SOLO, MettaNEWS – Keberadaan Pasar Takjil pada Ramadan 1443 H membuat para pelaku UMKM di Solo berpeluang mendapatkan penghasilan. Gelaran pasar ini bertujuan untuk meningkatkan perekonomian warga Solo dengan memanfaatkan lapak gratis yang disedikan Dinas Koperasi dan UMKM Solo dan Pemkot. Sebelumnya pasar ini digelar di Benteng Vasternburg sejak 5 April lalu.
Secara tempat, pemilihan Benteng Vasternburg sebenarnya cukup strategis karena berada di pusat keramian. Berada di tempat lapang nan luas, para pengunjung pun bisa menghabiskan waktu menunggu berbuka dengan mengunjungi beberapa titik di area tersebut. Akan tetapi seiring berjalannya gelaran ini, para pedagang justru mengeluhkan pendapatan yang kurang karena sepinya pengunjung. Akhirnya pasar ini dipindah ke Balai Kota Solo dengan harapan bisa lebih ramai.
Ada spot foto di Balai Kota
Sejak dipindahkan, sejumlah pedagang mulai merasakan perbedaannya. Seperti yang dirasakan Voni Arista (24), salah satu pelaku UMKM yang berjualan pecel. Voni menyebut, dengan dipindahkannya Pasar Tokjil ke Balai Kota dapat berpeluang meningkatkan pendapatan. Hal ini karena letaknya yang berada di samping Balai Kota yang memiliki spot menarik untuk didatangi pengunjung.
“Dengan dipindahkannya kesini (Balai Kota) memang positif. Lebih bagusan disini, kebantu spot-spot foto. Mungkin nanti ada event-event yang lain, kegiatan masjid atau dari Balai Kota ada tambahan lain mungkin, jadi bisa ramai kalau nggak hujan,” terang Voni saat ditemui di Pasar Takjil, Rabu (20/4/2022).
Jam operasional lebih panjang
Selian itu jam operasional yang lebih panjang yakni selisih 2 jam membuat Voni optimis akan berdampak baik ke penjualannya. Sebagai informasi, awalnya jam operasional di Benteng Vasternburg dibuka pada pukul 15.00 WIB-18.00 WIB, berbeda dengan yang diselenggarakan di Balai Kota, Pasar Takjil tutup pada pukul 20.00 WIB.
“Kalau di sana (Benteng Vastenburg) itu pasti jam enam lebih udah sepi, kalau saya jualannya pecel mau nggak mau harus habis,” ungkap Voni.
Selain itu Pasar Takjil di Balai Kota terlihat lebih terang karena terbantu oleh penerangan yang ada. Beberapa acara yang kerap terselenggara di Balai Kota pun diharapkan pedagang akan membuat para tamu atau pengunjung yang datang dapat meramaikan Pasar Takjil.
Meja di Pasar Takjil Balai Kota lebih besar
Pedagang lain pun juga mengungkapkan perbedaan berjualan di Balai Kota. Hening (38), penjual takjil berupa kue dan roti ini menyebut meja yang disediakan pihak Balai Kota lebih besar jika dibandingkan ditempat sebelumnya. Sebelumnya meja Pasar Takjil Benteng Vasternburg berkuran 75 sentimeter x 50 sentimeter, saat ini meja Pasar Takjil di Balai Kota berukuran dua kali lipat, yakni 150 sentimeter kali 100 sentimeter. Dengan ukuran tersebut, ia bisa menaruh dagangannya dengan jumlah lebih banyak.
“Lebih longgar, terus mejanya lebih lebar, dan nggak perlu bawa meja dari rumah, soalnya beberapa teman juga membawa meja dari rumah soalnya yang kemarin mejanya kecil,” ucap Hening.
Lebih nyaman dan longgar
Penataan Pasar Takjil dirasa lebih longgar dan nyaman bagi Hening. Hal ini karena penataannya dibuat dengan jarak yang lebih renggang jika dibandingkan tempat sebelumnya.
“Lebih nyaman sini, karena mejanya lebih besar jadi kan jarak tiap pedagang lebih banyak. Sebelumnya terlalu sempit dan berdekatan,” tuturnya.
Dekat dengan musala dan toliet
Keberadaan fasilitas ditempat umum seperti musala dan juga toliet sangatlah penting bagi para pedagang. Fasilitas yang vital ini sangat diharapkan para pedagang untuk mudah dijangkau. Jarak yang tidak terlalu jauh dengan letak pasar membuat akses para pedangan lebih mudah. Sebelumnya para pedagang merasa kesulitan mendapatkan akses toilet dan juga musala di Benteng Vasterburg.
“Terus tempatnya kalau nggak hujan lebih strategis juga. Kalau mau ke musala sama toilet lebih dekat dan bersih,” ucapnya.
Tidak kebanjiran saat hujan
Di hari pertama pembukaan Pasar Takjil di Benteng Vasterburg terjadi hujan lebat yang cukup lama. Kondisi tempat yang terbuka membuat hujan yang disertai angin pun membasahi dagangan. Hal ini membuat para pedagang harus memindahkan mejanya ke tempat yang lebih aman.
“Sebelumnya sempat kebanjiran, airnya masuk. Pas disana kan malah ada angin. Kalau disini hujan deras airnya cuma masuk di bawah nggak basahi dagangan.
Kalau kemarin teman-teman di sebelah sana (pinggir) airnya masuk. Jadi dagangannya dimasuk-masukan,” terangnya.
Ia pun berharap cuaca untuk hari kedepan cerah agar para pengujung dapat berdatangan dan penjualannya dapat meningkat.
“Harapannya cuacanya cerah, terus nanti pembelinya banyak. Kalau cuaca cerah gitu mungkin ramai soalnya banyak orang-orang lihat lampion, banyak orang ngabuburit kan pasti. Jadi kita semua dagangannya laris,” pungkasnya.








