SOLO, MettaNEWS – Puluhan perempuan berkebutuhan khusus mengikuti pelatihan membatik di Kampung Wisata Batik Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Kamis (30/4/2026) siang. Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Kartini yang dikemas secara inklusif dan bermakna.
Acara bertajuk Setara Berkarya: Goresan Canting Kartini ini merupakan hasil kolaborasi antara DP3AP2KB Kota Solo, Forum Perempuan Berdaya Kota Solo, Komite Disabilitas Daerah Kota Solo, KMN Batik Kaoeman, Fresh Health & Dynamic (FHD) Motivation, serta Wesja (Wedhangan & Masakan Jawa) Kauman.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah perempuan inspiratif yang berbagi pengalaman, di antaranya anggota DPRD Solo Sekar Tandjung, sutradara dan produser asal Solo Fanny Chotimah, Ketua Tim Penggerak PKK (TP PKK) Kota Solo Venessa Winastesia dan The ASEAN Para Games, Nanda.
Ketua Forum Perempuan Berdaya Kota Solo, R.Ay Febri Hapsari, mengatakan peringatan Hari Kartini kali ini tidak sekadar seremonial, tetapi diisi dengan kegiatan yang memberikan dampak nyata bagi perempuan, khususnya penyandang disabilitas.
Sebanyak 25 peserta dilibatkan dalam kegiatan ini, terdiri dari perempuan berkebutuhan khusus dari komunitas disabilitas, pelaku UMKM binaan Kadin Solo, serta atlet dari National Paralympic Committee (NPC) Indonesia.

Menariknya, setiap dua peserta—yakni satu penyandang disabilitas dan satu nondisabilitas—berkolaborasi membatik dalam satu kain yang sama.
“Mereka bisa saling berinteraksi, berbagi cerita, dan mengekspresikan perasaan dalam karya. Mereka setara dalam satu kanvas,” ungkap Febri.
Ia juga menuturkan bahwa membatik bukan sekadar aktivitas seni, tetapi sarat makna filosofi. Salah satunya adalah Batik Truntum yang melambangkan cinta yang tumbuh kembali, terinspirasi dari kisah permaisuri Keraton Surakarta pada masa Pakubuwono III.
Menurutnya, melalui proses membatik, perempuan diajak untuk menyalurkan emosi secara positif dan produktif, sekaligus mengasah kelembutan serta ketelatenan.
Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Venessa Winastesia menegaskan bahwa semangat Kartini harus terus dihidupkan dalam ruang-ruang inklusif. Perempuan, menurutnya, memiliki hak yang sama untuk belajar, berkarya, dan memberikan dampak bagi lingkungan.
“Semangat Kartini hadir dalam ruang inklusi. Kami merangkul perempuan tanpa batas. Harapannya, kegiatan ini menjadi ruang untuk saling menguatkan,” tutur Veni.
juga menambahkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang bagi perempuan untuk berkembang, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang justru dapat memperkuat diri dan menginspirasi sesama.









