SOLO, MettaNEWS – Banjir yang melanda Solo pada Kamis 16 Februari kemarin menjadi banjir yang terbesar setelah tahun 2007 silam.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Maryadi Utama membantah keluaran air dari Bendungan Waduk Gajah Mungkur (WGM) bukan satu-satunya penyebab banjir.
“Terkait informasi keluaran air Waduk Gajah Mungkur ini membuat satu-satunya penyebab banjir. Dan ini bukan merupakan luapan dari sungai Bengawan Solo karena pembukaan pintu air waduk. Ini merupakan drainase-drainase yang berada di Kota Solo. Tidak bisa menampung karena hujan yang sangat lebat. Dan ini melebihi kapasitas tampung saat itu,” tegas Maryadi di Kantor BBWS Senin, (20/2/2023).
Maryadi menyebut pihaknya secara bertahap meneruskan skema pengendalian banjir sungai Bengawan Solo. Seperti WGM dan Waduk Pidekso. Dan masih melanjutkan pembangunan bendungan berikutnya.
“Selain curah hujan yang tinggi perubaham tata guna lahan juga menjadi penyebab banjir. Climate change serta kurangnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Membuang sampah sembarangan dan banyak petani yang menanam tanaman semusim. Sehingga menyebabkan erosi, juga pendangkalan sungai menambah parahnya dampak banjir,” paparnya.
Maryadi mengungkapkan, pihaknya.bersama dinas terkait sudah melakukan upaya. Dengan mengaktifkan 15 stasiun pompa, serta mengerahkan 4 mobil pump selama 2 hari kemarin.
“Dan teman-teman kota punya 10 pompa pada masing-masing lokasi. Kita kejar-kejaran. Teman- teman standby dan terus memompa. Karena curah hujan dan durasinya sangaat lama kita masih kekurangan pemompaan nya. Karena kapasitas dan luarannya waktu itu kita perhitungkan punya BBWS. Sekitar 22 ribu liter perdetik itu keluaran dari BWBS. Itu terus kita pompa airnya dan Sabtu (18/2/2023) pagi sudah mulai surut semua,” beber Maryadi.
Maryadi berharap khususnya dengan Pemerintah Kota dan Kabupaten untuk lebih banyak membuat lubang-lubang biopori, sumur resapan dan menampung air hujan. Hal ini untuk mengurangi dampak yang lebih besar bila terjadi banjir.
PLH PJT Perum Jasa Tirta 1 Miflan Rantawi menambahkan, saat membuka pintu air Bendungan WGM sudah melakukan koordinasi dengan BBWS, BPBD wilayah yang masuk dalam aliran Bengawan Solo.
“Pembangunan Bendungan WGM ini untuk pengendalian banjir, juga untuk irigasi, ketahanan air PDAM, sekaligus untuk pembangkit listrik. Dengan fungsi tersebut kami melakukan penyeimbangan, bagaimana air bisa optimal, tetapi tidak merusak,” kata Miflan.
Saat curah hujan tunggi kemarin, Miflan mengatakan pihaknya membuka pintu air karena volume air di WGM sangat tinggi.
“Hujan yang mengguyur kawasan Kabupaten Wonogiri pada 13-17 Februari, membuat 176 meter kubik air masuk ke WGM. Ketinggian air waduk sudah mendekati ambang batas pada posisi siaga merah atau awas,” tukasnya.
Dengan kondisi itu, ia mengatakan WGM mengeluarkan 51 juta meter kubik untuk menyeimbangkan kembali batas aman tampungan waduk.
“Kalau melepas 20 juta meter kubik, efeknya pada bendungan akan lebih besar. Kalau 100 juta meter kubik kita lepas, hitungan kami sampai ke hilirnya ceritanya akan lebih ramai lagi. Yang tadinya genangannya 20 centimeter bisa jadi setengah meter. Sehingga kita cari yang paling optimal dan minimal dampak negatif,” tandasnya.
Tidak hanya kali ini banjir cukup besar menerjang Kota Solo. Sebelumnya pada tahun 2007 lalu banjir besar terjadi. Banjir kembali terjadi pada tahun 2017, dan kembali terjadi tahun 2023 ini.








