SOLO, MettaNEWS — Ketua Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Solo, Venessa Respati Ardi, menggandeng Ahli Gizi Masyarakat dr. Tan Shot Yen untuk memperkuat edukasi dan intervensi kesehatan bagi kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B).
Kolaborasi tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mendukung pencegahan stunting sekaligus meningkatkan kualitas pemenuhan gizi bagi kelompok 3B di Kota Solo.
Kegiatan dikemas melalui talkshow bertajuk “Peran PKK dalam Meningkatkan Kualitas Gizi Masyarakat Surakarta”. Talkshow tersebut melibatkan kader PKK tingkat kecamatan dan kelurahan, pengurus Posyandu, ahli gizi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta para ibu.
Venessa mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan pemahaman kader dan masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi, terutama bagi anak-anak dan kelompok 3B yang membutuhkan perhatian khusus.
Menurutnya, PKK saat ini juga memiliki peran sebagai salah satu satuan tugas dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Karena kelompok 3B termasuk kelompok rentan, kebutuhan gizinya perlu menjadi perhatian dalam penyediaan menu MBG.
“Sekarang PKK adalah salah satu dari Satgas MBG. Sehingga kita juga perlu mengintervensi agar menu MBG untuk B3 yang kelompok rentan bisa dibedakan. Karena seharusnya B3 itu menunya disesuaikan dengan mereka,” ujar Venessa.
Ia menambahkan, pelaksanaan MBG bagi kelompok 3B perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Hal tersebut penting agar makanan yang diberikan tidak sekadar memenuhi kebutuhan makan, tetapi juga mendukung kebutuhan gizi ibu dan anak.
“Karena MBG sudah masuk ke B3, jadi memang perlakuan harus berbeda. Dan dari Mas Wali untuk B3 wajib disesuaikan kebutuhannya. Jadi ini untuk mengedukasi agar B3 mendapatkan menu yang sesuai,” katanya.
Venessa juga menekankan pentingnya intervensi gizi bagi ibu hamil sebagai bagian dari pencegahan stunting. Menurutnya, pemenuhan gizi harus diperhatikan sejak 1.000 hari pertama kehidupan, yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Ia mengatakan Posyandu dapat berperan dalam memberikan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang sesuai bagi anak. Sementara ahli gizi dapat membantu menyusun menu bagi kelompok 3B sesuai kebutuhan.
“Kita juga dari Posyandu bisa memberikan PMT yang baik untuk anak-anak. Dan juga ahli gizi bisa memberikan menu untuk 3B sesuai kebutuhan kita. Dan kader PKK nanti juga akan memberikan edukasi kepada ibu-ibu di wilayah tentang baiknya gizi untuk ibu dan anak-anak di rumah nanti,” tuturnya.
Venessa berharap pengetahuan yang diperoleh melalui edukasi tersebut tidak berhenti pada kegiatan talkshow. Ia mendorong kader PKK dan masyarakat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Selain menambah pengetahuan, ilmu ini dapat diterapkan sehingga semua anak-anak dan ibu di Surakarta bisa mendapatkan kualitas makanan yang bergizi untuk tubuh mereka,” paparnya.
Sementara itu, dr. Tan Shot Yen mengapresiasi inisiatif TP PKK Kota Solo dalam memperkuat perhatian terhadap kesehatan dan pemenuhan gizi masyarakat.
Menurutnya, PKK Solo menunjukkan kepedulian terhadap isu kesehatan anak, termasuk pertumbuhan dan perkembangan anak dari sisi gizi.
“Ini prakarsa PKK Surakarta yang sangat saya hargai karena beliau sebagai ibu Wali Kota juga memiliki kepedulian yang besar dengan perkembangan isu-isu kesehatan anak dan tumbuh kembang anak dalam hal gizi,” kata dr. Tan.
Ia berharap gerakan edukasi dan intervensi gizi tersebut tidak hanya berkembang di Kota Solo, tetapi juga dapat menjadi perhatian di daerah lain di Indonesia.
“Saya berharap bukan sekadar Kota Surakarta, tetapi kota madya lainnya di seluruh Indonesia memiliki kepedulian yang sama. Karena tanah air kita sumber daya alam kaya sekali, pangan lokalnya enak sekali. Tinggal edukasi pola asuh dan bagaimana membenahi menjadi suatu hal yang insyaallah menuju Indonesia Emas,” pungkasnya.








