Astrid Widayani: Perempuan di Ruang Publik Harus Jadi Penggerak Perubahan Sosial

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, menegaskan bahwa peran perempuan di ruang publik tidak boleh berhenti sebatas simbol keterwakilan. Perempuan, menurutnya, harus hadir sebagai penggerak perubahan yang mampu menghadirkan dampak sosial nyata bagi masyarakat.

Penegasan tersebut disampaikan Astrid saat menjadi narasumber dalam Kuliah Ramadan jelang berbuka puasa bertema

“Perempuan dalam Ruang Publik: Bertumbuh dalam Tanggung Jawab Sosial dan Kebermanfaatan” di Masjid Nurul Huda, Jumat (27/2). Kegiatan ini dihadiri jajaran pimpinan kampus, mulai dari rektor, wakil rektor, profesor, dosen, hingga sivitas akademika.

Dalam paparannya, Astrid menyoroti semakin terbukanya ruang bagi perempuan di berbagai sektor strategis, seperti pemerintahan, pendidikan, hingga sosial kemasyarakatan. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keterbukaan akses tersebut harus diiringi dengan orientasi kebermanfaatan bagi masyarakat luas.

“Perempuan di ruang publik bukan hanya tentang representasi, tetapi tentang kontribusi nyata. Bagaimana kita bisa bertumbuh sekaligus memberi dampak positif bagi masyarakat,” ujar Astrid.

Ia juga menekankan bahwa kehadiran perempuan dalam proses pengambilan kebijakan publik mampu menghadirkan perspektif yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

“Kita ingin perempuan tidak hanya hadir, tetapi juga memimpin dengan empati, integritas, dan solusi. Ruang publik membutuhkan kepemimpinan yang peka terhadap persoalan sosial,” lanjutnya.

Astrid menilai dunia kampus memiliki peran strategis dalam membangun karakter kepemimpinan perempuan. Menurutnya, institusi pendidikan merupakan ruang penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kekuatan moral dan kepedulian sosial.

Momentum Ramadan, kata Astrid, menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat refleksi diri dan nilai-nilai empati dalam kehidupan bermasyarakat.

“Ramadan mengajarkan kita tentang empati dan tanggung jawab sosial. Ini menjadi fondasi penting bagi siapa pun yang ingin berkontribusi di ruang publik,” ucapnya.

Kegiatan Kuliah Ramadan tersebut berlangsung khidmat dan ditutup dengan sesi diskusi interaktif menjelang berbuka puasa. Forum ini diharapkan menjadi awal kolaborasi konkret antara Pemerintah Kota Surakarta dan dunia akademik dalam mendorong pemberdayaan perempuan yang berkelanjutan serta berdampak luas bagi masyarakat.