NAGEKEO, MettaNEWS – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surakarta pun turun langsung dengan mengoperasikan Mobil Klinik di NTT untuk menjangkau para penyintas hingga ke pelosok permukiman.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari respons kemanusiaan PMI Kota Surakarta pascagempa yang melanda sejumlah wilayah di NTT. Selain kerusakan infrastruktur, kondisi pascabencana juga meningkatkan risiko munculnya berbagai gangguan kesehatan akibat keterbatasan sanitasi, cuaca ekstrem, serta sulitnya akses masyarakat menuju fasilitas kesehatan.
PMI Kota Surakarta mengirimkan lima relawan kesehatan yang terdiri dari satu dokter, tiga perawat, dan satu tenaga supporting. Tim tersebut menjalankan misi tanggap darurat selama tiga pekan, mulai 22 Agustus hingga 14 September 2026.
Salah satu wilayah yang menjadi sasaran pelayanan adalah Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Wilayah ini mengalami dampak cukup signifikan akibat gempa, baik dari sisi infrastruktur maupun kondisi sosial masyarakat.
Di tengah trauma terhadap kemungkinan gempa susulan, sejumlah warga memilih tetap tinggal di tenda-tenda darurat yang didirikan di halaman rumah.
Kondisi tersebut membuat warga rentan mengalami gangguan kesehatan. Paparan debu, angin malam, cuaca yang berubah-ubah, hingga keterbatasan fasilitas sanitasi menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Melihat kondisi itu, tim kesehatan PMI Kota Surakarta tidak hanya menunggu warga datang ke pos pelayanan kesehatan.
Mereka justru bergerak menyusuri perkampungan dan mendatangi warga dari rumah ke rumah.
Dengan membawa obat-obatan serta peralatan medis portabel, Mobile Clinic PMI Kota Surakarta memberikan pelayanan mulai dari pemeriksaan fisik, konsultasi kesehatan, hingga pemberian suplemen untuk membantu menjaga daya tahan tubuh para penyintas.
Ketua PMI Kabupaten Nagekeo, Kristianus Pantaleon Jogo, mengatakan pelayanan kesehatan pascabencana harus dilakukan secara proaktif. Menurutnya, tim medis harus mendatangi warga yang kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.
“Strategi Mobile Clinic ini adalah langkah preventif sekaligus kuratif yang kami ambil untuk melindungi kesehatan masyarakat. Dalam situasi darurat, trauma dan kelelahan fisik sangat mudah memicu komplikasi penyakit seperti hipertensi dan ISPA,” paparnya.
Menurut Kristianus, kehadiran tenaga kesehatan di tengah permukiman warga bukan hanya berkaitan dengan pemberian obat.
Lebih dari itu, pelayanan tersebut menjadi upaya untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat yang masih berada dalam situasi sulit setelah bencana.
“Kehadiran kami di depan pintu rumah mereka bukan sekadar memberikan obat, tetapi mengembalikan rasa aman dan memastikan bahwa negara serta kemanusiaan hadir di tengah-tengah masa sulit mereka,” tegasnya.
Hingga pelaksanaan pelayanan tersebut, sebanyak 577 jiwa telah mendapatkan penanganan medis dari tim kesehatan PMI Kota Surakarta.
Antusiasme warga pun cukup tinggi. Sebagian warga mengaku kesulitan mendatangi puskesmas karena tenaga dan perhatian mereka masih tersita untuk memperbaiki rumah serta keterbatasan transportasi darat pascagempa.
Dokter Prihatmoko dari Tim Kesehatan PMI Kota Surakarta mengatakan sejumlah keluhan kesehatan paling banyak ditemukan di lapangan, seperti batuk, pilek, pusing, hingga pegal-pegal.
Keluhan tersebut banyak dialami penyintas yang harus tinggal di tenda darurat dengan pola tidur tidak teratur serta terpapar kondisi cuaca yang kurang bersahabat.
Selain itu, tim medis juga menemukan sejumlah kasus hipertensi pada warga lanjut usia. Kondisi ini menjadi perhatian karena stres dan kelelahan pascabencana dapat memperburuk kondisi kesehatan.
Para lansia kemudian diberikan edukasi mengenai pengelolaan stres serta pola konsumsi makanan selama berada di lokasi pengungsian.
Pelayanan Mobile Clinic PMI Kota Surakarta selanjutnya akan terus bergerak ke sejumlah desa lain di Kabupaten Nagekeo yang teridentifikasi mengalami keterbatasan akses layanan kesehatan.
Setiap wilayah pelayanan akan dievaluasi secara berkala dan dikoordinasikan bersama puskesmas pembantu, Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo, serta lembaga kemanusiaan lainnya.
Dengan pola pelayanan bergerak tersebut, PMI Kota Surakarta berharap penanganan kesehatan para penyintas gempa di Flores dapat dilakukan secara lebih merata, cepat, dan berkelanjutan.
Di tengah rumah-rumah yang rusak dan tenda-tenda darurat, kehadiran mobil klinik itu menjadi pengingat bahwa bagi warga yang kesulitan datang mencari pertolongan, pertolonganlah yang harus datang menghampiri mereka.








