OJK Perkuat Literasi Keuangan Digital, Mahasiswa UNS Diingatkan Bijak Investasi Kripto

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar Digital Financial Literacy bertajuk “Financial Glow Up: Kenalan Kripto, Tokenisasi, dan Masa Depan Investasi Digital” di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS, Senin (11/5/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan regulator dalam meningkatkan literasi keuangan digital di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa yang kini semakin dekat dengan investasi berbasis teknologi.

Hadir dalam kegiatan itu Rektor UNS Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si.; Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK RI, Dr. Adi Budiarso, FCPA; Kepala OJK Solo Muhammad Mufid; serta jajaran pimpinan OJK lainnya.

Kepala OJK Solo, Muhammad Mufid, mengatakan pertumbuhan investor aset digital di Indonesia berkembang sangat pesat dan mayoritas berasal dari kalangan generasi muda, terutama Gen Z.

Namun demikian, peningkatan inklusi keuangan belum sepenuhnya diimbangi dengan tingkat literasi masyarakat dalam memahami risiko investasi digital.

“Kondisi ini menjadi perhatian serius karena banyak masyarakat terjebak investasi ilegal akibat kurangnya pemahaman. Bahkan kalangan terdidik pun masih ada yang menjadi korban penipuan investasi,” kata Mufid.

Menurut Mufid, literasi keuangan tidak hanya sekadar memahami istilah finansial, tetapi juga mencakup kemampuan mengambil keputusan keuangan yang tepat demi kesejahteraan finansial jangka panjang.

Ia mengingatkan mahasiswa agar memahami karakteristik, risiko, dan legalitas setiap instrumen investasi digital, termasuk aset kripto. Prinsip “2L”, yakni legal dan logis, disebut penting sebelum seseorang memutuskan berinvestasi.

“Jangan mudah tergiur keuntungan besar tanpa memahami risikonya. Pastikan legalitasnya jelas dan imbal hasil yang ditawarkan masuk akal,” pesannya.

Mufid berharap mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna layanan keuangan digital, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan dalam menyebarkan edukasi literasi keuangan kepada masyarakat luas.

Sementara itu, Rektor UNS Prof. Hartono menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin antara UNS dan OJK dalam memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap perkembangan teknologi finansial dan investasi digital.

Menurutnya, banyak anak muda saat ini tergoda mengikuti tren investasi hanya karena pengaruh media sosial, testimoni influencer, atau euforia keuntungan instan tanpa memahami risiko dan legalitas produk investasi yang dipilih.

“Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK tahun 2025 menunjukkan tingkat inklusi keuangan masyarakat sudah mencapai 80,51 persen, namun tingkat literasinya masih 66,46 persen. Artinya masih banyak masyarakat yang menggunakan layanan keuangan digital tetapi belum memahami risikonya secara bijak,” jelasnya.

Karena itu, literasi keuangan digital dinilai menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa agar tidak hanya memahami cara membeli aset digital, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis dan memahami manajemen risiko.

“Mahasiswa harus mampu membedakan antara peluang investasi yang sehat dan spekulasi yang berbahaya,” tegas Prof. Hartono.

UNS sendiri terus memperkuat pembelajaran terkait pengelolaan keuangan melalui pengembangan materi personal financial planning di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Langkah tersebut dilakukan untuk membangun kesadaran finansial mahasiswa sejak dini.

Melalui forum Digital Financial Literacy ini, UNS berharap mahasiswa mampu menjadi generasi yang lebih cerdas dalam memanfaatkan teknologi finansial dan mengambil keputusan investasi secara bijak demi mendukung terciptanya ekosistem keuangan digital yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan di Indonesia.

Kegiatan tersebut menghadirkan empat narasumber, yakni Sekretaris Jenderal Asosiasi Blockchain Indonesia William Sutanto, Kepala Grup Inovasi Keuangan Digital Ludy Arlianto, Certified Financial Planner Melvin Mumpuni, serta Kepala Center for Fintech and Banking UNS Putra Pamungkas.