SOLO, MettaNEWS – Kasus gangguan kesehatan mental di Kota Solo menunjukkan tren peningkatan. Data layanan Posyandu Plus mencatat persentase warga yang membutuhkan rujukan untuk mendapatkan penanganan kesehatan mental terus meningkat sejak akhir 2025 hingga triwulan II 2026.
Ketua Pembina Posyandu Kota Solo, Venessa Winastesia, mengatakan dari sekitar 6.000 warga yang mengakses layanan di 630 Posyandu di Kota Solo, sekitar 9 persen di antaranya harus dirujuk ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan kesehatan mental lebih lanjut pada akhir 2025.
Angka tersebut meningkat menjadi 10 persen pada triwulan I 2026. Bahkan, pada triwulan II 2026 persentasenya melonjak menjadi 13,95 persen atau hampir 14 persen.
“Data itu naik menjadi 10 persen pada triwulan I 2026. Dan triwulan II 2026 melonjak menjadi 13,95 persen atau hampir 14 persen. Nah, ini tentunya menjadi perhatian kita semua,” kata Venessa saat acara Pembinaan Posyandu Bidang Kesehatan berupa Pelatihan Mental Health First Aid bagi Kader Posyandu Plus di Aula Dinas Kesehatan Kota Solo, kompleks Balai Kota Solo, Kamis (13/8/2026).
Venessa mengatakan peningkatan kasus gangguan kesehatan mental menjadi perhatian Pemkot Solo. Posyandu Plus menjadi salah satu program prioritas Wali Kota Solo Respati Ardi dan Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani.
Posyandu Plus berbasis enam Standar Pelayanan Minimum (SPM) tersebut tidak hanya memberikan layanan kesehatan dasar, tetapi juga menyediakan layanan kesehatan mental yang melibatkan psikolog klinis.
Menurut Venessa, Posyandu Plus 6 SPM dibentuk sebagai salah satu respons terhadap maraknya kasus bunuh diri di Kota Solo. Layanan tersebut diharapkan mampu memperkuat upaya deteksi dini sehingga warga yang mengalami masalah kesehatan mental bisa segera mendapatkan pendampingan.
“Anak-anak, remaja, dewasa sampai orang lanjut usia bisa mengalami gangguan kesehatan mental,” ujarnya.
Dia menyebut penyebab gangguan kesehatan mental sangat beragam. Persoalan ekonomi, baby blues, perundungan atau bullying, putus cinta hingga berbagai persoalan kehidupan lainnya dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Venessa menyoroti kasus perundungan yang dialami anak-anak. Menurut dia, masih banyak orang tua yang belum mengetahui harus mencari bantuan ke mana ketika anak mereka menjadi korban bullying dan mengalami trauma.
“Pengalaman kami banyak anak-anak yang menjadi korban bullying. Kadang orang tua yang tidak tahu harus ke mana ketika anak mereka menjadi korban bullying. Kadang ada trauma anak yang menjadi korban bullying,” katanya.
Kader Posyandu Jadi Ujung Tombak Deteksi Dini
Venessa menjelaskan warga yang mengalami gangguan kesehatan mental dapat datang ke Posyandu Plus untuk berkonsultasi. Jika membutuhkan penanganan lebih lanjut, kader dapat membantu proses rujukan ke puskesmas.
Layanan kesehatan mental di puskesmas, lanjut dia, dapat diberikan secara gratis.
“Ketika mereka membutuhkan rujukan ke puskesmas bisa dibantu. Layanan kesehatan mental di Puskesmas bisa gratis,” paparnya.
Saat ini seluruh Posyandu di Kota Solo telah bertransformasi menjadi Posyandu Plus 6 SPM. Pemkot Solo juga berupaya memenuhi kebutuhan tenaga pelayanan, termasuk psikolog klinis, agar layanan kesehatan mental dapat menjangkau masyarakat dari berbagai kelompok usia.
Dalam pelaksanaannya, Pemkot Solo bekerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Soloraya, akademisi Universitas Sebelas Maret (UNS), serta perguruan tinggi lain yang memiliki program studi psikologi di Soloraya.
Venessa berharap pelatihan Mental Health First Aid dapat meningkatkan kemampuan kader Posyandu dalam melakukan deteksi dini dan memberikan pertolongan pertama pada warga yang mengalami masalah kesehatan mental.
“Mereka merupakan warga setempat yang paham kondisi ekonomi setiap keluarga di wilayahnya, paham kondisi rumah tangga, bisa ikut membantu deteksi dini, bisa melakukan edukasi awal, bisa memberikan masukan atau motivasi agar warga yang mengalami gangguan kesehatan mental tidak kebacut, namun mendapatkan pendampingan dari psikolog,” paparnya.
Dia mengatakan orang yang mengalami masalah kesehatan mental terkadang hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa mengintimidasi. Dalam kondisi tersebut, kader dapat memberikan informasi mengenai layanan kesehatan dan membantu mengarahkan warga mendapatkan pertolongan profesional.
Kader Dapat Pelatihan Mental Health First Aid
Pelatihan tersebut juga mendapat dukungan Rotary Club of Solo Kartini. Para kader mendapatkan materi mengenai pengenalan gejala awal gangguan kesehatan mental, teknik Mental Health First Aid, komunikasi empatik, serta simulasi kasus melalui role play.
Motivator dan trainer sekaligus Ketua Rotary Club of Solo Kartini, Lia Taufiq, mengatakan pelatihan tidak hanya memberikan pembekalan keilmuan, tetapi juga menjadi sarana bagi kader untuk menjaga energi dan kondisi diri sebelum membantu orang lain.
“Setelah pelatihan para peserta diharapkan tahu cara tercepat untuk kembali ke diri, cara tercepat untuk move on, cara untuk reset energi secepatnya. Karena tak dipungkiri kader merupakan manusia mengalami naik turun. Kader ini akan menyebarkan ilmu-ilmu ini kepada yang lain,” ujarnya.
Lia mengatakan pelatihan tersebut sebenarnya merupakan kegiatan berbayar bagi mitra lainnya. Namun, khusus bagi Pemkot Solo, pelatihan diberikan secara gratis sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kapasitas kader Posyandu.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Solo, Yusuf Bachtiar, menegaskan penanganan kesehatan mental masyarakat membutuhkan kolaborasi banyak pihak.
Menurut dia, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan akademisi, pelaku usaha, masyarakat, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Untuk mewujudkan kesehatan mental masyarakat tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri. Perlu kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat atau komunitas, dan pihak-pihak berkepentingan lainnya,” kata Yusuf.








