Solo Jadi Pilot Project #SungaiLestari, Target Angkut 1.000 Ton Sampah Sungai hingga 2027

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Kota Surakarta resmi memulai implementasi Program #SungaiLestari melalui kegiatan Soft Launching bertajuk “Transformasi Kolaboratif Menuju Sungai yang Lebih Bersih, Sehat, dan Berkelanjutan” di Pendopo Kecamatan Laweyan, Jumat (10/7/2026).

Program kolaboratif ini bertujuan menekan pencemaran sampah plastik di sungai melalui sinergi pemerintah, masyarakat, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, akademisi, hingga media.

Program #SungaiLestari merupakan kolaborasi antara Pemerintah Indonesia, UNDP Indonesia, Clean Rivers, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Lingkungan Hidup, serta pemerintah daerah.

Selain Surakarta, program ini juga dijalankan di Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, dan Bali sebagai daerah percontohan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta, Herwin Nugroho, mengatakan program ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kota Surakarta yang tengah memperkuat pengelolaan sampah dari hulu melalui pelibatan masyarakat.

Herwin mengungkapkan, sejak Kota Solo mendapatkan sanksi administratif dari Kementerian Lingkungan Hidup pada 31 Maret 2026, berbagai langkah perbaikan terus dilakukan.

Hasilnya, hingga akhir Juni 2026 volume sampah yang dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo telah turun sekitar 14 persen.

“Peran camat, lurah, dan masyarakat luar biasa. Sampah yang dikirim ke TPA Putri Cempo sudah turun 14 persen. Harapan kami, dengan kolaborasi bersama UNDP melalui Program Sungai Lestari ini, dalam satu hingga dua tahun ke depan sampah yang masuk ke TPA bisa berkurang hingga 50 persen,” kata Herwin.

Ia menjelaskan, tahap awal program akan difokuskan di wilayah Sungai Premulung yang melintasi Kecamatan Laweyan hingga Serengan. Selain menangani sampah yang telah berada di sungai, program juga akan mengedukasi masyarakat agar tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.

DLH menargetkan sebanyak 1.000 ton sampah dapat ditangani dari dua lokasi tersebut hingga program berakhir pada 2027.

“Kita ingin mengubah perilaku masyarakat. Pendekatannya bukan hanya penanganan sampah, tetapi juga edukasi agar masyarakat ikut mengawasi dan menjaga sungai. Dengan begitu dampaknya bukan hanya lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga kesehatan masyarakat meningkat,” paparnya.

Sementara itu, National Project Manager UNDP Indonesia sekaligus National Project Coordinator Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut, Ahmad Bahri Rambe, mengatakan Program #SungaiLestari merupakan implementasi kerja sama Pemerintah Indonesia dengan mitra internasional yang telah berjalan sejak 2024.

Ahmad Bahri mengatakan, Surakarta dipilih sebagai salah satu lokasi karena memiliki posisi strategis yang dilintasi Sungai Bengawan Solo, sehingga upaya pengurangan sampah di sungai dinilai akan memberikan dampak besar terhadap pengurangan sampah yang berpotensi mencemari laut.

“Program ini dilaksanakan di lima kota sebagai proyek percontohan. Harapannya, Surakarta dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam pengelolaan sampah sungai secara kolaboratif,” katanya.

Ahmad Bahri menjelaskan, program tidak hanya berfokus pada pengangkutan sampah sungai, tetapi juga membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat, memperkuat ekonomi sirkular, serta membentuk kelembagaan yang berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, UNDP menggandeng organisasi masyarakat sipil sebagai mitra lokal, yakni Bintari dan PLN (Plastic Fischer Local Network/mitra pelaksana), yang akan bekerja bersama pemerintah daerah, bank sampah, komunitas sungai, dan warga setempat.

Ia menyebut Indonesia saat ini menghasilkan sekitar 53 juta ton sampah per tahun, dengan sekitar 10 juta ton di antaranya berupa sampah plastik. Karena itu, diperlukan kolaborasi lintas sektor agar kebocoran sampah ke sungai dan laut dapat ditekan.

“Kami menargetkan 1.000 ton sampah dapat ditangani melalui program ini. Yang terpenting adalah perubahan perilaku masyarakat sehingga sungai tidak lagi menjadi tempat pembuangan sampah. Kami optimistis dengan dukungan Pemerintah Kota Surakarta dan masyarakat, program ini dapat menjadi model bagi kota-kota lain di Indonesia,” pungkasnya.