Solo Masuk 20 Besar Nasional Penanganan Stunting, Wawali Astrid Andalkan Dashboard Berbasis Data

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani memaparkan strategi percepatan penurunan stunting di hadapan perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Bank Dunia. Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta mengandalkan pemetaan berbasis data serta intervensi yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap wilayah untuk mewujudkan Surakarta Zero Stunting.

Paparan tersebut disampaikan saat kunjungan lapangan dalam rangka pemantauan pelaksanaan Program Investing in Nutrition and Early Years (INEY) Fase 2 di Pendopo Kecamatan Laweyan, Senin (2/11/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pendampingan dan evaluasi program percepatan penurunan stunting di Kota Surakarta.

Astrid yang juga menjabat Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kota Surakarta menjelaskan, salah satu instrumen yang digunakan untuk menentukan intervensi adalah Solo Stunting Dashboard. Sistem tersebut membantu memetakan kondisi stunting di lima kecamatan sehingga penanganan dapat disesuaikan dengan persoalan dan kebutuhan masyarakat setempat.

Menurut Astrid, penanganan stunting tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan gizi anak. Faktor sanitasi, pola asuh, kesehatan ibu dan anak, serta kondisi lingkungan keluarga juga perlu diperhatikan agar intervensi memberikan hasil optimal.

“Stunting bukan hanya soal kurang gizi, tetapi juga tentang masa depan generasi. Prinsip kami jelas, intervensi harus tepat sasaran, berbasis data, dan dikerjakan bersama-sama. Karena setiap anak dan setiap wilayah memiliki kebutuhan serta permasalahan yang berbeda,” beber Astrid.

Pendekatan kolaboratif tersebut turut mengantarkan Kota Surakarta masuk dalam 20 besar daerah dengan kinerja nasional terbaik dalam percepatan penurunan stunting. Capaian ini merupakan hasil kerja bersama pemerintah daerah, kader, akademisi, tenaga kesehatan, sektor swasta, dan masyarakat.

DASHAT hingga Posyandu Plus Diperkuat

Untuk memperkuat intervensi hingga tingkat keluarga, Pemkot Surakarta menjalankan sejumlah program, antara lain Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) dan Baby Cafe yang menyediakan Makanan Pendamping ASI (MPASI) bergizi bagi bayi di bawah dua tahun (baduta) setiap hari.

Pemkot juga mengembangkan Sekolah Cegah Stunting (Seceting) dan Ndulang Bareng untuk memberikan edukasi pola asuh secara kolektif langsung di kelurahan. Selain itu, tersedia layanan Baby Spa Gratis berupa stimulasi motorik guna mendukung tumbuh kembang anak.

Upaya lainnya dilakukan melalui pengembangan Posyandu Plus. Konsep ini diharapkan memperluas fungsi posyandu agar tidak hanya berfokus pada pemantauan kesehatan ibu dan anak, tetapi juga menyediakan pelayanan terpadu sesuai kebutuhan masyarakat pada setiap siklus kehidupan.

“Penguatan posyandu menjadi penting karena pelayanan kesehatan harus semakin dekat dengan masyarakat. Kita ingin posyandu menjadi ruang pelayanan sekaligus pendampingan keluarga, mulai dari edukasi, deteksi dini, hingga memastikan anak mendapatkan intervensi yang dibutuhkan,” jelasnya.

Bappenas dan Bank Dunia Tinjau Layanan Posyandu

Program INEY merupakan kolaborasi Pemerintah Indonesia dengan Bank Dunia untuk mendukung percepatan penurunan stunting sekaligus meningkatkan kualitas gizi dan perkembangan anak sejak usia dini. Melalui INEY Fase 2, penguatan layanan kesehatan, pemenuhan gizi, dan pengasuhan anak didorong melalui pendekatan terpadu.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan melibatkan perwakilan Bank Dunia, termasuk Task Team Leader INEY Fase 2, Kementerian PPN/Bappenas, serta Kementerian Kesehatan. Rombongan juga meninjau langsung posyandu untuk melihat pelayanan kesehatan masyarakat, pemantauan tumbuh kembang anak, dan pelaksanaan intervensi di tingkat kelurahan.

Astrid mengapresiasi pendampingan pemerintah pusat dan Bank Dunia dalam memperkuat pelaksanaan program penanganan stunting di Surakarta. Ia berharap kunjungan tersebut menjadi momentum evaluasi sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor.

“Kami berharap pendampingan ini menjadi ruang evaluasi sekaligus penguatan kolaborasi. Perjalanan menuju Surakarta Zero Stunting masih berlanjut. Kami akan terus memperkuat kerja berbasis data dan memastikan setiap program benar-benar memberikan manfaat bagi keluarga yang membutuhkan,” pungkasnya.

Melalui penguatan koordinasi lintas sektor dan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan wilayah, Pemkot Surakarta berkomitmen melanjutkan upaya percepatan penurunan stunting sebagai investasi jangka panjang untuk mewujudkan generasi yang sehat, berkualitas, dan tumbuh optimal.