Investor Dubai Puji Gerak Cepat Pemprov Jateng, Investasi Rp5 Triliun Siap Masuk Jepara

oleh
oleh

SEMARANG, MettaNEWS – Rencana investasi pembangunan mini refinery senilai sekitar Rp5 triliun di Kabupaten Jepara memasuki tahap baru. Setelah melalui proses penjajakan hampir satu tahun, investor asal Dubai, Uni Emirat Arab, menandatangani perjanjian kerja sama dengan Perumda Aneka Usaha Jepara, Kamis (17/9/2026).

Investor melalui Nusantara Petroleum and Petrochemical menyebut proses penjajakan hingga masuk ke tahap kerja sama berlangsung relatif cepat. Dukungan pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dinilai menjadi salah satu faktor penting.

Komisaris Nusantara Petroleum and Petrochemical, Talal Ourfali, secara khusus mengapresiasi dukungan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Bupati Jepara dan jajaran terkait.

“Termasuk cepat banget itu karena Pak Gubernur mendukung total, sama Bupati sama yang lainnya,” kata Talal usai penandatanganan kerja sama di Ruang Rapat Lantai 2 Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Talal mengatakan, proses penjajakan investasi tersebut telah berlangsung hampir satu tahun. Tahapan awal dimulai dari kedatangan investor ke Jawa Tengah, kemudian dilanjutkan dengan komunikasi serta sejumlah pertemuan antara investor dan pemerintah daerah.

“Kita prosesnya udah hampir satu tahun,” ujarnya.

Dalam penandatanganan tersebut, Talal hadir bersama Direktur Utama Nusantara Petroleum and Petrochemical, Hamed Jafari. Menurutnya, dukungan pemerintah menjadi faktor penting agar rencana investasi dapat bergerak dari tahap penjajakan menuju kerja sama antarbadan usaha.

Mini refinery yang direncanakan dibangun di Jepara tersebut memiliki kapasitas awal sekitar 10 ribu barel minyak per hari. Kapasitas pengolahan itu ditargetkan dapat dikembangkan secara bertahap hingga mencapai 60 ribu barel per hari seiring pertumbuhan bisnis.

Investor juga membuka peluang pengembangan bisnis lainnya setelah investasi awal terealisasi.

Bagi Jawa Tengah, khususnya Jepara, rencana investasi tersebut diharapkan tidak hanya memberikan tambahan modal. Kehadiran industri pengolahan minyak juga berpotensi membuka lapangan pekerjaan, menggerakkan rantai usaha pendukung, serta meningkatkan aktivitas ekonomi di wilayah sekitar.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memastikan pemerintah provinsi akan mengawal proses lanjutan investasi tersebut.

Ia menyebut investor asal Dubai telah menyatakan kesiapan menanamkan modal sekitar Rp5 triliun untuk pembangunan mini refinery di Jepara.

“Tentu saya sebagai gubernur sangat mengizinkan sekali dan akan kita support terkait dengan kegiatan ini,” kata Luthfi.

Meski demikian, Luthfi menekankan masih terdapat sejumlah hal yang harus dipastikan agar proyek tersebut dapat berjalan. Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah kepastian ketersediaan bahan baku.

Menurutnya, pembangunan fasilitas pengolahan minyak harus didukung pasokan minyak mentah yang jelas dan berkelanjutan. Untuk itu, Luthfi mengaku telah menghubungi Pertamina dan akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

“Termasuk minyak mentahnya harus jelas dan pasti,” tegasnya.

Luthfi mengatakan masuknya rencana investasi tersebut menunjukkan Jawa Tengah masih memiliki daya tarik bagi investor. Hal itu, menurut dia, menjadi sinyal positif di tengah kondisi ekonomi dan geopolitik global yang penuh tekanan.

“Di saat geopolitik, di saat tekanan fiskal, Jawa Tengah masih menjadi tujuan investasi,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Jepara Witiarso Utomo mengatakan calon investor sebelumnya telah melakukan peninjauan terhadap sejumlah lokasi yang disiapkan untuk mendukung pembangunan mini refinery.

Peninjauan mencakup lahan yang diproyeksikan menjadi lokasi proyek serta lokasi pendaratan kapal yang nantinya dapat digunakan untuk mendukung aktivitas pengangkutan minyak.

Dari hasil peninjauan, lokasi yang disiapkan dinilai sesuai untuk mendukung pengembangan proyek. Namun, kepastian pasokan bahan baku masih menjadi salah satu hal yang perlu ditindaklanjuti bersama pemerintah dan pihak terkait.

Penandatanganan kerja sama antara investor dan Perumda Aneka Usaha Jepara menjadi pijakan awal menuju tahapan investasi berikutnya.

Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, proyek mini refinery tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru, memperluas aktivitas ekonomi masyarakat, memperkuat peran BUMD, sekaligus meningkatkan potensi pendapatan asli daerah.

Dengan nilai investasi sekitar Rp5 triliun dan rencana pengembangan kapasitas hingga 60 ribu barel per hari, proyek mini refinery di Jepara kini memasuki fase tindak lanjut untuk memastikan aspek bahan baku, lokasi, dan kesiapan investasi sebelum masuk ke tahap pembangunan.