SOLO, MettaNEWS – Kisah perjuangan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS), dr. Supandi Hasan, Sp.PD-Fel (Onk), menjadi pesan inspiratif bagi mahasiswa baru UMS.
Dalam kegiatan Ekspo UKM UMS, Kamis (10/9/2026), Supandi mengajak ribuan mahasiswa untuk berani bermimpi, menentukan masa depan, serta terus mengembangkan ilmu dan keterampilan selama menempuh pendidikan di UMS.
Dokter yang akrab disapa Hasan itu mengawali orasinya dengan mengajak mahasiswa membayangkan kehidupan mereka satu dekade mendatang.
“Sepuluh tahun yang akan datang akan jadi apa?” tanyanya kepada mahasiswa.
Pertanyaan tersebut kemudian ia kaitkan dengan perjalanan hidupnya. Hasan mengaku berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Sang ibu hanya menempuh pendidikan hingga sekolah dasar, sementara ayahnya tidak mengenyam pendidikan formal.
Namun, keterbatasan tersebut tidak membuat Hasan berhenti bermimpi. Ia justru menjadikannya sebagai dorongan untuk terus berjuang dan membuktikan bahwa masa depan tidak semata-mata ditentukan oleh latar belakang keluarga.
“Tidak peduli anak siapa, jadilah diri sendiri. Karena syubbanul yaum rijalul ghod, pemuda masa kini adalah pemimpin masa depan,” ujarnya.
Hasan juga mengajak mahasiswa untuk memiliki keyakinan terhadap kemampuan diri dan berani memberikan kontribusi bagi masyarakat.
“Katakanlah, inilah saya, saya yang berjuang dan saya akan bermanfaat untuk masyarakat,” katanya.
Hafal Al-Qur’an 30 Juz dalam Dua Tahun
Di hadapan mahasiswa baru, Hasan turut membagikan salah satu bagian penting dalam perjalanan hidupnya, yakni pengalaman menghafal Al-Qur’an 30 juz.
Ia mulai menghafal Al-Qur’an ketika menempuh pendidikan di Pesantren Tahfidzul Qur’an Isy Karima. Program pendidikan tersebut ditempuh selama empat tahun. Namun, Hasan mampu menyelesaikan hafalan 30 juz hanya dalam waktu dua tahun.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal yang menurutnya memberikan warna dalam perjalanan hidup hingga mencapai cita-cita.
Ia berharap keberkahan Al-Qur’an juga dapat menjadi kekuatan bagi mahasiswa UMS dalam menempuh pendidikan dan mengejar cita-cita.
Hasan bahkan mengungkapkan bahwa sejak duduk di kelas tiga SMP, ia telah menuliskan cita-cita untuk menjadi seorang hafiz Al-Qur’an sekaligus dokter.
“Ternyata saya dulu di kelas tiga SMP itu saya menulis bahwa cita-cita saya sebagai seorang hafiz Quran dan dokter. Dan Alhamdulillah Allah membukakan itu,” ungkapnya.
UMS Diharapkan Lahirkan Pemimpin Masa Depan
Hasan mengaku senang melihat antusiasme mahasiswa baru UMS. Ia berharap dari ribuan mahasiswa tersebut akan lahir pemimpin masa depan yang mampu memberikan kontribusi bagi bangsa dan masyarakat.
“Saya senang melihat tadi ada calon pemimpin masa depan. Saya berharap mereka menjadi pemimpin yang lahir dari rahim UMS,” ungkapnya.
Menurut Hasan, menjadi pemimpin tidak selalu berarti menduduki jabatan pemerintahan. Kepemimpinan dapat diwujudkan melalui berbagai bidang profesi dan keahlian.
Ia mendorong mahasiswa untuk tidak membatasi cita-cita mereka.
“Jangan pernah berhenti bermimpi. Dari delapan ribu mahasiswa itu saya berharap mereka jadi pemimpin masa depan. Jadi dokter, engineer, insinyur, kemudian jadi dosen, kemudian peneliti. Atau profesi yang hebat lainnya,” tuturnya.
Jangan Hanya Kejar IPK
Selain mengejar prestasi akademik, Hasan mengingatkan mahasiswa baru agar memanfaatkan masa kuliah untuk membangun keterampilan.
Menurutnya, ilmu akademik memang menjadi fondasi penting agar mahasiswa memiliki kompetensi. Namun, kemampuan tersebut perlu dilengkapi dengan berbagai keterampilan yang menunjang kehidupan profesional.
“Selama di UMS jangan cuma mengejar IPK atau akademik saja. Memang ilmu itu penting karena dengan ilmu kita bisa kompeten. Tapi yang kedua adalah skill,” jelasnya.
Ia menyebut networking dan public speaking sebagai sejumlah keterampilan yang perlu dikembangkan mahasiswa sejak dini.
Dengan perpaduan ilmu dan keterampilan, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu bersaing di dunia kerja, tetapi juga memberikan kebermanfaatan yang lebih luas.
“Dengan dua hal tersebut, ilmu kemudian skill, kita bisa memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat secara luas,” katanya.
Pesan untuk Mahasiswa dari Keluarga Kurang Mampu
Di akhir orasinya, Hasan secara khusus memberikan semangat kepada mahasiswa yang mungkin memiliki keterbatasan ekonomi.
Ia mengaku pernah berada dalam situasi ketika merasa tidak memiliki harapan karena berasal dari keluarga kurang mampu. Namun, ia memilih untuk tetap berjuang dan menjadikan Al-Qur’an sebagai salah satu pegangan hidup.
“Saya dulu sempat tidak ada harapan karena orang tua dari background orang tua yang tidak mampu. Tapi saya memiliki Al-Qur’an. Dengan Al-Qur’an saya berharap mendapatkan keberkahan dari Al-Qur’an. Makanya Allah membukakan jalan cita-cita saya,” ujarnya.
Menurut Hasan, keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk menyerah terhadap pendidikan. Saat ini, berbagai peluang beasiswa tersedia bagi mahasiswa yang membutuhkan dukungan untuk melanjutkan pendidikan.
Karena itu, ia berpesan kepada mahasiswa agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang dimiliki selama berada di bangku kuliah.
“Yang paling penting adalah belajar, berjuang, kemudian jangan melupakan Allah,” pungkasnya.








