DEMAK, MettaNEWS — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pihak dalam menangani banjir di Demak, tidak hanya pada fase darurat tetapi juga pemulihan dan pencegahan jangka panjang.
Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, saat meninjau lokasi terdampak parah di Dukuh Solondoko, Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, Selasa (7/4/2026).
Di lokasi tersebut, tercatat 11 rumah hanyut, 7 rumah rusak berat, dan 9 rumah rusak ringan akibat terjangan banjir. Taj Yasin menegaskan, penanganan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melibatkan berbagai pihak.
“Sudah kita asesmen. Tinggal kita petakan lagi secara detail dan hitung kebutuhannya. Penanganannya tidak bisa sendiri, harus bersama antara kabupaten, provinsi, dan pemerintah pusat,” paparnya.
Taj Yasin menyebut, pendekatan kolaboratif menjadi kunci agar banjir yang kerap berulang di wilayah tersebut dapat ditangani secara permanen. Selain perbaikan tanggul dan aliran sungai, percepatan pemulihan rumah warga menjadi prioritas utama.
Dalam upaya tersebut, Pemprov Jateng menggandeng berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Palang Merah Indonesia (PMI), hingga organisasi kemasyarakatan.
“Tadi kami sudah komunikasi dengan Ansor. Insyaallah Banser dari Jawa Tengah dan kabupaten akan membantu tenaga untuk perbaikan rumah warga,” jelasnya.
Bantuan yang telah disalurkan antara lain program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) sebanyak 7 unit, 127 paket sembako dari Baznas Jateng, serta bantuan senilai Rp10 juta lebih dari PMI Jateng.
Warga terdampak mulai merasakan bantuan tersebut. Salah satu korban, Ma’arif (39), menyebut kondisi kini berangsur membaik dibanding saat banjir melanda.
“Alhamdulillah bantuan sudah mulai terasa, dari makanan, listrik sudah nyala, air bersih juga ada, sampai pembersihan lumpur,” katanya.
Meski demikian, kerusakan yang dialami warga tergolong parah. Rumah miliknya rusak sekitar 40 persen, sementara rumah orang tuanya hanyut tanpa sisa. Ia juga menyebut kebutuhan tenaga tambahan untuk mencari puing-puing bangunan yang tertimbun lumpur.
Sebelumnya, banjir melanda sejumlah wilayah di Demak akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang di Desa Trimulyo dan Sidoharjo pada Jumat (3/4/2026). Tanggul dilaporkan jebol di tiga titik, menyebabkan air merendam sembilan desa di empat kecamatan, yakni Guntur, Wonosalam, Karangtengah, dan Kebonagung.
Sebanyak 5.148 jiwa terdampak, dengan 2.867 jiwa sempat mengungsi. Hingga kini, tersisa 12 jiwa yang masih berada di pengungsian di Madin Sindon.
Meski sebagian wilayah telah surut, satu titik tanggul yang belum sepenuhnya tertutup sempat kembali meluap dan menggenangi Dukuh Solondoko. Perbaikan darurat pun terus dilakukan.
Taj Yasin menegaskan, pemerintah berkomitmen untuk tidak hanya menangani dampak, tetapi juga memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Yang paling utama adalah memastikan banjir ini tidak terjadi lagi. Itu yang sedang kita siapkan penanganannya secara menyeluruh,” pungkasnya.








