100 Anak Ikuti Khitan Massal Dies Natalis Ke-50 UNS, Wujud Pengabdian untuk Masyarakat

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS –  Memperingati Dies Natalis ke-50, Universitas Sebelas Maret (UNS), bersama Rumah Sakit UNS serta Dharma Wanita Persatuan (DWP) UNS  menggelar kegiatan khitan massal yang diikuti 100 anak dari berbagai wilayah Solo Raya dan sekitarnya.

Kegiatan sosial tersebut menjadi bagian dari pengabdian masyarakat UNS melalui pelayanan kesehatan yang aman, berkualitas, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Acara dibuka oleh Rektor UNS, Prof. Dr. dr. Hartono. Ketua panitia Dr. dr. Coana Sukmagautama, Sp.PD, M.Kes, FINASIM, FISQua menjelaskan, antusiasme masyarakat terhadap kegiatan khitan massal tahun ini sangat tinggi. Tercatat sebanyak 145 anak mendaftar sebagai peserta. Setelah proses verifikasi administrasi, sebanyak 135 anak dinyatakan lolos administrasi dan mengikuti tahapan skrining kesehatan pada 12 dan 17 Juni 2026.

“Skrining dilakukan untuk memastikan kelayakan peserta dari aspek fisik, psikologis maupun kesehatan lainnya yang menjadi syarat tindakan khitan,” jelasnya.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, sebanyak 100 anak dinyatakan layak mengikuti khitan massal.

Pelaksanaan khitan melibatkan tim medis yang terdiri dari 10 dokter spesialis sebagai operator, didukung dokter umum, perawat, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya guna memastikan seluruh proses berjalan aman dan lancar.

Pada kegiatan ini, metode khitan yang digunakan adalah teknik sirkumsisi konvensional sesuai standar pelayanan medis. Teknik tersebut dinilai lebih aman karena perdarahan minimal, proses penyembuhan lebih cepat, serta hasil yang lebih bersih.

Rektor UNS, Prof. Dr. dr. Hartono, mengatakan kegiatan khitan massal merupakan agenda rutin tahunan dalam rangka Dies Natalis sekaligus bentuk nyata pengabdian UNS kepada masyarakat.

“Ini bentuk pengabdian masyarakat UNS. Selain khitan massal, masih ada berbagai rangkaian kegiatan sosial lainnya,” kata Hartono.

Ia menjelaskan, seluruh peserta telah melalui proses skrining ketat untuk memastikan kondisi kesehatan dan kesiapan psikologis anak sebelum tindakan dilakukan.

“Kalau di bawah usia 10 tahun tingkat kecemasannya masih tinggi, sehingga lebih sulit ditangani. Karena itu peserta kami skrining terlebih dahulu,” jelasnya.

Prof. Hartono juga menekankan pentingnya pemeriksaan medis sebelum khitan dilakukan. Menurutnya, terdapat sejumlah kondisi tertentu atau kontraindikasi yang tidak diperbolehkan menjalani khitan biasa dan harus mendapatkan penanganan khusus.

“Misalnya hipospadia, yaitu saluran kencing tidak berada di ujung, itu tidak boleh langsung dikhitan dan harus dikonsultasikan ke dokter urologi,” ungkapnya.

Selain mendapatkan layanan khitan gratis, seluruh peserta juga menerima bingkisan berupa sarung, peci, celana batok, obat-obatan, hingga uang saku.

“Setelah tindakan, peserta juga akan menjalani kontrol sekitar tiga hari kemudian di rumah sakit sampai benar-benar sembuh,” tambah Prof. Hartono.