Masih Bingung, Tinggal 4 Hari Dibongkar PKL Shelter Manahan Belum Tahu Mau Pindah Kemana

oleh
Shelter PKL Manahan
Kondisi shelter PKL Manahan sebelum dibongkar, Jumat (12/5/2022) | MettaNEWS

SOLO, MettaNEWS – Shelter pedagang kaki lima (PKL) depan Stadion Manahan, Solo akan segera dibongkar pada Selasa, (17/5) mendatang. Pembongkaran shelter PKL ini merupakan bagian dari perencanaan tata kelola PKL oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Akan dibangun kembali di Jalan KS Tubun Barat Stadion Manahan depan Polresta Solo selama satu tahun kedepan, shelter ini ditempati sebanyak 132 PKL.

Permasalahan muncul ketika Pemerintah Kota (Pemkot) Solo tidak memberikan tempat sementara untuk para pedagang tetap berjualan. Dibebaskan untuk mencari tempa berjualan sendiri, hal ini justru membuat para pedagang bingung akan pindah lokasi berjualan dimana.

Meskipun begitu, waktu pembongkaran yang tersisa empat hari lagi ini membuat para pedagang tetap mengemas barang-barang miliknya lantaran hanya ingin mengikuti peraturan yang ada.

Atik, salah satu pedagang soto di shelter timur Manahan mengaku masih bingung mau pindah dimana. Ia pun menyebut kemungkinan untuk tidak berjualan selama proses penataan berlangsung.

“Saya belum tahu mau pindah kemana. Belum ada pandangan. Karena kan dari pemerintah ngga nyiapin jadi nanti ya caro tempat sendiri. Cari kontrakan atau cari usaha yang lain,” ucap Atik saat ditemui MettaNEWS, Jumat (13/5/2022).

Sudah melakukan pengemasan barang dagangan, Atik mengaku mengetahui informasi tentang wacana pembongkaran sejak dua tahun yang lalu oleh ketua paguyuban. Pembongkaran shelter yang berlangsung satu tahun ini membuatnya khawatir akan mempengaruhi kegiatan berdagangnya.

“Berpengaruh sekali (pembongkaran shelter) otomatis kan ya karena kita sandang pangannya dari sini. Cari uangnya kan buat kehidupan di Manahan. Karena dengan dibongkar ini kita ya bingung juga mau kemana terus besok mau gimana. Mau ngapain belum tahu. Karena kan nunggu dulu shelter yang mau dibangun baru bisa jualan lagi,” ucap Atik.

Sudah berjualan sejak 2007, Atik menyebut pada saat pertama kali berjualan di shelter Manahan para pedagang belum mendapatkan tempat untuk berjualan karena belum dibangun. Masih berjualan dengan menggunakan payung dan gerobak, Atik berjualan dengan sistem pindah-pindah.

“Dari 2007, belum dibangun dulu masih bentuk payung. Dulu disini dapet dari pemerintah dapet hak pakai untuk jualan. Nggak boleh disewain, diperjualbelikan. Temen-temen semua juga pada bingung mau cari tempat kemana ini pada nyari tempat,” jelas Atik.

Sebelumnya Pemkot Solo sudah menawarkan para pedagang untuk berjualan di Galabo, Pasar Kliwon pada 2020 lalu. Namun karena biaya sewa yang mahal yakni Rp 35.000/hari membuatnya mengurungkan niat untuk beralih ke tempat tersebut.

“Di sana (Galabo) mahal. Kontrak disini (Manahan) ya mahal Rp 10 juta/tahun. Kalau sini cuma bayar karcis Rp 1000/hari, sampah 1 bulan sekali Rp 7.500,” pungkasnya.

Sementara itu, Lestari penjual nasi liwet mengaku tidak mengambil lokasi jualan di Galabo. Hal ini karena peraturan berjualan di tempat tersebut dirasa merepotkan.

“Saya nggak ambil (Galabo) karena jauh, terus di sana kan nggak boleh bawa barang di tempat. Harus bersih, nggak boleh ninggal gerobak, susahnya seperti itu,” ucap Lestari.

Lestari yang berjualan sejak 2014 ini membuka lapaknya sejak pukul 06.00 pagi 12.00 siang ini menyebut berjualan setiap hari. Dengan adanya pembongkaran ini pihaknya telah memberitahu para pelanggannya jika ia akan pindah lokasi.

“Kalau pelanggan saya yang ke sini minggu-minggu ini sudah dikasih tahu. Rencana kan libur satu tahun mau dibangunkan baru di dekat (Mako) Polresta,” tambahnya.

Ia yang berencana jualan di rumahnya ini mengaku belum tahu jika tak laku banyak.

“Kalau misalnya di rumah nggak ramai, kurang tahu ke depannya, kita serahkan ke ketua paguyuban, nanti kita ngikut gimana,” ucap Lestari.

Para pedagang yang dibebaskan untuk mencari tempat sendiri untuk berjualan ini membuatnya tetap berharap akan ada solusi lain dari Pemkot Solo.

“Belum ada solusi, katanya kan cari solusi sendiri-sendiri. Kalau dulu dari awal rencana sebelum pandemi, itu rencana di Galabo. Tetapi pedagang kan ada yang ambil ada yang enggak, sekarang dibebaskan cari sendiri,” tutupnya.