SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, menegaskan bahwa kampung-kampung di Kota Solo merupakan fondasi penting yang membentuk identitas, karakter, sekaligus kekuatan pembangunan kota. Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi publik bertema Sala, Kota Federasi Kampung-Kampung yang digelar di Rumah Banjarsari, Rabu (10/6/2026) malam.
Wawali Astrid, menekankan pentingnya peran kampung sebagai elemen utama yang membentuk wajah dan karakter Kota Solo. Dalam diskusi publik bertema “Sala, Kota Federasi Kampung-Kampung”, ia mengajak masyarakat untuk melihat kampung bukan sekadar wilayah administratif, melainkan ruang hidup yang menyimpan nilai sejarah, budaya, kreativitas, dan semangat gotong royong.
Dalam forum yang juga menghadirkan budayawan Antonius Rusputranto tersebut, Astrid berbagi pengalaman sebagai warga asli Solo yang tumbuh di lingkungan kampung dengan karakter yang beragam.
“Senang sekali malam ini diundang dan temanya kampung. Biasanya pembicaraannya isu kota, tentang sampah, tentang urban. Tapi saya kira yang paling penting adalah bagaimana menggerakkan masyarakat melalui kampung-kampung,” ujar Astrid.
Astrid menyebut perkembangan Kota Solo tidak dapat dipisahkan dari sejarah tumbuhnya berbagai kampung yang memiliki latar belakang budaya, profesi, hingga komunitas yang berbeda-beda. Jejak sejarah tersebut masih terlihat melalui nama-nama kampung yang tersebar di berbagai wilayah kota, seperti Kauman yang dikenal sebagai kampung santri dan Laweyan yang berkembang sebagai sentra industri batik.
Astrid menilai keberagaman kampung tersebut merupakan kekayaan sosial dan budaya yang menjadi identitas khas Solo. Karakter kampung yang tetap hidup hingga saat ini menunjukkan kuatnya akar budaya masyarakat di tengah perkembangan zaman dan modernisasi kota.
“Solo itu unik dan karakter kampungnya kuat-kuat. Karena perjalanan kita cukup jauh, tidak hanya unik, tetapi juga begitu dalam. Bahkan penamaan kampung-kampung kita menjadi bagian dari sejarah perjalanan Kota Solo,” katanya.
Lebih lanjut, Astrid menyampaikan bahwa kampung-kampung di Solo menyimpan potensi besar yang dapat mendukung pembangunan berkelanjutan. Selain menjadi pusat pelestarian budaya, kampung juga berperan dalam menggerakkan ekonomi masyarakat melalui berbagai inovasi dan pengembangan potensi lokal.
Ia menyoroti keberhasilan sejumlah kampung tematik yang berkembang di Solo dan mampu menjadi penggerak sektor ekonomi kreatif, pariwisata, serta pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, karakter kampung yang heterogen telah terbentuk secara alamiah sejak masa lalu dan menjadi kekuatan yang harus terus dijaga.
“Perlu digarisbawahi, sebenarnya Solo itu sudah cukup dinamis sejak masa lalu. Adanya perkembangan kampung yang heterogen secara alamiah membentuk karakter kampung-kampung tersebut,” tandasnya.
Astrid juga meyakini bahwa identitas kampung yang kuat dapat menjadi modal penting bagi Kota Solo dalam mewujudkan visi sebagai kota kreatif berkelas dunia. Ia menilai kota-kota yang mampu bersaing di tingkat global umumnya memiliki identitas lokal yang tetap terjaga dan dikembangkan menjadi kekuatan budaya maupun ekonomi.
“Kampung-kampung inilah yang menjadi jiwa Kota Solo. Jika identitas, kreativitas, dan potensi kampung terus dirawat serta dikembangkan, maka kampung akan menjadi motor penggerak kemajuan kota sekaligus memperkuat posisi Solo sebagai kota budaya dan kota kreatif dunia,” pungkasnya.
Diskusi yang dihadiri masyarakat dari berbagai kalangan tersebut berlangsung hangat dan interaktif. Berbagai gagasan mengenai sejarah, identitas, hingga masa depan kampung-kampung di Kota Solo mengemuka sebagai bagian dari upaya menjaga karakter khas Kota Bengawan di tengah arus modernisasi.








