Bayi Kebo Pusaka Keraton Surakarta Berusia Satu Hari Mati, GKR Timoer : Sudah Tak Mau Dimomong

oleh
GKR Timoer Rumbai memeriksa kondisi kerbau pusaka Keraton Surakarta di kandangnya | MettaNews/Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Menjelang satu Sura pada Jumat, (29/7) malam mendatang, anakan kerbau (gudel) albino atau kebo bule milik Keraton Surakarta mati pada Minggu (24/7/2022) pukul 17.00 WIB. Anakan ini merupakan buah perkawinan kebo kawanan inti Kirab Pusaka 1 Sura, Nyai Juminten kebo betina berusia 10 tahun dan Somali kebo jantan berusia 12 tahun.

Baru berusia satu hari usai dilahirkan pada Kamis, (21/7/2022) rencananya anakan kebo ini akan dibancaki (syukuran Jawa pemberian nama) pada Rabu pekan ini. Sayangnya kondisi yang terus melemah sejak lahir ditambah tak dapat asupan air susu dari induknya membuat kondisi kesehatannya semakin memburuk.

Ketua Pengelola Alun-alun Selatan, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Timoer Rumbai Kusuma Dewayani mengatakan kondisi induk kebo yang terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) membuatnya tak bisa menyusui sang anak.

“Kan kemarin lahiran, memang si Ibu sedang kena PMK, kondisinya memang lemah nggak mau makan ibunya, terus kemudian saya datangkan dokter sudah diperiksa sudah disuntik dua-duanya, diberikan suntikan vitamin, tetapi dari kemarin sampai siang tadi itu si anak nggak mau nyusu,” beber GKR Timoer kepada MettaNEWS, Minggu (24/7/2022) malam.

Meski telah diberikan suntikan vitamin dan susu tambahan tiap 2 jam sekali, kesehatan anakan kebo ini terus melemah.

“Tadi siang masih mau didoti, sedikit-sedikit tapi mungkin karena sudah tidak mau dimong mungkin saya juga sedih sekali tadi meninggalnya jam 5,” tambahnya.

Belum genap sepekan sejak adanya kematian kebo betina berusia 20 tahun, kematian gudel ini membuat luka mendalam bagi Keraton Surakarta. Pihaknya pun berharap hal ini tak menjadi pertanda buruk.

“Mudah-mudahan tanda-tanda seperti ini bukan menjadi pertanda tidak baik, kita berdoa saja,” terang GKR Timoer.

Kematian anak kebo ini tak menjadi kematian kebo dengan usia muda, dikatakan GKR Timoer kematian anak Nyai Juminten dan Somali terjadi akibat perkawinan yang terlalu dekat.

“Enggak [paling muda], ada beberapa karena kan mungkin perkawinan yang terlalu dekat kan bisa jadi ada beberapa yang meninggal seperti itu,” jelasnya.

Lebih lanjut, anakan kebo dimakamkan sesuai tradisi yakni dimandikan, dikafani lalu ditaburi bunga dalam kuburnya di Kandang Mahesa Pusaka sisi barat.

Sementara itu Somali, bapak anak kebo yang mati juga tak napsu makan dan masih dalam proses pemulihan PMK bersama 5 ekor kebo yang lain.

“Masih 7 kita tunggu Senin dokternya periksa lagi, karena Sabtu yang dua paling utara tidak divaksin karena terindikasi ada kemungkinan PMK,” kata GKR Timoer.

Kondisi kaki kebo yang pincang juga membuat pihaknya akan fokus pada pemulihan sesuai waktu yang diarahkan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kota Solo. Dengan ini pihaknya menyatakan tak ada kerbau di Kirab Pusaka 1 Sura Jumat, (29/7) malam mendatang.

“Sudah jelas nggak bisa, karena Dinas sendiri, bukan saya yang menyatakan nggak bisa, dari dinas sendiri seperti itu, dan sayanglah sedang dalam pemulihan disuruh jalan, ini aja masih pincang-pincang,” tukasnya.