yang dimiliki juga dapat menjadi satu para meter yang paling banyak diukur adalah seberapa daya saing perguruan tingginya. Sehingga ketika banyak perguruan tinggi terobsesi untuk masuk peringkat dunia maka Indonesia akan semakin maju.