Alami Korosi, Warga Tagih Janji Perbaikan Kontruksi Jembatan Sadinoe

oleh
Jembatan Kali Toklo
Jalan Jembatan Kali Toklo di Kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari masih diberi pemberitahuan jalan satu arah, Kamis (23/6/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Kontruksi besi jembatan Sadinoe atau Kali Toklo Kelurahan Keprabon Kecamatan Banjarsari alami kerusakan di sisi kanan bawah. Di mana tiga besi jembatan ini melengkung akibat korosi lantaran sudah berusia 30 tahun. Berdasarkan keterangan warga kerusakan ini sudah terjadi setahun yang lalu, meski telah dilakukan survei dari Dinas Perhubungan Solo dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) namun perbaikan tak kunjung dilakukan membuat warga khawatir kontruksi jembatan akan patah.

Salah satu warga RW 5 Komunitas Sekar Lepen yang tak ingin namanya disebut mengatakan tidak adanya perawatan untuk Jembatan Kali Toklo membuat kerusakan tak terelakkan.

“Awalnya ini selokan Mangkunegaran karena ada perbaikan aliran air Kampung Baru menuju belakang BNI, maka sekarang dari Kampung Baru volume airnya makin besar. Volume mobil yang lewat makin banyak perawatannya nggak ada, masalah perawatan PO nya gimana kita nggak ngerti yang jelas ini kondisi yang ada,” ungkapnya saat ditemui MettaNEWS di Jembatan Kali Toklo, Kamis (23/6/2022).

Selain itu, pihaknya juga menyebut kontruksi besi tak pas lantaran tak memasuki jalan dan dicor beton. Selain itu talut disepanjang Kali Toklo juga alami kerusakan, sehingga dirinya berharap talut dapat diperbaiki dan dicor beton.

“Sambungannya nggak pas kalau di sini sambungannya nggak sampai menyentuh aspal. Besi itu harus dicor, rembasan air basah menimbulkan korosi yang besar,” jelasnya.

Kondisi besi yang melengkung berkarat ini telah disurvei pihak DPUPR dan Dishub dengan melakukan penutupan satu ruas jalan agar tak banyak yang melewati sisi kanan jembatan yang dapat patah dan akan membahayakan pengendara jika roboh.

“Nggak nunggu korban ada mobil nggoling (terguling) baru diperbaiki baru. Saya cuma menghimbau saja kalau mau diperbaiki segera, jangan sampai menimbulkan korban baru ada perbaikan. Kalau nunggu musim apa musim diketahui, tidak bisa memperediksi hujan, anomali cuaca nggak bisa diubah. Tapi manusia diberi akal pengetahuan untuk mengatasi semua,” tutupnya.

Selain itu kondisi jembatan saat hujan membuat debit air setinggi 2-3 meter membuat adanya gerakan air di dalam tanah dan mempengaruhi pondasi, pihaknya menyebut hal ini secara otomatis mempengaruhi bangunan di atasnya.

Lurah Keprabon, Rina Andriani membenarkan adanya survei dari DPUPR dan pihak ketiga untuk mengecek bagian bawah sisi kanan dari jalan searah yang termakan usai dan sudah waktunya diperbaiki. Ia pun mengungkapkan kondisi jembatan pertama kali diketahui dari adanya laporan Toko Sadinoe yang melakukan bersih-bersih di bawah jembatan.

“Ini kita tinggal menunggu jadwal perbaikan. Sementara dari Dishub sudah melakukan penutupan sebagain sisi kanan. Ini nanti sudah akan diperbaiki rencananya dibongkar semua nunggu jadwalnya dari DPUPR. Kunjungan satu bulan yang lalu, Mei dari kelurahan Dishub, DPUPR dan penyedia yang akan membangun,” terang Rina saat ditemui MettaNEWS di Kantor Kelurahan Keprabon, Solo.

Selain itu ia kembali membenarkan adanya kerusakan talut. Sudah mengajukan permohonan untuk perbaikan dan dilakuakn survei DPUPR, beberapa bangunan di pinggir sungai membuat renovasi perbaikan terkendala lantaran harus menunggu bangunan dihilangkan.

“Talut sepanjang Kali Toklo tidak hanya yang jadi jembatan rusak, mulai dari RW 4 Ngeblokan Asmil sampai Sadinoe taludnya sudah rusak semua. Kendalanya karena ada beberapa bangunan yang sampai mepet talud, karena di sisi dan kanan talud tidak boleh dibangun sepanjang sepadan.” Tambahnya.

Pihaknya yang belum menanyakan kembali, menyebut pembangunan dilakukan sekitar pertengahan tahun yakni Juli sesuai kesepakatan. Bedasarkan hasil survei, Rina menyebut jembatan ini akan dibangun menjadi baru lantaran tak memungkinkan untuk ditambal sulam.

“Talutnya sudah rusak yang di sisi jembatan dulu di bawah ada talut cornya sudah menghilang semua. Perlu sungai. Semua bangunan mepet sampai ke pinggir sungai, kita mau renovasi perbaikan harus menghilangkan bangunannya. Dinas punya pertimbangan sendiri mereka juga inginnya cepat, karena kalau ada apapun nanti kesalahan dinas, tapi kalau sekarang belum bisa dilaksanakan mungkin karena sesuatu hal yang membuat pembangunan tidak dilakukan dengan segera,” bebernya. Demi kepentingan keselamatan bersama pihaknya berharap pembangunan dapat segera dilakukan.