SOLO, MettaNEWS — Pemerintah Kota Surakarta menghadirkan cara berbeda dalam menyosialisasikan Program Keluarga Berencana (KB) dan perlindungan anak kepada masyarakat.
Berkolaborasi dengan Wayang Orang Sriwedari, pesan-pesan pembangunan keluarga disampaikan melalui seni pertunjukan tradisional dalam pementasan lakon Katresnan Wurung di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Jumat (10/7/2026) malam.
Pementasan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-116 Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari. Kegiatan ini menjadi wujud komitmen Pemerintah Kota Surakarta dalam melestarikan warisan budaya sekaligus memanfaatkan seni pertunjukan sebagai media edukasi yang dekat dengan masyarakat.
Pementasan semakin istimewa karena melibatkan langsung Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, sebagai salah satu pemeran. Astrid tampil bersama Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Surakarta Kristiana, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta Maretha Dinar Cahyono, serta lima camat se-Kota Surakarta, yakni Camat Banjarsari Priadi, Camat Laweyan Isnan Wihartanto, Camat Serengan Tri Widada Eka Prastiya, Camat Jebres Daryono, dan Camat Pasar Kliwon Ari Wibowo.
Sebelum tampil, seluruh pejabat tersebut mengikuti latihan bersama para seniman profesional Wayang Orang Sriwedari, mulai dari pendalaman karakter, dialog, olah gerak, hingga penghayatan cerita.
Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengatakan, kolaborasi tersebut merupakan inovasi Pemerintah Kota Surakarta dalam menyampaikan edukasi kepada masyarakat melalui pendekatan budaya yang telah melekat dalam kehidupan warga.
“Program Keluarga Berencana bukan hanya berbicara tentang jumlah anak, tetapi juga bagaimana membangun keluarga yang berkualitas, sehat, dan siap menghadapi masa depan. Karena itu kami memilih pendekatan budaya agar pesan-pesan tersebut lebih mudah diterima masyarakat,” ujar Astrid.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital dan perubahan pola pergaulan remaja menjadi tantangan yang harus diantisipasi bersama. Karena itu, pemerintah terus menghadirkan edukasi dengan cara yang kreatif, menarik, dan mudah dipahami seluruh lapisan masyarakat.
“Kita melihat perkembangan digital dan pergaulan remaja yang sangat cepat. Ini perlu menjadi perhatian dan antisipasi bersama, khususnya kami dari pemerintah. Melalui lakon Katresnan Wurung malam ini, kami ingin mengingatkan bahwa pergaulan remaja perlu mendapat pendampingan dari keluarga sehingga setiap anak benar-benar siap sebelum memasuki jenjang pernikahan,” katanya.
Astrid menjelaskan, cerita dalam Katresnan Wurung menggambarkan pentingnya komunikasi dalam keluarga, tanggung jawab, serta perencanaan kehidupan sebelum menikah. Pesan tersebut diharapkan mampu mencegah berbagai persoalan, termasuk pernikahan usia dini.
“Pesan yang ingin kami sampaikan adalah memastikan seluruh aspek benar-benar siap sebelum menikah, baik secara usia, mental, pendidikan, maupun ekonomi. Dengan begitu kita dapat mencegah pernikahan dini sekaligus mewujudkan keluarga yang harmonis, berkualitas, dan sejahtera,” imbuhnya.
Lakon Katresnan Wurung mengisahkan konflik di sebuah kerajaan yang melibatkan anak Petruk dan anak Gareng yang batal menikah karena salah satu di antaranya masih berusia di bawah ketentuan.
Cerita tersebut menjadi media edukasi mengenai pentingnya perencanaan keluarga, perlindungan anak, pencegahan perkawinan anak, hingga penguatan peran keluarga dalam menghadapi tantangan era digital.
Selain mengangkat isu keluarga berencana, pementasan juga menyisipkan pesan mengenai perlindungan anak, pencegahan kekerasan terhadap anak, pentingnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan media sosial oleh remaja, serta penguatan komunikasi dalam keluarga sebagai fondasi utama menciptakan generasi yang berkualitas.
Melalui kolaborasi tersebut, Pemerintah Kota Surakarta berharap pelestarian Wayang Orang Sriwedari sebagai warisan budaya dapat berjalan beriringan dengan penyampaian pesan-pesan pembangunan.
Seni pertunjukan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi media komunikasi publik yang efektif dalam membangun keluarga berkualitas menuju generasi Surakarta yang lebih sehat, tangguh, dan berdaya saing.
Pementasan ini sekaligus menjadi bukti bahwa di usia ke-116, Gedung Wayang Orang Sriwedari terus bertransformasi sebagai ruang budaya yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi yang menjadi identitas Kota Surakarta.








