SOLO, MettaNEWS – Data terbaru, sebanyak 49.410 perempuan tercatat menjadi kepala keluarga di Kota Surakarta. Dari jumlah tersebut, sekitar 14.700 perempuan kepala keluarga (PEKKA) masih berada dalam kondisi rentan secara ekonomi atau rentan miskin dan membutuhkan pendampingan agar dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Data tersebut disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Surakarta, Kristiana Hariyanti, A.Pi., M.Si., M.M., dalam seminar “Penguatan Pemberdayaan Masyarakat bagi Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA)” yang digelar Pusat Studi Pemberdayaan Masyarakat LPPM Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) bersama DP3AP2KB Kota Surakarta, Kamis (10/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula UNISRI Kampus I tersebut diikuti 54 Ketua PEKKA dari 54 kelurahan se-Kota Surakarta. Para peserta diharapkan dapat menjadi penggerak program pemberdayaan perempuan di wilayah masing-masing.
Kristiana mengatakan, pemerintah terus berupaya meningkatkan kapasitas perempuan kepala keluarga melalui berbagai program pelatihan. Penguatan keterampilan dinilai penting agar para PEKKA semakin berdaya, memiliki kepercayaan diri, sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Di Kota Surakarta terdapat 49.410 perempuan kepala keluarga. Dari jumlah tersebut masih terdapat 14.700 perempuan kepala keluarga yang rentan secara ekonomi atau rentan miskin yang perlu pendampingan agar mereka dapat keluar dari kerentanan tersebut,” jelas Kristiana.
Menurutnya, pelatihan yang diberikan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan, tetapi juga mendorong kemandirian para perempuan kepala keluarga dalam menjalankan aktivitas ekonomi.
UNISRI Siap Perkuat Pendampingan
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNISRI, Dr. Marjam Desma Rahadhini, SE., M.Si., menegaskan komitmen perguruan tinggi untuk ikut memperkuat program pemberdayaan yang dilakukan pemerintah.
UNISRI, kata Marjam, siap berkolaborasi dengan DP3AP2KB untuk memberikan motivasi sekaligus meningkatkan keterampilan para perempuan kepala keluarga.
“UNISRI siap mendampingi upaya yang dilakukan Dinas untuk membantu memotivasi dan menambah keterampilan para PEKKA. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk pemberdayaan PEKKA antara lain: memperkuat program pelatihan, memperluas jangkauan kolaborasi, dan membangun ekosistem yang mendukung kemandirian ekonomi perempuan,” ujarnya.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah dinilai penting karena pemberdayaan PEKKA membutuhkan proses yang berkelanjutan. Tidak hanya pelatihan, tetapi juga pendampingan dan perluasan akses terhadap berbagai peluang ekonomi.
Ketua PEKKA Jadi Motor Penggerak
Ketua Panitia sekaligus Kepala Pusat Studi Pemberdayaan Masyarakat LPPM UNISRI, Dorothea Ririn Indriastuti, SE., M.Si., mengatakan seminar tersebut mendapat sambutan antusias dari para peserta.
Menurutnya, perempuan kepala keluarga memiliki peran ganda karena harus mengelola rumah tangga sekaligus menjadi pencari nafkah bagi keluarga.
“PEKKA adalah para perempuan yang mengelola rumah tangga sekaligus sebagai pencari nafkah bagi keluarga. Dengan semakin berdaya dan percaya diri, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ungkap Ririn.
Ia berharap sinergi antara LPPM UNISRI dan DP3AP2KB Kota Surakarta tidak berhenti pada seminar, tetapi berlanjut dalam berbagai program nyata.
“Ke depan kami berharap sinergi LPPM UNISRI dan DP3AP2KB terus berlanjut dalam bentuk pelatihan, pendampingan, dan program pemberdayaan berkelanjutan,” imbuhnya.
Melalui kegiatan tersebut, para Ketua PEKKA diharapkan mampu menjadi motor penggerak di 54 kelurahan. Mereka dapat meneruskan pengetahuan dan menggerakkan program pemberdayaan di lingkungan masing-masing.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat kemandirian ekonomi perempuan sekaligus menekan jumlah perempuan kepala keluarga yang masih berada dalam kondisi rentan ekonomi di Kota Surakarta.
Sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat, LPPM UNISRI selama ini turut berperan dalam pemberdayaan melalui kajian, pelatihan, dan pendampingan. Penguatan kapasitas kelompok rentan, termasuk perempuan kepala keluarga, menjadi salah satu fokus dalam upaya tersebut.








